I Can't Without You, Baby

I Can't Without You, Baby
Bab 13 flashback Mommy's n Daddy's



Kevin membatalkan uluran tangannya, saat melihat ada kacamata tergeletak, mungkin karena kepala gadis itu yang menabrak punggungnya dengan sangat keras hingga kacamata yang dipakai gadis itu terpental sedikit jauh dari mereka dan Kevin pun berinisiatif untuk mengambilnya.


"Miss, Are you okay? Is this yours?" (Nona, apa kau baik baik saja? Apa ini punyamu?) tanya lagi Kevin sambil menyodorkan kacamata hitam pada gadis itu dengan sedikit menundukkan kepalanya untuk melihat wajah gadis itu, namun tak bisa karena wajah yang tertutup rambut berwarna coklatnya.


"I'm okay!" jawab Cindy dengan ketus, lalu merebut kacamatanya dengan kasar dari tangan Kevin dan memakainya kembali kemudian gadis berambut coklat itu menarik tangan Kevin agar membantunya berdiri.


"Syukurlah kalau kau baik baik saja!" ucap Kevin meski sudah diketusi oleh gadis itu.


Cindy yang baru saja menabrak punggung Kevin dengan cukup keras merasakan keningnya sakit dan kepalanya yang pusing apa lagi saat ia tiba tiba berdiri.


Ia merasakan kepalanya yang semakin pusing dan pandangannya yang mulai menggelap dan seketika itu juga Cindy limbung, namun belum juga tubuhnya terjatuh kejalanan ia merasakan ada sesuatu yang menopang tubuhnya dan memeluk erat pinggangnya.


Kevin yang melihat gadis di depannya hendak terjatuh, dengan sigap ia menangkap tubuh gadis itu.


"Are you okay? Are you sure you're okay?" (Apa kau baik baik saja? Apa kau yakin kau baik baik saja?) tanya lagi Kevin yang masih menopang tubuh Cindy dengan tangannya, lalu membantu gadis itu berdiri dan melepaskan pelukannya.


Cindy tidak langsung menjawab pertanyaan dari pemuda tampan itu, ia masih sibuk dengan penglihatannya dan melepas kembali kacamata yang baru saja ia pakai lagi.


Pandangannya sudah tidak segelap tadi, tapi kini berubah menjadi bintang bintang kecil yang mengitari sekelilingnya.


Cindy berusaha untuk menghilangkan kerlap kerlip itu dengan cara menggeleng ngelengkan kepalanya dengan sangat kencang sambil memukul mukul keningnya agar bintang bintang kecil yang menghalangi pandangannya itu segera menghilang.


Kevin yang melihat tingkah aneh gadis itu merasa sedikit khawatir memegang bahu gadis itu, memantapkannya dengan kedua tangannya dengan maksud agar gadis itu diam.


Lalu tangannya beralih pada rambut gadis itu, rambut berwarna coklat yang hampir menutupi setengah wajah Cindy.


"Hey miss, What's wrong with you?" (Hei nona, Ada apa denganmu?) tanya Kevin sambil merapikan rambut yang berantakan itu, menyelipkannya ke daun telinga Cindy agar dapat melihat wajahnya dengan jelas.


"Does you head hurt?" (Apa kepalamu sakit?) tanya lagi Kevin sambil mengelus elus kepala Cindy dengan lembut.


Kemudian kedua mata mereka beradu dan Kevin bisa melihat dengan jelas wajah gadis yang ada di depannya itu, gadis dengan bola mata berwarna biru hingga membuat ia terpaku.


"she's beautiful, she's very beautiful girl!" (dia cantik, dia gadis yang sangat cantik!) seru Kevin dalam hatinya tanpa sadar terus mengelus rambut gadis itu.


Cindy pun merasa bintang bintang kecil yang menghalangi pandangannya sudah menghilang, terbukti dengan apa yang tengah ia lihat kini, pemuda tampan tengah berdiri dihadapannya bahkan sambil mengelus elus kepalanya dengan lembut.


Tatapan mereka masih beradu seperti terhipnotis sampai Cindy tersadar "Don't be so familiar!" (Jangan sok akrab!) ucap Cindy dengan ketus dan langsung menepis tangan pemuda itu agar memutus kontak mata mereka.


Kevin yang merasakan tangannya ditepis dengan kasar pun langsung tersadar "Oh, I'm sorry!" jawab Kevin lalu menjauhkan tubuhnya mundur beberapa langkah.


"Fine, then I'll go!" (Baiklah, kalau begitu aku pergi!) ucap Kevin lalu pergi meninggalkan gadis itu.


Kevin merasa menyesal, padahal ia sudah mencoba untuk bersikap baik tapi gadis itu malah membalasnya dengan ketus dan kasar, "dasar gadis aneh!" kesal Kevin dalam hatinya.


