I Can't Without You, Baby

I Can't Without You, Baby
Bab 15



Revian mengejar Laura yang berlari darinya dan berhenti sebentar membalikkan tubuhnya saat mendengar suara dari arah belakang dan ternyata Dad Kevin yang tengah mengendong Mom Cindy keluar dari ruang kerja.


Lalu Vian kembali berlari mengejar Laura dan tiba tiba saja berhenti lagi



"Kemana Laura lari? Bukannya aku hanya berhenti sebentar, kenapa dia sudah menghilang secepat itu?" tanya Vian pada dirinya sendiri saat mendapati area tangga yang kosong dan Laura yang menghilang dengan sangat cepat.


Vian menelisik dan meluaskan pandangannya sambil terus berjalan melewati pilar pilar di lantai 3 bangunan mansion itu.


"Aaaa Aku menyerah! Jangan mengejarku lagi!" teriak Laura yang tiba tiba muncul dari balik pilar sambil mengangkat kedua tangannya, seperti pencuri yang tertangkap polisi.


Vian yang tengah berjalan hendak melewati pilar itu pun terkejut "Aku minta maaf, Aku mohon jangan membalasnya! Aku benar benar tidak sengaja menginjak kakimu!" pinta Laura diiringi dengan nafas yang terengah engah dan wajah yang dipenuhi keringat.


Vian mengusap dadanya yang baru saja terkejut dan menatap bingung pada Laura yang terlihat tengah memohon itu. Padahal Vian tidak tau kalau adiknya tengah bersembunyi di balik tiang pilar besar itu. Dia hanya ingin sekedar mengejar saja dan tidak ingin membalasnya. Tapi Laura malah sudah menyerahkan dirinya lebih dulu, dasar gadis kecil bodoh!


"Kenapa kau bersembunyi?" tanya Vian sambil mendekati adiknya yang kini tengah bersandar di tiang atau pilar besar itu.


"Aku? bersembunyi agar tak tertangkap olehmu. Tapi percuma saja jika aku terus lari, karna pada akhirnya kau akan tetap bisa menangkapku.. "


"Lalu kenapa kau malah menyerahkan diri?" Vian sambil menaikkan sàlah satu alisnya.


"Huuuft.. Aku sudah lelah! dan aku ingin menanyakan sesuatu padamu!" elak Laura


"Apa itu?"


"Apa benar minggu depan kau akan berangkat ke London?" Laura yang sejak di dalam ruang kerja ingin memotong pembicaraan tapi memilih diam karna takut Dad William dan Dad Kevin marah, kini akhirnya bisa menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran pada kakaknya itu.


"Ya!"


"Kenapa kau berangkat ke London secepat itu? Apa kau tidak ingin bersantai dan liburan sejenak dulu?" tanya Laura terus melontarkan pertanyaan yang sejak tadi mengganjal dipikirannya.


"Dad William yang memintaku! Aku harus secepatnya menggantikan posisi mereka di perusahaan kita. Lagi pula aku tidak butuh waktu untuk bersantai atau pun berlibur!" jelas Revian dengan sangat tegas sambil berjalan meninggalkan Laura.


Laura pun hanya bisa menghela napasnya dengan perasaan sedih karna jawaban dari kakaknya itu. Ia akan merasa sangat kesepian nantinya tanpa seorang kakak yang biasanya menemani hari harinya.


"Hufft.. menyebalkan sekali! Sebaiknya aku mengerjakan tugas sekolah sajalah" Laura menuruni anak tangga menuju lantai 2 dan kembali ke kamarnya.


Sedangkan Revian, ia tidak kembali ke kamar. Ia menuju ruang gym yang masih berada di lantai yang sama dengan ruang kerja, yaitu lantai tiga. Setiap hari minggu atau saat ia suntuk, Revian lebih memilih ke ruang gym untuk menenangkan pikirannya sekaligus berolahraga dan membentuk otot otot tubuhnya.


Berbeda dengan teman teman seusianya yang sedang gila gilanya keluar rumah, ngafe, ke club malam atau apalah, Vian tidak menyukai itu. Vian lebih senang menghabiskan waktu luangnya di mansion.


