
"Hey! Dia putraku juga, sayang!" sahut Dad William, tak kalah bangganya.
"Daddy... Aku mendapatkannya! Ini adalah pialaku!" Revian kembali memamerkan pialanya pada Dad William.
"So proud of you, my son!" (Sangat bangga padamu, anakku!) William menepuk bahu putranya dengan penuh kebanggaan.
"I will continue to make you proud! I promise dad, mom!" (Aku akan terus membuatmu bangga! Aku janji!)
"Tidak perlu janji. Aku hanya ingin bukti darimu!" Kemudian Dad William memeluk putranya bersama dengan istrinya.
Revian yang jarang mendapat pelukan hangat itu, merasa sangat bahagia "Aku menyayangi kalian, Mom Dad!" ucap Revian dengan perasaan haru. Kapan lagi dia akan merasakan pelukan Mommy dan Daddynya secara bersamaan?
"Kami juga!" jawab kedua orang tuanya.
~
"Grandmaaa.. Ini untukmuu!" Nathan menghampiri Docter Camilla lalu memeluk dan mencium pipinya.
"Maaf, Aku hanya mendapatkan piala ini saja! Aku tidak mendapatkan yang piala itu!" Bilang Nathan pada Grandma Camilla sambil menunjuk pialanya, kemudian berganti menunjuk piala milik Vian.
"It's okay! Ini sudah sangat hebat! Kau selalu membuat aku bangga, cucuku tersayang!" ucap Grandma penuh bangga, mencium pipi kanan, pipi kiri, dan kening Nathan.
"Aku bangga padamu, cucuku! Jangan pernah turun kebawah, terus lah naik ke atas!" Grandpa Leonardo menepuk pundak Nathan.
"Yes, grandpa. I will do it!" (Iya, kakek. Aku akan melakukannya!) jawab Nathan, mengerti maksud sang kakek.
~
"Congratulation! Bibi sangat bangga padamu, Tuan muda!" ucap Bi Ayuning pada Bryan.
"Thank you, Bi!" jawab Bryan sambil menyodorkan pialanya, membiarkan Bi Ayuning membawanya.
"Congratulation Nathan! Congratulation Bryan! Aunty juga sangat bangga pada kalian!" ucap Mom Alice sambil mengusap kepala keduanya.
"Thank you, Aunty!" balas mereka bersamaan.
"Bryan, dimana orang tuamu?" tanya Dad William yang baru tersadar tidak melihat keberadaan orang tua Bryan.
"Mereka sedang ada pekerjaan penting di Jakarta. Jadi, mereka tidak bisa datang!" jawab Bryan dengan santai.
"Oh iya! Kenalkan dia Bi Ayuning, Uncle Aunty!" Bryan memperkenalkan asistennya pada Dad William dan Mom Alice.
"Saya asisten Tuan muda Bryan! Saya yang membantu Tuan Nando dan Nyonya Ema merawat Tuan muda Bryan sedari kecil, Tuan Nyonya.."
Kemudian mereka semua berbincang bincang hangat. Mom Alice, Grandma Camilla, dan Bi Ayuning membicarakan soal rencana kelanjutan pendidikan Revian, Nathan dan Bryan.
Sedangkan Dad William dan Grandpa Leonardo membahas tentang pekerjaan mereka.
"kringgg!" ponsel Dad William berbunyi.
"Permisi sebentar, Tuan Leonardo!"
Dibalas anggukan oleh Grandpa Leonardo, Dad William berjalan menjauh mengangkat telpon.
"Mom, kami kesana dulu!" bilang Revian pada Momnya
"Dahh, Grandma!" Nathan melambai lambaikan tangannya
Sedangkan Bryan langsung saja berjalan bersama dua sahabatnya. Ia tidak membutuhkan izin dari Bi Ayuning, asistennya itu.
'Triple Perfect' itu memilih tempat yang lebih nyaman yaitu di luar aula, ternyata juga ramai siswa siswi berfoto disana, tapi setidaknya tidak seberisik di dalam. Mereka memilih tempat duduk yang berada diujung halaman luas itu.
"Congratulation!" ucap mereka tanpa sadar secara bersamaan hingga membuat mereka tertawa bersama entah karna apa
"Apa kau sudah ada perasaan, bahwa kau yang akan memenangkannya?" tanya Nathan
"Ck.. Kau lupa bahwa aku ini sangat cerdas?" Revian dengan sombongnya, pertanyaan dijawab pertanyaan
"Hey, dia itu membeli pialanya dan menyogok kepala sekolah agar menjadikannya Juara Umum!" Ejek Bryan, padahal ia tau kalau sahabatnya itu memang diatas rata rata.
"Oh ya? Aku dengar dengar juga kepala sekolah kita akan diganti, otomatis dia pensiun. Mungkin Sir Henry membutuhkan uang untuk tabungannya saat menjadi pengangguran nanti! Karna itulah dia menerima uang sogok darimu!" Nathan malah meladeni dengan serius.
