I Can't Without You, Baby

I Can't Without You, Baby
Bab 8



"Habiskan yang ini juga ya. Mom pikir kamu masih lapar, jadi aku membawakan makanan ini untukmu.." ucap Mom Cindy sambil menunjuk ke arah roti dan jus yang sudah ia bawakan, namun hanya dibalas oleh Laura yang terlihat mengangguk anggukan kepalanya dengan asiknya sambil mengunyah roti.


"Tapi ternyata kakakmu sudah lebih dulu memberikan makanannya untukmu"


"Kak Vian memberikan makanannya untukku? apa yang dikatakan Mom Cindy benar? sepertinya disini akulah yang terlalu berburuk sangka pada kak Vi**an.. ternyata dia memang sebaik itu padaku.." guman Laura dalam hatinya sambil menatap dan melihat Vian yang terlihat tengah fokus meminum jus jeruk yang dibawakan oleh Mom Cindy tadi.


"Okay, Mom tinggal dulu ya. Jangan bertengkar lagi!"


"Of course, mom! Thank you!" (Tentu saja, mom! Terimakasih!) jawab Vian dan Laura secara bersamaan sambil menatap Mom Cindy yang berjalan menjauh.


"You're welcome, My darling's!" (terima kasih kembali, Sayang sayangku!" balas Mom Cindy tanpa menatap kearah mereka dan terus berjalan.


"Thank you!" (terimakasih!) ucap Laura pada Vian setelah menyadari mom Cindy yang sudah keluar dari kamarnya.


"For who?" (untuk siapa?)


"For you!" (untuk kamu!)


"For what?" (untuk apa?)


"Ck.. Of course, For this!" (tentu saja, untuk ini!) ucap Laura lagi sambil mengangkat piring berisikan roti yang dibawakan oleh Vian tadi yang kini kosong karena telah dimakan habis oleh Laura


"huuft!"


"Maksudku, terimakasih untuk ini! Terimakasih karna sudah mau repot repot membawakan makanan ini khusus untukku!" seru Laura dengan senyum bersemangat sambil menggandeng dan mengayun ayunkan lengan Vian yang masih duduk di sampingnya.


Sementara itu, Mom Cindy yang sudah sampai di depan pintu kamar William untuk menyusul suaminya, malah melihat suaminya kini sudah keluar dan sedang menutup pintu kamar kakak iparnya itu.


"Sayang, kenapa kau keluar? Apa kalian sudah selesai bicaranya? Atau William mengusirmu? Maaf, karena terlalu lama menyusulmu.." rentetan pertanyaan keluar dari mulut Cindy dengan lancarnya.


"Sayang, kenapa kau diam saja? Hmm maaf, karna membiarkanmu diusir sendirian tanpa aku. Ayo kita masuk lagi, kita akan diusir bersama setelah itu. Ayo, sayang!"


"Sayang, aku diam karna aku bingung, pertanyaan mana yang harus aku jawab lebih dulu. Pertanyaanmu sangat banyak, honey.." jawab Kevin sambil melepaskan lengannya dari gandengan istrinya, lalu menangkap pinggang Cindy dan mendekapnya dengan sangat mesra.


"Oh ya, my dear? Hmm look at you! You look so adorable" (Benarkah sayangku? Hmm lihat dirimu! Kau terlihat sangat menggemaskan!) balas Cindy yang kini tengah menangkup wajah Kevin dengan kedua tangannya sambil mengusap pipi suaminya itu dengan ibu jarinya.


"Kalau begitu, ayo kita cari William! Aku pikir tadi dia sedang bermesraan dengan istrinya, jadi aku berpikir untuk memergoki mereka, tapi ternyata mereka tidak ada dikamar!" jelas Kevin pada Cindy yang tengah tersenyum padanya sambil mengencangkan dekapannya hingga tidak ada jarak diantara mereka.


"Jadi dimana mereka bermesraan? Kenapa mereka tidak mengajak kita? Apa mungkin mereka berada diruang gym?" tanya lagi Cindy sambil menggelantungkan lengannya dileher suaminya dan dijawab Kevin dengan menaikkan turunkan bahunya yang berarti tidak tau.


"Pelayan, dari mana kau? Bukankah kau diminta oleh Alice untuk mengantarkan sarapan ke kamarnya? Apa mereka diruang gym?" tanya Kevin pada pelayan yang baru saja selesai menuruni tangga dari lantai tiga tanpa melepaskan dekapannya pada sang istri.


