
"Happy 13th Anniversary, honey!" ucap Kevin sambil menyodorkan kue berlilin emaskan angka 13 pada istri tercintanya itu, namun merasakan pemandangannya terganggu dan memilih melihat ke arah itu.
"Revian...." Dad Kevin yang terkejut dengan keberadaan Vian yang entah sejak kapan berada di depan pintu kamarnya, tanpa sengaja menjatuhkan buket bunga mawar yang ia pegang dengan tangan kirinya, dan juga kue cantik itupun hampir ikut terjatuh tapi Mom Cindy dengan cepat mengambil alihnya.
"Vian, sejak kapan kau disini? Dan ada apa?" tanya Mom Cindy menutupi kegugupannya setelah melihat suaminya yang terdiam.
"Aku baru saja sampai. Aku ingin mengantarkan ini, ponsel Mom Cindy tertinggal di ruang makan. Aku taruh disini ya!" Revian sambil berjalan menaruh ponsel mom Cindy ke atas nakas.
"Kalau begitu aku langsung ke kamarku dulu Mom, Dad!" Revian langsung keluar dari kamar itu, setelah melihat wajah keduanya yang tegang, terlebih lagi Dad Kevin.
"Oh iya, terimakasih sayang!" ucap Mom Cindy tanpa bergerak selangkah pun dari tempatnya berdiri, lalu meletakkan kue itu di atas meja.
Setelah memastikan vian benar benar keluar dan menjauh dari kamar mereka,
"Sayang, apa yang kau lakukan? Bukankah sudah aku bilang berapa kali padamu! Tidak perlu merayakan hari jadi kita! Bagaimana jika-" Kemarahan Cindy terhenti karna Kevin yang memotong.
"Maaf.. Aku hanya ingin-"
"Jangan pernah membahas itu lagi, okey!" potong Cindy dengan nada rendah dan lembut, sambil menangkup wajah suaminya itu dengan kedua tangannya.
"Apa tadi Vian mendengarnya?" tanya Kevin dengan wajah yang terlihat jelas gugup dan sangat khawatir.
"Apa kau tidak dengar yang dikatakan vian tadi? Dia baru saja sampai, jadi tidak mungkin vian mendengarnya. Lagipula jika Vian mendengarnya pasti dia akan terkejut ataupun bertanya, tapi ini tidak kan?" jelas Cindy sambil mengelus pipi suaminya itu.
"Tidak perlu khawatir! Vian tidak akan tau, sayang..!" jelas Cindy dengan sangat lembut mencoba menenangkan suaminya.
"I love you!"
"I love you more!" Jawab Kevin sambil mengecup sekilas bibir wanita yang sangat dicintainya itu.
"Hey, kuenya mau dibawa kemana?" tanya Cindy saat melihat Kevin hendak membawa pergi kue itu.
"eitss jangan! Untuk kali ini tidak apa! Ayo kita makan bersama!"
"Permisi tuan, nyonya, maaf menganggu! Aku tadi di minta oleh Tuan muda Revian untuk mengembalikan arloji tuan! Permisi tuan, nyonya"
"Tunggu dulu! Bawa kue ini bersamamu dan kalian makanlah! Habiskan dan jangan lupa buang lilinnya ya!" ucap Cindy setelah selesai mengambil sepotong kue itu.
"Terimakasih nyonya, tuan! Kalau begitu saya permisi!" ucap pelayan itu dengan gembira sambil menatap kearah kue yang sangat cantik itu dan sudah pasti dengan rasa yang sangat enak juga pastinya.
*
*
Revian berjalan menuju kamarnya dengan tergesa dan langsung menutup pintu kamarnya, setelah tanpa sengaja mendengar pembicaraan Dad Kevin dan Mom Cindy.
Flashback On
Revian baru saja keluar dari kamar Dad Kevin dan hendak menjauh dari kamar itu, sambil memikirkan sesuatu "happy 13th anniversary? bukannya 15 tahun atau lebih ya? Ahh mungkin aku salah dengar!" gumam vian dalam hatinya, sebenarnya ia mendengar dan melihat kue yang berlilinkan angka 13, apalagi wajah Dad Kevin yang terlihat jelas sangat panik dan terkejut saat mengetahui keberadaannya, tapi ia masih bingung dan tidak ngehh.
Revian berjalan sambil memasukkan tangannya kedalam kantong celananya "Apa ini?" Revian meraba kantong celananya "Oh iya, Arloji Dad Kevin!" Revian langsung membalikkan tubuhnya kembali menuju ke kamar Dad Kevin.
Pada saat ia hendak masuk, tanpa sengaja ia mendengarkan pembicaraan Dad Kevin dan Mom Cindy dengan sangat jelas karna pintu kamar mereka yang tidak ditutup.
Setelah mendengar semuanya, revian mengurungkan niatnya untuk mengembalikan arloji Dad Kevin dan menyuruh pelayan saja yang mengantarkannya.
Ia memilih menuju kamarnya dengan beribu pertanyaan yang mulai muncul di pikirannya.
Flashback Off
Revian langsung berjalan menuju nakas dan mengambil Laptopnya, mengetik dengan cepat dan lincahnya untuk mencari tau jawaban dari ribuan pertanyaan yang tiba tiba bermunculan memenuhi isi kepalanya.