
"Apa aku kembali saja untuk melanjutkan sarapanku? Tapi mau ditaruh dimana mukaku? Pasti kak Vian akan semakin mengejekku!"
"Sudah merajuknya? Ohh.. belum rupanya!" tanya Vian yang entah sejak kapan berdiri di depan pintu kamar Laura.
"Ck.. Aku lupa menutup pintu lagi pula!" gerutu Laura dengan nada pelan saat menoleh dan melihat Vian yang masuk ke kamarnya.
"**W**ait!.. Apa yang dia bawa? Apa Kak Vian sengaja membawakannya untukku?" tanya Laura dalam hati saat melihat Vian masuk ke kamarnya sambil membawa jus jeruk dan beberapa potong roti.
Vian kini ikut bergabung duduk di samping Laura, meletakkan piring dan gelasnya diatas meja yang berada tepat di depan mereka.
"Mau apa kau kesini?" ketus Laura dengan wajah yang tampak memerah karna habis menangis tadi.
"Makanlah!"
"Aku tidak lapar!" tolak Laura, lalu"kruk krukk!" suara dari perut Laura yang kembali berdemo.
"Aduhh! Perut ini tidak bisa di ajak kerja sama lagi!" guman Laura dalam hati sambil menahan perutnya dengan bantal sofa dan hanya menunjukkan senyum kikuknya.
"Makanlah! Atau aku akan meminta pelayan mengembalikan ini ke dapur!" ancam Vian sambil menahan tawanya saat mendengar suara dari perut Laura.
"Baiklah, kalau kau memaksa"
"Memaksa? Aku tidak memaksa siapapun!" tanya Vian sambil menaikkan salah satu alisnya yang dibalas anggukan oleh Laura
"Jelas jelas kau memaksaku.. Kau makanlah juga!" pinta Laura sambil memakan rotinya
"Kenapa kau menangis?" tanya vian sambil menahan tawanya saat melihat mata dan hidung Laura yang masih memerah, Dasar gadis manja!
"Aku menangis gara gara kamu! Masih nanya pula" jawab Laura dengan kesal tapi masih mengunyah makanannya.
"Gara gara aku? Memangnya apa yang telah aku lakukan?"
"Tidak ada, Tidak ada yang kau lakukan, Kau tidak pernah melakukan apapun!" jawab Laura sambil menggigit rotinya dengan sangat kuat, hingga air mata lolos ke pipinya karna menahan kekesalan dan langsung saja ia hapus menggunakan punggung tangannya.
~
Sementara itu, masih di ruang makan
"Sayang, Apa kau belum selesai sarapan?" tanya Kevin pada Cindy saat melihat istrinya itu kembali meletakkan beberapa potong roti ke piring yang baru.
"Aku sudah selesai. Aku sedang mengambilkan sarapan untuk Laura. Tadi dia belum menyelesaikan sarapannya" jawab Cindy yang kini tengah menuangkan jus jeruk ke gelas
"Aku akan menyusul William ke kamarnya. Apa kau mau ikut?"
"Iya, aku ikut. Tapi kita mengantarkan makanan ini ke kamar Laura lebih dulu." tutur Cindy yang di balas anggukan oleh Kevin dan mereka berjalan bersama menelusuri anak tangga.
"Kau duluan saja, nanti aku menyusul" ucap Cindy pada Kevin, saat mereka sudah berada di dekat kamar Laura.
"Be quick!" (cepat) titah kevin sambil menganggukan kepalanya, lalu"cupp!" mengecup pipi sang istri sambil tersenyum dan di balas oleh Cindy yang juga mengecup sekilas pipi sang suami "cupp!" "Yes My dear!" (iya sayangku) jawab Cindy sambil tersenyum dan kevin yang berjalan menuju kamar William.
Lalu kembali mengedarkan matanya dan menangkap putrinya ternyata tengah memakan sarapan bersama revian duduk di sofa yang berada di sudut kamar dan membelakangi arah pintu. Hingga mereka tidak menyadari keberadaan Mom Cindy yang juga sengaja berjalan dengan sangat pelan.