"Maaf tuan, tapi nyonya besar dan tuan besar tidak ada dikamar. Mereka tidak diruang gym, mereka berdua ada diruang kerja, jadi aku mengantarkan sarapannya keatas, tuan..."


"Apa yang mereka sedang lakukan diruang kerja? Bukankah ini hari libur? Atau mereka sedang bermesraan disana? atau jangan jangan mereka sedang merencanakan liburan tanpa mengajak kita?" tanya Cindy dengan beberapa pertanyaan pada pelayan yang nampak bingung.


"Aku tidak tau nyonya. Tapi tadi saat aku mengantarkan sarapan, nyonya Alice hanya berdiam saja duduk di sofa bersama dengan Tuan William yang tengah sibuk pada laptopnya..." Jawab pelayan pada Cindy, namun belum juga pelayan itu menyelesaikan perkataannya, Cindy sudah kembali menyela


"Yes, honey. Now let's follow them to the work room!" (Iya, sayang. Sekarang ayo kita menyusul mereka ke ruang kerja!) jawab Kevin sambil melepas rangkulannya dan menggandeng sang istri berjalan menuju anak tangga ke lantai tiga.


"Kalau sudah tidak ada lagi yang ingin nyonya dan tuan tanyakan, saya permisi kebawah tuan, nyonya"


~


Sementara itu masih dikamar Laura, Laura yang masih menggandeng lengan Vian setelah mengucapkan terimakasih pada kakaknya yang menurutnya hari ini ternyata sangat perhatian padanya.


"Ck.. Kau itu terlalu percaya diri!" ucap Vian pada Laura sambil melepas gandengan Laura dari lengannya.


"What do you mean?" (Apa maksudmu?) tanya Laura yang masih setia dengan senyumannya.


"Kau mengira bahwa aku mau repot repot membawakan makanan untukmu?" tanya balik vian pada Laura.


"Bukankah seperti itu yang dikatakan mom Cindy? Kau sangat perhatian dan peduli padaku, sampai sampai kau membawakan aku makanan dari bawah ke kamarku hanya agar aku tidak kelaparan, berarti kau benar benar menyayangiku!"


"Ck.. Tentu saja aku menyayangimu! Kau adalah adikku, Bodoh!" Vian berdecak dalam hati, menggerutui kebodohan adiknya


"Sudah aku bilang padamu, kurangi rasa percaya dirimu itu!" jawab Vian sambil menoyor kening Laura yang tengah bersandar dibahunya.


"Benar, aku membawakan makanan ini dari bawah ke lantai atas. Tapi untuk aku makan dikamarku sendiri. Dan sialnya saat aku melewati kamarmu, aku mendengar rintihan anak kecil yang kelaparan, ternyata aku melihatmu sedang memasang wajah seperti seorang pengemis yang sangat membutuhkan makanan. Jadi terpaksa dengan berat hati, aku menyumbangkan makananku untukmu!" jelas Vian sambil menahan tawanya pada Laura yang kini terlihat sangat kesal


"Kau menyebalkan! Aku akan mengadukanmu pada Mommy Alice!" kesal Laura sambil menghentak hentakkan kakinya ke lantai


"iihh!" Laura yang bertambah kesal kini memukuli tubuh Vian dengan bantal sofa yang ada disampingnya


"Tidak sakit" jawab vian sambil tertawa kecil melihat Laura yang sangat kesal


"iiihhhh!" "Rasakan ini!" ketus Laura sangat kesal pada Vian sambil masih memukul Vian dengan tenaga yang lebih kuat


"aaww!" "Sudah, iya iya ampun!" pinta Vian yang masih terus tertawa pada Laura.


Rasanya sangat bahagia bisa mengerjai dan membuat kesal adik satu satunya itu.


~


Disebuah ruang kerja yang sangat luas dan mewah dengan desain American Classic berwarna putih, emas, dan hitam.


Kevin dan Cindy baru saja sampai di ruang kerja "Aku pikir kalian berdua sedang bermesraan?" tanya Cindy pada Alice yang tengah menyuapi William dengan roti.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya kevin pada sang kakak, saat melihat William yang terlihat sangat sibuk dengan laptop nya itu.


"Aku sedang mengurus file dan berkas berkas perpindahan, agar Vian bisa segera pergi dari mansion ini!"


"W-wwhat?!" tanya Kevin dan Cindy yang terlihat sangat terkejut secara bersamaan.