I Can't Without You, Baby

I Can't Without You, Baby
Bab 16



Hari minggu, hari libur telah berakhir dan berganti dengan hari senin atau orang orang sering juga menyebutnya dengan hari paling sibuk.


Dan itu memang benar adanya, kemarin baru saja keluarga Abayomer berkumpul dan berdebat bersama. Hari ini mereka semua sudah kembali dengan kesibukkannya masing masing.


Laura pun sudah bersiap dengan pakaian rapi seragam sekolahnya, sambil membawa tasnya menuruni anak tangga berjalan menuju ruang makan untuk sarapan terlebih dahulu. Setelah itu seperti biasa, Laura akan berangkat sekolah bersama dengan Dad kevin yang juga akan berangkat ke kantor.


"Kemana mereka? Apa mereka belum siap? Atau aku yang bangun terlalu pagi?" tanya Laura pada dirinya sendiri saat melihat ruang makan yang masih kosong.


Laura beralih mengambil ponselnya yang berada di saku kemeja sekolahnya dan melihat ke layar ponselnya untuk mengetahui jam berapa sekarang.


"Pukul 07.00 AM? Aku pun biasanya selesai bersiap jam segini. Tidak biasanya mereka kesiangan.." guman Laura yang masih duduk di antara kursi kursi kosong tapi belum beranjak untuk memulai sarapannya.


"Nona muda, mau aku ambilkan rotinya?" tanya salah satu pelayan pada Laura yang tengah mengetuk ngetuk meja makan dengan garpu.


"Tidak usah, nanti saja" jawab Laura yang kini mulai berdiri dari duduknya.


"Nona, kau mau kemana?"


"Aku mau memanggil kedua mommyku, kedua daddyku dan kakakku. Tidak biasanya mereka belum turun jam segini" Laura sambil melangkah hendak pergi dari ruang makan itu.


"Maaf nona, tapi tuan besar William dan tuan Kevin mereka sudah berangkat ke kantor bersama dengan tuan muda Revian sejak pagi pagi sekali!" Jelas pelayan itu sambil sedikit menundukkan kepalanya.


"Kenapa tidak memberi tau dari tadi? Apa kalian tau ada apa mereka berangkat sepagi itu?" tanya Laura pada tiga pelayan yang tengah berdiri tidak jauh darinya.


"Kami tidak tau nona" jawab tiga pelayan itu dengan bersamaan.


"issh, sepenting apa sih? Bahkan Daddy sampai tega meninggalkan aku!" Laura kesal dengan Dad Kevin.


Laura kesal dengan Dad Kevin yang tidak berpamitan dan meninggalkannya. Padahal kan bisa saja Dad Kevin memberi taunya sejak malam atau membangunkannya lebih awal, pasti dia akan bersiap lebih pagi dan selesai lebih cepat.


Laura mengambil ponsel yang berada di saku kemeja sebelah kanan dadanya dan menelpon daddynya


📞 Dad Kevin Calling.....


[Halo sayang, kau belum berangkat ke sekolah?]


[Belum! Kenapa daddy tidak membangunkan aku? Kenapa kalian meninggalkan aku? Bagaimana aku akan berangkat ke sekolah?]


[Maaf ya.. Daddy tidak bisa mengantarmu ke sekolah. Kami ada meeting penting, jadi tidak sempat membangunkanmu.. Dan juga mungkin kami akan pulang malam. Untuk hari ini, Laura diantar jemput sopir dulu ya? Daahh sayang...]


[Tapi-...]


"iihhh! daddy tega sekali!" kesal Laura sambil menghentak hentakkan kakinya, belum juga selesai dia bicara, Dad Kevin sudah mematikan sambungan telponnya.


Laura tidak hanya kesal karna sambungan telponnya dimatikan begitu saja, tapi juga karna Dad Kevin yang jelas jelas tau betul kalau dia tidak suka di antar dengan sopir ke mana pun.


"Aha! Aku minta antar mommy sajalah!" dari pada di antar sopir, Laura berinisiatif untuk minta diantar mommynya, Laura kini berjalan hendak menuju tangga untuk memanggil Mom Cindy yang mungkin masih berada dikamar di lantai 2.


"Maaf nona, tapi nyonya Cindy dan nyonya Alice juga tidak sedang ada di mansion ini, nona!" sahut pelayan dengan sedikit berteriak karna Laura yang sudah mulai menjauh.


