I Can't Without You, Baby

I Can't Without You, Baby
Bab 10



"Kenapa daddy memanggilku?"


"Aku tidak tau, tuan muda" jawab pelayan.


"Tak usah banyak tanya, Dad William sudah menunggu. Ayo kita kesana, aku ikut!" sela Laura pada Vian sambil berdiri dari duduknya.


"Hey, dad William hanya memanggil aku. Berarti ini urusan orang dewasa, dan kau masih dibawah umur, anak kecil tidak boleh ikut campur!"


"iihhh!" Laura yang kesal hendak menendang Vian, "tidak kena!" seru Vian yang mengelak, namun "aaww!" tendangan Laura meleset dan malah menendang meja, karna Vian yang mengelak.


"praakk!" piring dan gelas yang ada dimeja pun terjatuh dan pecah karna Laura yang menendang meja.


"Nona muda.." "Laura! Are you okay?" (Laura! Apa kamu tidak apa apa?) Vian yang berdiri langsung berjongkok menghampiri Laura yang terduduk begitu juga dengan pelayan.


"I'm okay.. I'm really sorry again.." (Aku tidak apa apa.. Aku benar benar minta maaf lagi..)


"Let me help you!" (biarkan aku membantu kamu) pinta Laura pada pelayan yang tengah memumuti pecahan piring.


"Tidak usah, nona! Biar aku yang melakukannya.."


"Berdirilah! tidak perlu membantunya!" Vian menarik lengan Laura agar berdiri, saat melihat Laura yang masih terduduk di lantai dan malah hendak ikut memumuti pecahan piring.


"Tapi ini adalah kesalahanku.." jawab Laura yang sudah berdiri sambil menundukkan pandangannya melihat pelayan yang tengah membersihkan pecahan piring.


"Ini sudah menjadi tugasku, nona" jawab pelayan itu agar nona mudanya tidak merasa bersalah ataupun tak enak hati.


"You hear, right? Come on with me! We go to work room!" (Kau dengar, kan? Ayo ikut denganku! Kita ke ruang kerja!) titah Vian sambil menarik tangan Laura agar keluar dari kamarnya.


"Aku tinggal ke ruang kerja dulu ya.. Kau tidak apa apa kan?" tanya Laura dengan sangat lembut pada pelayan yang tengah berjongkok itu.


"Iya nona muda, aku tidak apa apa.." jawab pelayan sambil melihat nonanya yang sudah ditarik keluar dari kamar itu, dan langsung melanjutkan pekerjaan nya.


"Kau begitu berani denganku yang jelas jelas kakakmu, tapi kau begitu rendah hati dengan para pelayan! sudah aku katakan berapa kali padamu, mereka itu pelayan dan sudah menjadi tugas mereka untuk melayani kita!" ucap Vian dengan sangat tegas pada Laura yang tengah berjalan disampingnya.


"Iya aku tau, Aku hanya tidak tega saja. Itu adalah kesalahanku dan aku merasa selalu menyusahkan mereka, aku hanya ingin sedikit membantu.." jawab Laura dengan sangat lembut sambil menggandeng lengan Vian.


"Kau tidak menyusahkan mereka, dan kau tidak perlu membantu mereka! Kau dengar?" titah Vian pada Laura sambil mengusap usap kepala adiknya itu.


"entahlah, kau itu baik atau bodoh!" guman Vian dalam hatinya dengan ekspresi wajah yang tak terbaca.


"Iya, kakakku yang paling tampan!" ucap Laura sambil sedikit berteriak hingga membuat Vian sedikit tersenyum, lalu "cup!" Laura mengecup pipi Vian dan langsung berlari.


"iuuhh! Laura!" teriak Vian sambil mengelap pipinya dengan tangannya seolah olah jijik dan berlari mengejar Laura.


"wlee!" laura menjulurkan lidahnya sambil tertawa dan "run! Kakakku berubah menjadi orang gila yang mengamuk!" (lari!) Laura menelusuri tangga ke Lantai tiga dengan berlari.


"Hey, mau kemana kau? jangan lari anak kecil!" teriak Vian sambil terus mengejar Laura.


"Oh ya ampun.. dimana ruang kerja?" Laura yang ngos ngosan sampai lupa dimana letak ruang kerja, ia menoleh ke kanan dan ke kiri "ah disana rupanya!" jawab Laura sambil menepuk jidatnya dan kembali berlari menuju ruang kerja.


"Laura, what's wrong? What happened to you?" (Laura, ada apa? Apa yang terjadi padamu?) tanya Cindy dan Alice secara bersamaan saat melihat Laura yang tiba tiba datang dengan wajah penuh keringat dan nafas yang ngos ngosan.


"Mom, Dad, kalian juga ada disini?" bukannya menjawab Laura malah balik bertanya pada Cindy dan Kevin, sambil mengusap wajahnya yang penuh keringat dan langsung menghampiri mereka.


"cup! cupp!" Laura bergantian mengecup pipi Cindy dan Kevin, dan ikut bergabung duduk di tengah tengah kedua orang tuanya.