"Iya iya, aku tau, kau menangis karna aku. I'm sorry" ucap Revian dengan tersenyum sambil mengusap kepala Laura.
Lalu"umphh!" Laura menyumpal mulut vian dengan roti yang ada ditangannya.
Laura tertawa kecil melihat Vian yang nampak terkejut dan mengunyah roti dengan ukuran besar yang membuat pipinya seperti mengembang "Haha, Look at you! You look so adorable!" (Lihat dirimu! Kau terlihat sangat menggemaskan!) ucap Laura sambil mencubit pipi Vian.
Lalu "uhuk uhukk!" Vian tersedak hingga matanya memerah karna roti yang memenuhi mulutnya.
"Kak Vian, are you okey?" tanya Laura yang panik sambil mengusap usap punggung Vian.
"Hurry up drink this!" (Cepat minum ini!) ucap seseorang yang nampak sedang menyodorkan jus jeruk yang berada tangannya pada Vian.
"M-mom, since when were you here?" (Mom, Sejak kapan ku disini?) tanya Laura yang terkejut saat Mom Cindy yang entah sejak kapan berada di kamarnya.
"Laura, You can't be so mean to your brother!" (Laura, Kau tidak boleh bersikap jahil seperti itu pada kakakmu!) tegur Mom Cindy pada Laura, lalu beralih pada Vian.
"Vian, are you okay?" tanya Mom Cindy pada Vian yang terlihat sudah selesai meminum jus jeruk yang diberikannya tadi sambil ia mengusap usap punggung vian.
"He can be like that to me, in fact most of the time. Why can't I?" (Dia saja boleh seperti itu padaku, bahkan hampir setiap saat. Kenapa aku tidak boleh?) tanya Laura pada Mom Cindy dengan memasang wajah kesalnya saat melihat Vian justru malah tertawa kecil menatapnya dengan mata yang masih memerah karena tersedak tadi.
"Vian is your brother. And he is older than you" (Vian adalah kakakmu. Dan dia lebih tua daripada kamu) jelas mom cindy pada Laura sambil mengusap usap kepala putrinya.
"Oh come on, mom! But he.." (Oh ayolah, mom! Tapi dia...) belum sempat Laura protes.
Lalu "Laura.. Kau boleh bercanda. Tapi yang kau lakukan membuat kakakmu tersedak. Dan itu berbahaya.. "
"Okay, I'm sorry.." ucap Laura yang menundukkan kepalanya sambil menggenggam jari jari tangannya sendiri dengan sangat erat.
"It's okay, Laura" ( Tidak apa apa, Laura) Jawab Vian sambil tersenyum tipis saat melihat adiknya yang terlihat menyesali perbuatannya, tapi Vian langsung saja membatalkan senyumannya.
"Of course you're okay, I'm just feeding you bread not poison!" ( Tentu saja kau baik baik saja, Aku hanya menyuapimu roti bukan racun!) sela Laura sambil mengerucutkan bibirnya tanpa menatap Mom Cindy dan kakaknya.
"I guess you're really sorry?" (Aku kira kamu benar benar minta maaf?) tanya Revian pada Laura sambil menaikkan salah satu alisnya.
"hmm, I'm sorry" (Maafkan aku) Ucap Laura sambil kembali menundukkan kepalanya.
Lalu "kruk kruukk!" bunyi yang berasal dari perut Laura yang kembali berdemo karna belum terisi dengan penuh.
"Oops.. I'm still hungry. I'm sorry again!" (Uups.. Aku masih lapar. Maafkan aku lagi!) ucap Laura dengan wajah yang terkejut dan terlihat menahan malu sambil reflek menahan perutnya dengan kedua tangannya.
Kemudian "uumphh!" dengan cepat Laura menyumpal mulutnya dengan roti sambil tersenyum dengan pipi yang telihat mengembang karena dipenuhi roti.
"ahahah.." sontak membuat Mom Cindy dan Revian yang melihat tingkah Laura langsung tertawa dan menggeleng gelengkan kepala secara bersamaan.