Sementara tanpa Cindy dan Kevin sadari, tepatnya disebrang jalan ada seseorang yang mengawasi mereka sambil meminum coffe latte dan hendak menyusul ke arah mereka dengan terburu buru.


namun tiba tiba "brukk!" "aww!" ia menabrak seseorang.


"my coffee latte.." ucap Alice sambil menunduk kecewa karna minumannya yang tumpah.


"Hah?!" tanya Alice sambil mendongak keatas untuk melihat wajah pria yang tengah berbicara dengannya itu dan seketika membuatnya terpaku.


"Hey, kau mengotori pakaianku yang mahal!" tegas pria itu lagi dengan marah sambil menunjuk kearah kemejanya.


"M-maafkan aku tuan.." ucap Alice dengan terbata dan langsung memutus kontak mata, lalu mengelap pakaian pria itu dengan tangannya.


"Apa yang kau lakukan?! Kau malah menambah kotor pakaianku dengan tanganmu yang kotor itu!" ketus pria itu sambil menepis tangan Alice, hingga membuat Alice terkejut dengan sikap pria itu.


"M-maafkan aku tuan, kalau begitu kau bisa ikut aku, aku akan membersihkan kemejamu di apartmentku dan lokasinya tidak terlalu jauh dari sini.." tawar Alice dengan suaranya yang lembut.


"Tidak perlu! kau membuang waktuku saja! Aku akan segera membuang pakaian ini" balas Pria itu dengan sombong hingga membuat Alice terdiam.


"Ck.. merusak moodku saja!" kesal Pria itu sambil mengambil tiket yang ada di saku celananya dan pergi meninggalkan Alice begitu saja.


"Huuft.. dasar pria sombong, dasar pria sok tampan!" Alice sambil menghela nafasnya saat melihat pria itu pergi.


"tapi dia memang tampan.." jujur Alice dalam hati lalu berjalan ke sebrang jalan menuju sahabatnya yang kini terlihat tengah kesal.


~


"jangan pergi! aku mohon jangan pergi!" ucap Cindy dalam hatinya sambil terdiam menatap kearah pria yang sudah pergi jauh dari hadapannya.


"dia tampan, dia pemuda yang sangat tampan! Seharusnya tadi aku langsung menciumnya saja, dia akan menjadi pria dan ciuman pertamaku! tapi kenapa aku malah diam saja? kenapa aku malah bersikap seperti itu padanya?" protes Cindy dalam hati dengan sikapnya sendiri.


Cindy sebenernya gugup saat melihat wajah tampan pemuda itu yang tengah menatapnya dari dekat, apa lagi saat pemuda itu mengusap kepalanya dengan lembut, pemuda tampan itu memperlakukannya dengan sangat hangat hingga Cindy merasakan jantungnya yang seperti mau copot dan untuk menetralisir kegugupannya ia bersikap ketus dan kasar pada pria itu.


"Arghhh! Dasar bodoh!" teriak Cindy yang kesal, lalu "Aaahh!" kaget Cindy saat merasakan ada tangan yang menepuk pundaknya dengan tiba tiba.


"Alice Swan! Kau mengagetkan ku saja!" kesal Cindy pada sahabatnya itu.


"Kau dari mana saja? Aku mencarimu tapi kau tidak ada? Apa kau sudah naik kapsul lebih dulu tanpa mengajak aku? Lalu untuk apa kau memintaku kesini? Apa kau sengaja mengerjaiku ya?" tanya Cindy dengan rentetan pertanyaan yang lancar keluar dari mulutnya.


"Hey, Cindy Alexandra yang cerewet! Aku tau kau sedang kesal, begitu juga dengan aku. Ayo kita naik kapsul!" ajak Alice tanpa menjawab pertanyaan Cindy yang membingungkan itu dan mereka pun bergandengan menuju roda berkapsul.


~


"Hey, darimana saja kau? Kau bilang ingin naik kapsul?" tanya William pada Kevin yang baru sampai padanya sambil membawa tiket yang sudah ia beli dari tadi.


"Apa yang terjadi dengan kemejamu?" tanya kevin tanpa menjawab pertanyaan dari kakaknya itu.


"Ck.. Ada gadis menyebalkan yang menumpahkan minumannya padaku!" jelas William dengan kesal.


"Apa kau tidak mau ganti pakaian dulu?" tanya Kevin lagi sambil menelisik ke arah pakaian kakaknya yang terlihat sangat kotor.


"Aku akan mengganti pakaianku, Tapi setelah itu aku tidak akan kembali kesini lagi, kau tau aku tidak suka membuang buang waktuku! jadi?" tegas William.