"Laura, kau kenapa?" tanya William pada Laura yang kini tengah bersandar dibahu Kevin dan terlihat memejamkan matanya sambil mengatur nafas.


"I'm sorry, Dad William. Tapi aku sudah lolos dari kejaran Kak Vian!" jawab Laura dengan tersenyum sambil melihat kearah dad William tanpa merubah posisinya yang masih bersandar dibahu dad kevin.


"Apa yang kalian.." belum juga Dad Kevin menyelesaikan perkataannya, tiba tiba dari arah pintu "Huhh, tunggu aku anak kecil!" teriak Vian dengan nafas sedikit ngos ngosan, berdiri di depan pintu ruang kerja yang terbuka.


"Laura, jangan sembunyi kau!" teriak Vian lagi dengan nafasnya yang naik turun dan langsung terdiam sambil mengatur nafasnya didepan pintu saat dia menyadari sudah diruang kerja dan melihat ternyata semuanya sedang berkumpul diruang kerja.


"Mom Cindy, Dad Kevin, kalian juga disini?" tanya Vian saat melihat mom Cindy dan dad Kevin juga berada diruang kerja yang kini tengah menatapnya.


"Ada apa Daddy memanggilku?" tanya Vian lagi, saat melihat keempat orang tuanya tengah memasang wajah serius.


Tidak ada jawaban dari mereka, Vian ikut bergabung duduk disofa kosong bersama mereka. Revian memilih untuk menyandarkan kepalanya di pundak sofa sambil sesekali mengatur nafasnya dan melirik ke arah Laura yang tengah memasang muka mengejeknya "awas saja kau! akan ku kejar kau sampai tak bisa berlari!" gumam Vian dalam hati sambil melotot tajam ke Laura yang terlihat berlindung diantara Dad Kevin dan Mom Cindy.


Setelah menunggu beberapa menit masih juga tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara, semuanya nampak hening dan diam dengan pikirannya masing masing.


"Kenapa tidak ada yang bicara? Bukankah dad William tadi yang meminta kak Vian kesini? gumam Laura dalam hati, bingung sambil bergantian melihat Dad William, Dad Kevin, Mom Alice, dan Mom Cindy yang terlihat diam dengan wajah serius.


"Jika tidak ada yang mau bicara duluan, maka akan terus seperti ini!" gumam Laura lagi. Laura mencoba untuk memulai pembicaraan, menghentikan keheningan yang sedang terjadi diruangan itu.


"Kenapa Dad William memanggil Kak Vian dan tidak memanggil aku juga. Kak Vian bilang ini urusan orang dewasa dan aku tidak boleh ikut campur, benarkah itu?" niat Laura mengakhiri keheningan malah membuat suasana diruangan itu menjadi tegang.


Bukan jawaban yang didapatkan Laura, keempat orang tuanya itu malah menatap Laura dengan serius. Mendapatkan tatapan tajam dari mereka, membuat Laura terdiam seperti membeku sambil melihat kearah Vian dengan senyumannya yang kaku, bermaksud meminta pertolongan sang kakak.


Vian yang mengerti dengan situasi Laura, mencoba membantu adiknya itu "Ehemm, Ada apa kalian memanggilku?" sambung Vian sambil berdeham menyairkan suasana yang menjadi tegang karna pertanyaan Laura.


"Oh iya, Vian kapan acara kelulusanmu?" tanya Mommy Alice yang sudah terbangun dari lamunan pikirannya.


"6 hari lagi, Mommy!" jawab Vian dengan singkat karna sudah berhasil mencairkan suasana dan tidak perlu basa basi lagi.


"Ohh, masih minggu depan!" jawab Dad Kevin, Mom Cindy dan Mommy Alice secara bersamaan.


"Aahh akhirnya!" seru Laura sedikit berteriak sambil menyenderkan tubuhnya ke sofa karna merasa lega dengan suasana yang sudah tidak tegang lagi, hingga membuat mereka yang ada diruangan itu menatap kearah Laura.


"Hai Mommy Alice, Hai Mom Cindy, Hai Dad William, Hai Dad kevin, Hai semuanya!" ucap Laura dengan gembiranya sambil melambai lambaikan tangannya pada keempat orang tuanya setelah melihat mereka tidak lagi menatapnya dengan tahan.


"Oh ya ampun, iyaa sayangku!" jawab Mom Cindy dengan tersenyum sambil mengusap usap kepala Laura yang duduk disampingnya dan membuat mereka semua menggeleng gelengkan kepala karna tingkah Laura.


"Setelah kelulusan Sekolah menengah atasmu, kau mau kemana? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Dad Kevin pada Vian, mencoba untuk kembali serius pada topik yang akan menjadi pembicaraan mereka.


"Maksudnya?" tanya Vian kembali, karna bingung dan tidak mengerti dengan pertanyaan Dad Kevin yang menurutnya sedikit aneh dan tidak jelas.