I Can't Without You, Baby

I Can't Without You, Baby
Bab 12 flashback Mommy's n Daddy's



Kini diruang kerja hanya menyisakan sepasang suami istri dengan keheningan yang menerpa ruangan itu.


"Where are you going?" (Kamu mau kemana?) suara tanya William memecah keheningan, saat William melihat istrinya yang juga hendak keluar dari ruangan itu.


"Aku mau keluar.." jawab Alice sambil membalikkan badannya.


"Kau ingin meninggalkan aku sendiri disini, sama seperti mereka yang meninggalkan kita?" tanya William lagi dengan suara yang sangat datar.


"Mereka tidak meninggalkan kita, tapi kau yang mengusir dan meminta mereka keluar dari ruangan ini.." jelas Alice sambil menatap suaminya dan mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruangan itu.


"Come here!" (kesinilah!) pinta William yang kembali duduk di sofa sambil menepuk pahanya.


Alice yang mengerti dengan maksud sang suami, menganggukan kepalanya lalu langsung saja menghampiri suaminya dan duduk di pangkuan William.


"I'm sorry! Aku tidak bermaksud mengusir mereka semua, aku hanya pusing melihat tingkah mereka. Aku sedang lelah untuk marah marah.." jelas William dengan suara rendah sambil mengusap punggung Alice yang tengah duduk di pangkuannya.


William tau betul bagaimana istrinya, Alice sangat menyukai keramaian, Alice akan sangat menikmati saat saat mereka berkumpul bersama, Alice bahkan akan terlihat sangat bahagia saat mendengar suara suara keributan dari anak anaknya.


Namun berbanding terbalik dengan William karena usianya yang semakin bertambah, membuat William sangat tidak menyukai keramaian apalagi suara suara berisik dan keributan. Itu akan membuat William yang mendengar atau melihatnya menjadi emosi dan sering marah marah. Jika William mencoba untuk menahan emosinya, itu hanya akan membuat kepalanya semakin pusing dan sakit. Dan mengubahnya menjadi pria yang tempramental.


"Kau tau kan, usiaku kini sudah menginjak 49 tahun dan itu bukan lagi usia yang muda. Kau sangat mengenal aku!" sambung William lagi, saat melihat istrinya yang masih diam tanpa sepatah kata pun.


"Kau suamiku yang tampan. Bahkan terlihat lebih tampan karna guratan dan kerutan kerutan halus yang muncul di wajahmu" jawab Alice dengan tersenyum sambil menangkup wajah William.


Usia mereka terpaut jauh bahkan terbilang sangat jauh, mereka berjarak usia 11 tahun atau lebih tepatnya William yang kini telah berusia 49 tahun dan Alice yang baru berusia 38 tahun. Dan benar kata orang, usia hanyalah angka dan tidak menjadi sebuah hal yang menghalangi hubungan mereka, William selalu mencoba untuk mengerti dan memahami istrinya itu, begitu juga dengan Alice.


Mendengar jawaban dari istrinya, tentu saja membuat William yang tadinya datar kini tertawa kecil sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


"cup!" William mengecup sekilas bibir istrinya yang terlihat sangat cantik saat ia tersenyum.


Berbeda dengan Kevin dan Cindy, mereka berusia sama, mungkin hanya terpaut jarak beberapa bulan saja. Mereka sama sama masih berusia 38 tahun yang membuat mereka seperti sepasang suami istri yang terlihat sangat kompak dan satu frekuensi.


"Sayang, apa kau masih mengingat London Eye?" tanya Alice dengan wajah yang terlihat sedih karna suaminya yang tadi terlihat diam dan biasa saja saat mendengar Kevin dan Cindy membahas lagi tentang pertemuan pertama mereka.


"London Eye? Dimana itu? Tempat macam apa itu?" tanya William dengan wajah yang terlihat bingung sambil menaikkan salah satu alisnya.


"Ternyata benar, kau tidak lagi mengingat tempat itu, kau sudah melupakannya.." curah Alice dengan suara yang terdengar sangat sedih sambil menundukkan kepalanya dan reflek melepas tangannya yang tadi tengah mengusap wajah suaminya itu.


