I Can't Without You, Baby

I Can't Without You, Baby
Bab 29



Revian menarik tangan Laura dengan kasar, dengan langkah buru buru menuju keluar dari club itu.


"Kakak lepaskan! Sakit! Aku bisa jalan sendiri!" Laura memukul mukul tangan Vian yang masih menggenggam tangannya sangat kuat.


"Ini semua karna kau yang sangat merepotkan!"


*


*


*


Pukul 10.35 PM Revian dan Laura sampai di mansion. Revian dengan kepalanya yang masih terasa pusing bersama Laura buru buru berjalan menuju kamarnya masing masing, melewati ruang tengah tanpa menyadari ada yang duduk disofa tersebut menunggui kepulangan kakak beradik itu.


"Revian... Laura..."


Mereka yang sedang buru buru itu pun dengan terkejut langsung menoleh ke asal suara yang memanggilnya.


"M-moms! D-dads! Sejak kapan kalian duduk disana?"


Betapa terkejutnya mereka, saat mengetahui dan melihat Dad William dan Dad Kevin yang tengah menatapnya dengan tajam sedangkan Mommy Alice dan Mom Cindy terlihat khawatir.


"Sejak lama!" jawab Kevin.


"Sayang... Kalian dari mana saja? Kalian membuat kami khawatir!" tanya Mommy Alice.


"Seharusnya kalian beritahu kami jika ingin mampir mampir! Kenapa ponsel kalian tidak aktif? Dari sore kami menunggu disini, sampai makan malam lalu selesai makan malam dan sampai jam segini baru pulang! Kalian tau, kami sangat khawatir dan menunggu lama!" oceh Mom Cindy.


"Maafkan kami, Moms, Dads!" ucap Revian dan Laura sambil menundukkan kepalanya bersamaan karna mendapat tatapan tajam dari Dad William, tanpa mendekat kearah orang tuanya yang sudah berdiri dari duduknya.


"Kemarilah!" ajak Mommy Alice agar kakak beradik itu mendekati mereka.


"Sayang.. Pakaianmu kenapa?" tanya Mom Cindy sambil memegang seragam sekolah Laura, tiba tiba reflek memundurkan tubuhnya beberapa langkah saat Laura mendekatinya. Kemudian menatap bergantian pada Dad William dan Dad Kevin.


"Dari mana kalian?" tanya Dad William dengan suara yang tertahan pada mereka yang sudah ada dihadapan Dad William.


"Kami habis makan malam, Dad!" Jawab Revian sambil mencoba menahan untuk tidak menggeleng gelengkan kepalanya yang masih pusing.


"Bugh!" Dad William memukul wajah Vian.


"Bohong! Kutanya sekali lagi.. Dari mana kalian?" tanya Dad William dengan geram sambil mencengkram kerah baju putranya.


Revian masih menundukkan kepalanya, merasakan wajahnya yang kini terasa sakit karna pukulan tiba tiba dari Dadnya itu.


"Aku tidak bohong! Aku mengajak Laura ke restoran untuk makan malam!" Jawab Revian dengan nada tinggi mulai berani menatap balik Dadnya.


"Bughh!" satu pukulan kembali mendarat di wajah Vian dan rasanya pun lebih kuat dari yang pertama tadi.


"Kau pikir aku bodoh hah! Kalian pikir aku tidak bisa mencium bau tubuh kalian yang dipenuhi dengan bau alkohol hah?! Kau ke club bahkan kau membawa adikmu kesana! Adikmu itu masih kecil dan kau membawanya ke Club malam!"


"Kau juga! Kenapa kau tidak langsung pulang saja? Kenapa kau tidak menolak saat dia mengajakmu kesana? Apa dia mengancammu hah?!" sentak Dad William kini menunjuk pada Laura.


"A-aku..." Laura terbata, gemetar menangis ketakutan karna Dad William yang membentaknya, padahal sebelumnya tidak pernah.


"Dia tidak mau.. Aku yang memaksanya untuk ikut dengan ku!" Sela Revian.


"Revian?..." Mommy Alice dan Cindy terbengong merasa tidak percaya dan sangat kecewa pada putranya itu. Begitu juga dengan Laura yang tidak menyangka dengan jawaban kakaknya, namun tak bisa melakukan pembelaan apa apa hanya semakin menunduk dan menangis saja.


"Bugh!Bugh!" "Kurang ajar!" "Bugh!" suara pukulan terdengar begitu menggema memenuhi ruangan tersebut.


"Apa yang kau perbuat pada adikmu di sana hingga pakaiannya seperti itu hah?! Kau mencekoknya dengan alkohol?!" "Bugh!Bugh!" Dad William menghajar putra satu satunya itu.


"Sayang, bawa Laura ke kamarnya!" pinta Kevin pada Cindy, mengetahui Laura yang terlihat sangat ketakutan.