Karena dia tidak terlalu menyukai keramaian apa lagi berada di sekumpulan orang asing. Kecuali jika ia bersama dengan kedua teman dekatnya, Nathan dan Bryan yang kini pun mungkin tengah sibuk mempersiapkan pendidikan yang akan mereka tempuh selanjutnya.



Revian memakai sarung pelindung tangan dan memilih sepasang Barbell berukuran 15 inch atau sering disebut Dumbbell, mengangkatnya dengan kedua tangannya.


Saat tengah mengayunkan barbel itu, tiba tiba ia teringat dengan perkataan Dad William saat mereka berada di ruang kerja tadi.


"satu minggu lagi? satu hari setelah hari kelulusanku? ck.. yang benar saja! Daddy benar benar tidak memberiku waktu lagi untuk bersantai!" Revian protes dalam hatinya.


Sebenarnya ia sudah siap untuk melanjutkan pendidikannya di London, karna itu adalah salah satu syarat dari beberapa syarat yang harus dilakukan untuk menjadi pemimpin dan pewaris perusahaan keluarganya, yang merupakan impiannya sejak kecil.


Tapi kenapa harus secepat itu? Revian masih ingin menghabiskan sedikit waktunya bersama dengan teman temannya. Itu terlalu mendadak! Dia masih belum menyelesaikan permainan yang ia mainkan dengan teman temannya, seperti taruhan dan permainan adu otak dan kepintaran atau pun semacamnya.


Ia tidak menyangka jika Daddynya akan mempercepat keberangkatannya ke London. Dia masih punya waktu luang kira kira 5 bulan lagi, sampai perkuliahannya dimulai. Sebenarnya ke London lebih cepat itu bukan masalah, tapi ia masih ingin menyelesaikan urusannya dan sedikit keberatan dengan keputusan Daddynya itu, ia ingin meminta sedikit waktu, agar Daddy memundurkan hari keberangkatannya, setidaknya mundur 4 atau 5 minggu lagi.


Tapi jika ia mengatakan ketidak siapannya dengan waktu yang ditentukan Daddynya itu, Pasti Dad William ataupun ketiga orang tuanya yang lain akan menganggapnya sebagai pria yang belum dewasa karna tidak memiliki sifat tegas dan siap siaga, dan sudah pasti itu akan membuat mereka kembali mempertimbangkan dan meragukan kesiapannya, juga otomatis akan memperlambat peresmian untuk Vian benar benar dipilih menjadi pewaris perusahaan keluarganya yaitu pemimpin Omerooft.


Setelah teringat dengan perkataan keempat orang tuanya tadi, Revian sudah tidak bernapsu lagi untuk berolahraga mengangkat dan mengayunkan barbell itu, ia menurunkannya dan melepas sarung pelindung yang terpasang di kedua tangannya. Keluar dari ruangan gym dan beralih menuju ke kamarnya.


Sesampainya ia dikamarnya, ia pun berjalan menuju nakas yang berada di samping tempat tidurnya, membuka laci itu dan mengambil handphonenya.


Revian sangat bingung ingin melakukan apa, ia merasa suntuk tapi sedang malas dan tidak bersemangat untuk melakukan sesuatu. Dad William benar benar membuat moodnya rusak.


Revian merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya yang empuk itu, ia hanya menggulir gulirkan handphonenya saja, membolak balikan aplikasi yang tertera di layar handphonenya. Karena jujur saja, ia sangat jarang memainkan handphonenya kecuali ia gunakan untuk hal penting dan untuk menghubungi saja.


Ia memilih untuk membuka kalender saja, melihat tanggal dan jadwal aktivitasnya, tiba tiba ia langsung terbangun dari rebahannya.


"What?! Did they forget it?" (Apa?! Apa mereka melupakannya?) tanya Revian pada dirinya sendiri terkejut setelah melihat tanggal yang tertera pada kalender dan kembali meletakkan handphonenya ke dalam nakas, lalu bergegas berjalan keluar kamar dengan langkah yang terburu buru.


...****************...


Mohon Maafnya ya kalo masih ga jelas atau pun kurang nyambung


Aku masih belajar dan masih pemula banget


Semoga kalian maklumi ya


Jangan pernah bosen buat membaca


Biar aku makin semangat updatenya :)