I Can't Without You, Baby

I Can't Without You, Baby
Bab 30



Disebuah kamar yang luar berwarna hitam putih, seorang pemuda tampan tengah fokus berbicara dengan kedua sahabatnya melalui sambungan video call ponsel.


[Aku akan mengambil jurusan arsitektur!"]


[Oh ya? Aku pikir kau ingin menjadi guru matematika!"] seloroh Nathan menjawab perkataan Bryan.


[Ahli matematika bukan berarti harus menjadi guru matematika!"]


[Bagaimana dengan kau? Jurusan apa?]


[Of course, farmasi! Memangnya apalagi?] seru Nathan dari balik ponsel


[Siapa tau kau ingin meneruskan jejak grandmamu?]


[No way! Aku tidak ingin jadi dokter. Aku akan meneruskan perusahaan grandpa!]


[Hei Vian! Dimana kau? Apa kau ketiduran?]


[Aku masih disini!]


[Dari tadi kau tidak menampakkan wajah. Tunjukkan wajahmu! Cepatlah, kami ingin lihat sebelum kau pergi ke London!]


[Wow! Apa yang terjadi dengan wajahmu? Apa kau memasang tatto? Atau kau memakai riasan wajah?]


[Kau terlihat keren seperti itu. Seperti anak punk, haha!]


ejek Bryan dan Nathan melihat wajah sahabatnya yang ungu gelap dipelipis mata dan juga di sudut kiri bibirnya


[Ck.. Ini hadiah dari Daddyku karna membawa Laura ke club malam!]


[Kau tau Vian? Melihat cara Daddymu menghukumku, aku merasa bersyukur tidak mempunyai Daddy dan Mommy, haha] Kata Nathan dengan santainya, ia sudah berdamai dengan alam sejak kecil.


[Kau ini bicara apa!]


[Kau tidak boleh membandingkan orang tuamu dengan orang tua orang lain. Cara mereka mendidik berbeda beda!] Bryan tak terima dengan perkataan Nathan dan juga sedih dengan nasib sahabatnya itu.


tok.. tokk..


"Permisi tuan... Tuan dan nyonya memanggil anda, mereka menunggu anda dibawah"


"Iya, Aku akan segera kesana!"


[Sudah dulu.. Aku harus bersiap, sebentar lagi aku akan berangkat!]


...


*


*


Setelah bersiap Revian bergegas kebawah, bergabung dengan mereka yang mungkin sedang menunggunya.


"Yes, mom. Better than yesterday!" (lebih baik dari kemarin!)


"Of course, Kau pemuda tangguh!" hibur Mom Cindy


"Dimana Laura?" tanya Mom Cindy pada pelayan yang ia suruh untuk memanggil Vian dan Laura.


"Nona Laura sedang mandi, nyonya.. Katanya nona akan segera menyusul"


"Moms.. Dads.." sapa Laura yang baru saja datang. Namun di hiraukan oleh Dad Kevin dan Dad William, karena mereka yang terlihat berbincang serius dengan ketua pelayan dan security mansion, entah membicarakan apa.


"Sayang, are you okay? Kau sudah sembuh?" tanya Mom Cindy pada Laura.


"I'm Okay, mom!"


"Dia kenapa?" tanya Revian pada Mom Alice dan Mom Cindy.


"Kemarin adikmu demam.. Sama sepertimu, sayang!" jawab Mom Alice pada Revian


"Kau demam?" Revian bertanya pada adiknya.


"Kakak juga?" Laura pun menjawab dengan bertanya juga.


"huuft!" Kakak beradik itu menghela nafasnya, lalu menjawab dengan anggukan bersamaan, meratapi kebiasaan mereka yang belum bisa dihilangkan.


"Kalian tidak pernah berubah! Masih sangat kompak untuk hal yang seperti itu!" sambung Mom Cindy sambil bergantian mengusap kepala Revian dan Laura.


Ya, Dua hari yang lalu setelah Revian dipukuli oleh Dad William dan Laura yang menyaksikannya gemetar ketakutan, keesokan harinya mereka belum bangun juga bahkan hinga pukul 11 AM, tadinya Alice dan Cindy pikir mereka hanya kelelahan, ternyata mereka demam.


Dari kecil, setiap mereka membuat ulah atau masalah, pasti akan selalu dimarahi dan dihukum oleh Dad William. Dan keesokan harinya pun mereka pasti akan demam karna saking ketakutannya dengan Dad William yang sangat mengerikan saat sedang marah atau lebih tepatnya saat sedang memarahi mereka.


"Emm.. Jam berapa kakak akan berangkat?"


"Sebentar lagi.. Jangan membuat masalah selagi aku tidak ada! Tidak Ada yang menemanimu!" Revian menasihati adiknya.


"Iya, tidak akan!" Jawab Laura sambil tersenyum, "Aku akan merindukanmu, kak!" bilang Laura sambil mencium pipi Revian.


"Aku juga!" balas Revian, kemudian mencium pucuk kepala adiknya.


Membuat Mom Alice dan Mom Cindy tersenyum melihat interaksi mereka yang terlihat sangat harmonis hanya disaat saat tertentu saja, seperti saat ini salah satunya.


"Tidak perlu merindukannya!" Tegas Dad William, bahkan suaranya memecah senyuman mereka.


"Untuk apa merindukannya?" sambung Dad Kevin.


Mendengar perkataan kedua Dadnya, membuat mereka terdiam tegang.


"Ya, kami tidak akan merindukanmu!" Mom Cindy pun ikut ikutan.


Membuat kakak beradik itu hanya bisa menatap Dad William, Dad Kevin, dan Mom Cindy dengan tatapan bingung dan sedih bercampur aduk. Bingung kenapa mereka tega mengatakan seperti itu. Dan Sedih karena mereka tega mengatakan seperti itu.