
Wajar jika mereka memilih pulang, bahkan mereka sudah menunggu sangat lama untuk hal yang tidak ada. Begitupun aku, Aku tidak suka membuang buang waktuku. Berarti aku harus kembali mencari waktu untuk bertemu dengan sahabatku? Tapi aku sudah tidak punya waktu lagi. Bahkan lusa aku sudah harus berangkat ke London. Ini semua karna Laura yang mengulur waktuku! Tapi memarahi Laura pun percuma, tidak akan bisa mengembalikan waktuku. Revian berdialog dalam hatinya tanpa bergerak menjauh dari tempatnya berdiri.
"Mau sampai kapan kau berdiri disitu?" Tanya seseorang dari belakang, melihat Vian yang tengah berdiam diri saja di depan meja resepsionis.
"Bugh!" Orang itu menendang Vian dari belakang.
"Sepertinya kau memang suka membuang buang waktu ya?" sambung seseorang lagi.
Revian yang tengah monolog mendengar seperti suara yang ia kenal dari belakang dan merasa pinggangnya ditendang, langsung menoleh ke arah itu.
"Kalian meminta resepsionis berbohong?" tanya Vian pada dua orang pemuda itu.
"Ck.. Untuk apa memintanya berbohong? Tak ada gunanya!" Jawab Bryan dengan wajah kesal.
"Lalu kenapa kalian masih disini?" tanya Revian Lagi.
"Kami memang sudah pulang, tapi dijalan kami melihat mobilmu menuju kesini, jadi kami yang baik hati ini memutuskan untuk kembali lagi kesini!" jelas Nathan.
"Kau membuang waktuku yang berharga!" Protes Bryan.
"Pikirmu aku tidak? Waktuku pun terbuang percuma karna adikku yang begitu merepotkan!" Revian pun tak mau kalah protes.
"Laura? Dimana kau?" Revian melihat lihat sekelilingnya, saat ia baru menyadari Laura tidak ada disampingnya.
"Kau mengajak adikmu? Bukankah kau bilang tadi sedang mengantarnya pulang?" tanya Nathan.
"Laura! Apa yang kau lakukan disini?"
"Maaf! Aku sedang melihat mereka... Kenapa mereka seperti itu? Apa mereka merasa gatal gatal? Tapi kenapa mereka tidak menggaruk sendiri? Atau mereka sedang kepanasan? Tapi kenapa? Bukankah disini dingin?" Laura bertanya sangat banyak, sambil masih menyaksikan mereka. Dia merasa penasaran melihat tingkah orang orang disana. Ada yang berjoget seperti orang kesurupan, ada yang mulai membuka pakaian luar mereka, ada juga yang saling meraba raba tubuh masing masing. Sangat aneh bukan?
"Jauhkan adikmu dari sana! Kau gila? Kau membawa adikmu ke club malam!" Nathan menyentak Revian, ternyata sahabatnya itu benar benar membawa adiknya.
"Bukankah aku sudah bilang, jangan kemana mana! Ayo, ikut disampingku saja!" Vian menarik tangan adiknya yang tengah menonton dengan ekspresi wajah penuh heran dan tanda tanya.
Sementara Bryan hanya diam dan menaikkan alisnya melihat sikap Nathan.
"Cepatlah mana surat surat sertifikatnya? Aku harus cepat keluar dari club ini! Dadku pasti akan menghukumku jika sampai tau aku membawa adikku kesini!"
"Memang itu yang kami inginkan!" seru Bryan.
"Pikirmu kau bisa dengan santainya pergi setelah membuat waktu kami terbuang percuma ha?" sambung Nathan
"Ck.. Apa yang kalian inginkan? Katakan, cepat!" Revian sudah benar benar geram, tidak sabar ingin pulang.
"Pelayan!" Bryan memanggil salah satu pelayan itu, kemudian membisikkan sesuatu.
Kemudian pelayan itu berganti mendekati Nathan "Hello Mr. Nathan? Apa yang kau inginkan Mr. Nathan?"
"Nothing!" jawab Nathan dengan singkat.
"Nothing? Are you seriously Mr. Nathan?" tanya lagi pelayan seksi itu, kembali memastikan.
"Pergilah! Bawakan saja apa yang diminta Bryan!" ketus Nathan. Pelayan itu pun pergi dengan heran, Karna biasanya tuan Nathan pasti akan menggodanya dulu, tapi berbeda dengan hari ini.
"Kau tidak biasanya begini. Kau sakit?" tanya Bryan sambil menaikkan salah satu alisnya merasa aneh dengan perubahan sikap sahabatnya.
"Ck, kalian ini.. Aku hanya sedang menjaga sikap! Apa kalian tidak lihat? Dihadapanku ada gadis kecil yang masih dibawah umur! Aku tidak ingin merusak ataupun mencemari otak dan matanya dengan sikapku yang seperti itu!"
"Wow! Aku seperti melihat orang yang berbeda!" entah sebuah ejekan atau pujian, yang jelas Bryan mengatakannya sambil bertepuk tangan.
"Laura, sampai kapan kau akan berdiri?" tanya Nathan pada Laura yang dari tadi diam saja mengamati dirinya dan Bryan.
"Duduklah disini! Bukankah ini yang kau inginkan?" sambung Vian. Laura pun terkejut dan langsung saja ikut duduk di samping Revian.
"Ternyata adikmu sangat pendiam dan penurut ya?" tanya Bryan.
"Sepertinya enak jika punya adik, tidak akan kesepian.." bilang Nathan sambil tersenyum pada Laura.
"Haha.. Iya, dia juga sangat pemalu!" Revian tertawa sebentar, setelah itu langsung menatap Laura dengan tajam.
"Tidak tau saja kau sifat asli Laura! Dia begitu sangat merepotkan dan menyebalkan!" kesal Revian tapi hanya dalam hati.
Bagaimana tidak? Sepanjang perjalanan tadi saja, dia begitu cerewet dan bersemangat nya ingin bertemu dan kenalan dengan Bryan dan Nathan, tapi lihat sekarang setelah bertemu langsung, dia langsung diam saja bahkan tidak membuka mulutnya sedikitpun.
Sementara itu, pelayan datang sambil membawa red wine yang diminta Bryan tadi
"4 glasses red wine! Spend!" Nathan menyodorkan 4 gelas red wine itu, beserta nampannya ke Revian.
"Kalian ingin aku menghabiskan semua ini?" tanya Revian pada dua sahabatnya sambil menaikkan salah satu alisnya.
"Menurutmu?"