"Ha?" Laura yang hendak menaiki tangga kembali membalikkan tubuhnya, Laura melihat pelayan dengan wajah bingung.


"Nyonya Cindy dan Nyonya Alice juga pergi sejak pagi pagi sekali, katanya ada acara mendadak bersama dengan teman temannya, jadi Nyonya tidak sempat membangunkan nona.."


"Maaf nona, Nyonya bilang untuk kami memberi taukan pada nona hanya saat nona bertanya saja. Dan Nyonya atau pun tuan tidak ada yang menyuruh kami untuk membangunkan nona, karna-" salah satu pelayan yang belum selesai menjelaskan terpotong oleh Laura.


"What?! Bahkan mereka semua pergi meninggalkan aku sendiri disini" sela Laura yang terkejut kini mengambil ponsel yang berada di saku seragam sekolahnya dan mengusapnya dengan kasar, menekan nomor Mommy Cindy.


📞Mom Cindy calling...


❌not answered!


"issh.. tidak di angkat!" kesal Laura kini beralih menekan nomor Mom Alice


📞Mom Alice calling....


❌ rejected!


"Iihh! Mom menyebalkan sekali!" sambil menghentak hentakkan kakinya ke lantai,


Laura bertambah kesal dan juga bercampur kecewa, ia benar benar tidak menyangka Mom Alice akan menolak telpon darinya.


Laura kembali menghubungi momnya tapi tidak diangkat juga "Mungkin mereka memang sedang sangat sangat sibuk" Laura berbicara pada dirinya sendiri dengan suara yang terdengar kecewa.


"Permisi nona, di ruang tengah ada sopir, sedang menunggu nona" suara pelayan memecahkan lamunan Laura.


Laura pun berjalan menuju ruang tengah "What's wrong?" (Ada apa?) tanya Laura pada sopir yang tengah menunggunya itu.


"Aku tadi menunggu nona cukup lama di depan tapi nona belum juga muncul, jadi aku berinisiatif menghampiri nona, Maaf nona jika aku lancang masuk" sopir itu menjelaskan sambil sedikit menundukkan kepalanya.


"Kenapa menunggu aku?" tanya Laura lagi yang pura pura tidak tau, jika sopir itu jelas jelas yang akan mengantarnya.


"Tuan Kevin meminta aku untuk mengantar nona ke sekolah" jawab sopir itu dengan jujur.


"Bagaimana ini? Aku tidak mau diantar sopir!" gumam Laura dalam hatinya dengan ke khawatirannya sambil mempikirkan alasan untuk menolak.


"Oh ya, kan masih ada Kak Vian, tidak mungkin ikut sibuk juga kan? Kalau pun dia juga sibuk, aku akan libur sekolah sajalah untuk hari ini!" Laura yang tadinya lesu dan kesal kini bersemangat setelah mendapat alasan baru.


Entahlah, dari dulu sejak Laura berumur 6 tahun dan duduk dibangku sekolah dasar, anak kecil itu tidak pernah mau di antar sopir kemanapun dengan alasan takut dan merasa tidak aman.


Tapi sekarang sudah berbeda, bahkan anak kecil itu sudah berusia hampir 15 tahun, sudah mulai beranjak menjadi gadis kecil. Tapi dia tidak berubah, bahkan ia menggunakan alasan baru, yaitu merasa tidak nyaman berada dalam satu ruangan dengan orang lain di usianya yang mulai remaja karna takut orang lain itu akan mencelakakan gadis cantik sepertinya.


Padahal sopir sopir di mansionnya itu tidak pernah memperlakukannya dengan buruk ataupun tidak senonoh, mereka memperlakukan Laura sebagai mana anak buah kepada anak majikannya.


Laura mencari nomor Vian dan langsung menelponnya itu dengan penuh semangat. Tentu saja, agar kakaknya itu yang akan mengantarnya dan ia tidak akan diantar oleh sopir.


📞Kak Vian calling...


Laura yang tadinya sedikit khawatir jika kakaknya itu akan menolak telponnya sama seperti Mom Alice, kini langsung tersenyum karna ternyata Vian mengangkat telponnya dalam hitungan detik.


[Hallo Kak Vian, Aku mau-]


[Hei Anak Kecil, Berhenti membuang waktuku! Aku tidak ada waktu untukmu! Aku sedang sangat sibuk! Kau mengganggu pekerjaanku!]


-