"Benarkah?" Revian dan Bryan bersamaan. Kemudian mereka kembali tertawa, tau kalau ucapan Nathan pun hanya bercanda. Entahlah! Jika sedang bertiga, hal yang tidak lucu pun akan menjadi lucu.
"Apa kita batalkan saja? Lagi pula akan kau apakan tanah dan villa itu? Bukankah kau sudah kaya?" Bryan gantian bertanya.
"Jika benar kau akan membatalkannya, aku akan dengan senang hati menyetujuinya!" sambung Nathan.
"Enak saja! Kalian kalah dan aku yang memenangkannya! Aku tidak akan membatalkan apa yang sudah aku jalani! Apa kalian sudah mengucapkan selamat tinggal perpisahan? Sebentar lagi tanah dan villamu akan menjadi milikku, haha!" bilang Revian dengan angkuh, lalu tertawa
"Ck.. yang benar saja! Jadi kapan kita akan menandatanganinya?"
"Secepatnya! Besok aku akan pergi ke London!" jawab Revian.
"Ha?! Jadi itu benar? Besok kau akan ke London?" terkejut, Nathan dan Bryan ingin memastikan perkataan sahabatnya.
"Ya, dadku ingin aku pergi secepatnya! Jadi aku sudah tidak punya banyak waktu lagi!"
"Bagaimana setelah acara ini selesai saja? ke club tempat biasa kita?" tawar Nathan.
"Boleh juga!" setuju Revian dan Bryan bersamaan lagi.
"Naik mobilku saja! Biarkan orang tua kalian pulang lebih dulu!" ajak Bryan.
"Bagaimana dengan asistenmu? Apa dia akan ikut kita?" gantian Revian bertanya
"Tidaklah! Aku akan memesankannya taksi online!" jawab Bryan.
" Tuan mudaa.."
"Tuan Bryan!" terdengar suara memanggil dari jauh.
"Bryan, asistenmu memanggil!" Revian memberi tahu Bryan.
Sedangkan Nathan melambai lambaikan tangannya ke arah Bi Ayuning yang sudah pasti sedang mencari Bryan "Tuan muda ada disini!" ejek Nathan sambil tertawa.
"Tuan muda disini rupanya! Bibi mencari kalian dari tadi!" bilang Bi Ayuning dengan nafat ngos ngosan dengan tangan yang dipenuhi piala.
"Kenapa kau membawa piala kami?" tanya Vian.
"Ada apa bi?" Bryan juga bertanya.
"Maaf, tuan! Bibi lupa.. Tadi pagi sebelum kita berangkat kesini, Nyonya Ema meminta bibi untuk memoto tuan! Katanya, nyonya ingin melihat tuan di hari kelulusan!" Jelas Bi Ayuning
"Oh, Aku pikir apa.. Ya sudah, fotolah!"
Bi Ayuning memoto Bryan sambil memegang pialanya, kemudian memoto Bryan bersama kedua sahabatnya dengan piala ditangan mereka masing masing.
"Sudah! Kalian semua sangat tampan! Bibi kirim ke nyonya ya?" dijawab anggukan oleh Bryan
"Tuan, apa acaranya masih lama?" tanya Bi Ayuning lagi
"Tinggal dua sesi lagi! Sesi makan siang dan sesi foto bersama guru dan orang tua! Kenapa?"
"Ooh.. tidak apa, tuan! Bibi hanya bingung ingin melakukan apa.." jawab Bi Ayuning dengar jujur, karna biasanya ia selalu disibukkan dengan pekerjaan rumah tapi kali ini bersantai menghadiri pesta, rasanya aneh.
"Kalau begitu bibi temani grandmaku saja!" pinta Nathan saat melihat dari jauh grandmanya sendirian entah kemana grandpanya, begitu juga dengan orang tua Vian.
*
*
'Triple Perfect' tengah mengobrol, dan datanglah seorang gadis dari arah belakang mereka.
"Emm, Vian.. maukah kau berfoto denganku?" tawar Rebecca dengan ragu ragu.
"Aku tidak tertarik!" tolak Revian dengan sombongnya.
huufft! Sebenarnya Rebecca sudah berpikir akan di tolak. Mengetahui sifat dan sikap teman seangkatannya itu begitu dingin dan sombong. Tapi tidak ada salahnya mencoba bukan? Jika tidak mencoba, maka tidak akan pernah tau!
"Okay.. Kalau kau Bryan, apa mau berfoto denganku?" Rebecca berganti bertanya pada Bryan.
"Aku tidak-" ucapan Bryan terputus, saat Nathan menyelanya "Bryan sama halnya dengan Vian! Berfoto denganku saja, Aku tidak akan menolakmu!"
"Benarkah?" Rebecca yang tadinya terlihat sedih, kini mengulas senyuman hingga membuat wajahnya terlihat semakin cantik.