I Can't Without You, Baby

I Can't Without You, Baby
Bab 33 Seperti Inilah Aku



"bugh!" Pukulan mendarat tepat diwajah tampan Revian. Siapa lagi lagi pelakunya kalau bukan dadnya sendiri, William.


"Jaga ucapanmu! Kau masih muda, tidak pantas bersikap seperti itu dengan orang yang lebih tua, terlebih lagi kami adalah orang tuamu! Kurangi sifat angkuh dan sombongmu itu!" Bentak Dad William yang mulai geram.


"Kenapa? Apa yang salah dengan ucapanku? Bagaimana denganmu? Bukankah sifatku adalah cerminan darimu?!" Jawab Revian dengan nada tinggi, tak mau kalah.


"Bugh!" sekali lagi, pukulan mendatar di wajah Revian dan kali ini terasa lebih kuat. Hingga Revian reflek dengan tangan yang sedikit gemetar memegang sudut bibirnya yang sakit dan sudah dipastikan akan membiru, lebam.


"Dengar baik baik! Kesombongan akan menghancurkanmu secara perlahan dan Keangkuhan hanya akan merusakmu! CAMKAN ITU!"


"Aku lelah, ingin tidur!" Bukannya takut atau Jangankan untuk meminta maaf, Revian malah memilih meninggalkan mereka. Tanpa mengindahkan dad William yang tengah berbicara dengan penuh emosi padanya.


"Oh my god.." Hanya itu kata yang bisa diucapkan oleh Kevin, menatap kepergian keponakannya yang tidak takut sama sekali dengan William yang jelas jelas tengah marah kepadanya.


"Jika tidak diberi pelajaran dengan kekerasan, tidak akan mengerti!" guman William penuh amarah, berdiri dari duduknya dengan tangan terkepal siap memberi pelajaran pada putranya. Namun Kevin sudah lebih dulu menahan William untuk tidak terus membuat keributan, khawatir hipertensi yang dimiliki kakaknya kambuh.


"William sudahlah, biarkan saja, ingat tekanan darahmu.. Dia masih remaja, baru akan beranjak dewasa, biarkan dia belajar dengan caranya sendiri. Dia butuh waktu untuk mencari jati dirinya, pasti akan membaik suatu saat nanti"


Menuruti perkataan adiknya, William pun kembali duduk dengan wajah yang terlihat memerah sambil memijat pangkal hidungnya. Kepalanya mulai pusing dan terasa sakit.


"William, are you okay?" tanya Kevin dengan khawatir, melihat kakaknya yang mengatur napas berulang kali.


"Aku ingin istirahat"


"Biar aku bantu" Kevin membantu William berdiri dengan mengadahkan tangannya untuk penopang bahu William.


"Ck.. Tidak perlu! Aku bisa sendiri!" tolak William menepis tangan Kevin. Namun baru saja dia berdiri, William kembali terduduk karna pandangannya yang tiba tiba memburam.


"Mereka berdua sama menyebalkannya... Yang satu kakakku, super gengsi dan tidak ingin terlihat lemah. Satunya lagi keponakanku, super sombong dan tidak ingin kalah. Dan tadi dia bilang apa? Aku bodoh? Dasar Keponakan Kurang Ajar! Menyesal aku menuruti semua permintaannya sewaktu dia kecil dulu! Dia benar benar mewarisi sifat William, atau lebih tepatnya semua sifat buruk William saja dan sialnya Revian lebih parah berkali kali lipat! Beri Aku Kesabaran, Tuhan..."


*


*


*


Beberapa bulan berlalu dan hari yang ditunggu tunggu Revian dan semua mahasiswa baru pun tiba. Hari ini adalah hari pertama ia masuk sebagai mahasiswa baru di Universitas terbesar di London.


Setelah selesai bersiap Revian beralih dari walk-in closet menuju nakas untuk mengambil ponselnya, sambil menatap foto yang sengaja ia pajang dan ia taruh diatas nakas.


Revian mengambil bingkai Foto berukuran 30cm itu. Foto yang menampakkan jelas Dad William, Dad Kevin, Mommy Alice, Mom Cindy, Dirinya dan tentu saja Laura. Keluarga yang terlihat sangat hangat dan harmonis. Padahal tidak sama sekali, begitulah kenyataannya. Jika Revian dan William sudah berbincang dan mengobrol, pasti akan berakhir dengan pertengkaran.


"Aku tidak akan mengecewakan kalian! Tapi aku tidak ingin menjadi lebih baik. Aku tidak ingin menjadi orang lain! Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri. Dan seperti inilah aku!"


Puas memandangi foto yang sengaja diabadikan saat mereka sedang jalan jalan disekitaran London Eye salah satu wisata favorit mereka di London, kurang lebih dua bulan yang lalu.


Tok. Tok..


"Permisi tuan, sarapannya sudah siap" ucap pelayan dari balik pintu kamar Revian.


"Iya, aku akan segera menyusul!"