
[Hei Anak kecil, berhenti menggangguku! Aku tidak ada waktu untukmu! Aku sedang sangat sibuk! Kau mengganggu pekerjaanku!]
tut tutt..
Setelah drama yang dialaminya sebelum berangkat ke sekolah, akhirnya mau tak mau Laura berangkat ke sekolah diantar sopir dengan perasaan sedih.
Salah satu pelayan yang tengah memastikan nonanya sudah berangkat bersama sopir pun langsung bergegas menaiki tangga menuju ruang bersantai majikannya yang berada di ada lantai 2.
Jika Laura berangkat sekolah dengan perasaan sedih, berbeda dengan mereka yang tengah melakukan kegiatannya dengan gembira sambil sesekali diiringi canda tawa.
"Permisi tuan, nona muda baru saja berangkat ke sekolah bersama dengan sopir, tuan" ucap pelayan itu pada tuannya yang terlihat tengah sibuk.
"Iya, terimakasih!" jawab Kevin tanpa melihat kearah pelayan dan masih fokus dengan kegiatannya.
"Apa ada yang bisa saya bantu tuan, nyonya?" tanya lagi pelayan itu, setelah melihat para majikannya yang membuat seisi ruangan itu berantakan, apalagi nyonya Cindy dan tuan Kevin yang masih sempat asik bercanda dan bermesraan tapi juga sambil terlihat begitu repot dan kesusahan.
"Iya, tolong kau bantu-" ucapan Cindy terpotong oleh William.
"Tidak perlu! Biar kami melakukannya sendiri. Kau pergilah!"
"Sayang! lihat William! Dia tidak mengizinkan pelayan untuk membantu kita! aku sangat lelah sayang.." adu Cindy pada Kevin sambil bersandar dibahu yang ada suaminya yang tengah sibuk menggunting.
"Kita akan lelah bersama sama sayang!" jawab kevin sambil mengelus pipi wanita yang di cintainya itu.
"Oh my god! Kau menyebalkan!" Cindy merajuk dan pergi meninggalkan Dad Kevin yang tengah duduk, kemudian berjalan menuju Revian yang tengah berada di balkon bersama dengan Mommy Alice.
Sementara itu, Revian dari atas balkon melihat mobil yang sudah keluar mansion untuk mengantar Laura ke sekolah dan ia pun tadimelihat Laura yang berjalan menuju mobil dengan langkah kaki guntai dan wajah yang tertunduk menandakan bahwa adiknya itu sedang sangat malas, hingga membuatnya tertawa apalagi setelah ia memarahi adiknya di telpon tadi padahal Laura belum sempat mengatakan satu kalimat pun.
"Oh come on, Mom! Ini seru!" Revian sambil kembali tertawa, lalu membayangkan jika adiknya itu pasti ingin menangis dan kesal setelah mendengar perkataannya dari balik sambungan telpon tadi.
"Tidak apa, Alice! Revian benar!" potong Cindy sambil berjalan menuju mereka.
"Kalian ini!" Mommy Alice menggeleng gelengkan kepalanya, heran dengan Cindy yang malah mendukung rencana putranya untuk mengerjai Laura.
"Sudah sudah, ayo masuk! Pekerjaannya tidak akan selesai jika kalian berdua hanya berdiam diri di sini saja!" Cindy menggiring Ibu dan anak itu agar meninggalkan balkon dan ikut bergabung bersama mereka.
*
*
*
Bel berbunyi, menandakan bahwa jam istirahat di mulai. Siswa siswi berkeluaran dari kelasnya, ada yang buru buru ke toilet, ada yang bertemu dengan kekasih atau teman beda kelasnya, ada yang langsung ke kantin untuk mengisi perut dan kegiatan lainnya.
Disebuah kantin di sekolah menengah pertama nan elite, terdapat siswi cantik berambut pirang yang tengah mencari bangku kosong sambil membawa bekal dan minumnya.
"Hei! Adik cantik!" teriak salah satu siswa laki laki bersama dengan dua temannya berjalan menghampiri siswi cantik yang baru saja duduk itu.
"Hei, kau pura pura tuli atau memang tak mendengar aku?" tanya siswa itu dengan sedikit menyentak sambil menarik rambutnya hingga siswi cantik itu sedikit mendongak ke atas.
"Aaww! sakit!" rintih Laura sambil mengusap usap kepalanya.