"Hey, kau mengotori pakaianku yang mahal!" ucap William dengan suara yang terdengar sangat sombong saat melihat Alice yang terlihat sangat kecewa dan menangis hingga meneteskan air matanya di kemejanya.


"Maafkan aku tuan.." jawab Alice sambil hendak membersihkan kemeja William.


Lalu tiba tiba ia teringat sesuatu "hah?!" Alice reflek mendongakkan kepalanya menatap pada suaminya itu yang kini tengah tertawa melihatnya dan memegang tangan istrinya itu untuk kembali menyentuh wajah William.


"Kau mengingatnya?" tanya lagi Alice pada suaminya, saat mendengar suaminya berkata sama seperti pertemuan pertamanya 20 tahun lalu.


"Tentu saja aku mengingatnya! aku tidak akan melupakannya. Sama seperti yang dikatakan Kevin, tanpa London Eye aku tidak mungkin menemukan cintaku" terang William yang tadi hanya berpura pura lupa sambil menghapus jejak air mata yang berada di pipi Alice dengan jari nya.


...----------------...


flashback on


📞📞 calling....


[Alice, aku tadi ke apartment mu, tapi kau tidak ada disana. kau dimana?]


[Aku di London Eye. Kau kesinilah, aku menunggumu!]


[Okay, I'm On My Way!]


....


Setelah menelpon dan menghubungi Alice, Cindy langsung bergegas melajukan mobilnya ke tempat yang ia tuju.



The London Eye adalah destinasi ikonis paling terkenal di Inggris, Roda beraksi ini menjadi simbol kota London dan juga dikenal dengan nama Millennium Wheel. Atraksi roda berputar raksasa dengan bianglala berbentuk kapsul ber-AC yang wajib dicoba saat ke London.


Dan hari ini adalah hari terakhir bersantai tanpa tugas karna besok mereka pertama kalinya ke kampus untuk memulai kuliah di London Max University.


Cindy yang sudah sampai langsung memarkirkan mobilnya "Dimana dia? Apa yang dia lakukan disini? Apa dia sedang naik kapsul?" tanya Cindy pada dirinya sendiri, lalu kembali menghubungi Alice untuk mengetahui keberadaan sahabat karibnya itu.


📞 calling.... (memanggil..)


❌ not answered.. (tak terjawab..)


"iss, dia ini menyebalkan sekali! Jangan jangan dia sudah naik kapsul lebih dulu tanpa mengajak aku! Lalu untuk apa dia memintaku kesini?" kesal Cindy sambil melihat Roda raksasa yang tengah berputar itu dan memilih untuk mencari Alice menelusuri London Eye dengan berjalan kaki.


Sementara itu tidak begitu jauh dari keberadaan Cindy, terdapat seorang pria muda nan tampan yang terlihat tengah kebingungan.


"William ini pergi kemana sih? Mana aku sudah sedikit lupa dengan tempat ini lagi.. Padahal aku sudah sangat ingin naik kapsul. Dia pasti mengerjai aku!" Kevin terlihat kebingungan kesana kemari seperti orang yang tengah tersesat.


Bukan tersesat karna tidak pernah ke London, tapi tersesat karna sudah sangat lama dan akhirnya kembali ke London.


Kevin terus saja berjalan mencari William sambil mengingat ingat disekitarnya, lalu tiba tiba "bugh! aww!" kevin merasakan sesuatu yang menabraknya dengan keras dari arah belakang.


"Hey! Apa kau tidak punya mata? Kau menghalangi jalanku! Kau membuat aku terjatuh!" ketus gadis berambut coklat itu yang tengah terduduk tanpa melihat ke arah Kevin.


"menghalangi jalannya? bukankah dia yang menabrakku dari arah belakang? bukankah dia yang membuat dirinya sendiri hingga terjatuh? dasar gadis London!" keluh Kevin dalam hatinya padahal ia juga merasakan punggungnya yang sedikit sakit karna menerima tabrakan mendadak.


"I'm sorry girl! Are you okay?" Kevin mengurungkan niatnya untuk protes setelah melihat gadis berambut coklat itu tengah mengusap usap pantatnya dan dia mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu.