I Can't Without You, Baby

I Can't Without You, Baby
Bab 25



"Brakk!" William membuka pintu ruang meeting dengan kasar.


Dad William, Mom Alice, dan Revian langsung memasuki ruang meeting


"Sayang, tahan emosimu! Kita bisa bicarakan ini baik baik!" Pinta Mom Alice sambil mengelus dada suaminya, saat ia melihat penampakan sepasang suami istri itu.


Jas tergeletak diatas meja, kemeja dengan beberapa kancing atas terbuka, dasi yang hanya disampirkan dibahu saja, serta rambut acak acakan, Kevin tengah terduduk dikursi, sedangkan Cindy memijat pundak suaminya itu.


"How could?" (Bagaimana bisa?) tanya William dengan suara serendah rendahnya, mencoba untuk tidak meluapkan amarahnya, padahal rasanya ingin sekali dia memukul adiknya saat ini juga.


"I'm so sorry, brother... I already told you, I can't!" (Maafkan aku, saudaraku.. Sudah aku katakan padamu, Aku tidak bisa!) Kevin terlihat sangat kacau dengan buih buih keringat memenuhi wajahnya.


*


*


*


"Senang bekerja sama denganmu, Tuan William!" Tuan Samson menjabat tangan Dad Kevin.


"Kami juga! Terimakasih sudah memberi kesempatan kedua untuk kami bisa kembali bekerja sama dengan Bernadeth Company!" Seru Dad William.


"Sama sama, Tuan William! Untuk beberapa tahun kedepan atau mungkin seterusnya, kami akan kembali bekerja sama dengan Omeroof. Tapi, hanya jika putramu yang memimpin meeting dan kerja samanya, sama seperti saat tadi! Kalau Kevin Adikmu, mungkin kami akan kembali mempertimbangkannya.."


"Akan kami usahakan yang terbaik! Dan sekali lagi, atas nama Kevin dan Omeroof, aku William Abayomer meminta maaf karna kejadian tidak mengenakkan kemarin!"


"Tidak masalah, anggap saja angin lalu!" Jawab Tuan Samson sambil menepuk bahu Dad William.


"Putramu sangat luar biasa! Aku sangat menyukai pemikiran dan cara bekerja putramu! Jika dia tertarik bekerja di perusahaanku? Aku dengan senang hati menerimanya dan Bernadeth Company akan selalu terbuka lebar untuk putramu, dan juga aku punya putri yang cantik!" tawar Tuan Samson


"Haha.. Terimakasih, Tuan Samson. Akan aku sampaikan pada putraku! Tapi aku tidak berjanji putraku akan menerima tawaranmu.. Karna Revian akan kuliah di London dan beberapa tahun lagi akan menggantikanku memimpin perusahaan kami, Omeroof!" Jelas William


"Iya iya! Aku turut berbangga atas putramu! Kalau begitu kami permisi!"


Dad William mengantar Tuan Samson Bernadeth sampai ke pintu luar perusahaannya. Setelah itu, Dad William bergegas kembali ke ruangnya.


~


Ya! Beberapa hari yang lalu, Kevin mengacaukan kerja sama Omeroof dengan Bernadeth Company lewat presentasi meeting yang dipimpinnya.


William dan Kevin memiliki sifat dan sikap yang sangat berbeda. Jika kesehariannya William terkesan dingin dan galak pada orang orang, berbeda dengan pekerjaannya, dia akan menjadi sangat bijak pada para clien dan rekan kerjanya.


Berbanding terbalik dengan Kevin yang kesehariannya sangat hangat dan ramah. Jika sedang bekerja apalagi diminta untuk memimpin presentasi atau meeting, Kevin akan menjadi pemarah dan mudah tersinggung.


Seperti halnya yang terjadi kemarin saat Kevin terpaksa harus menggantikan William. Saat presentasi dimulai, salah satu clien memberi saran dan kritik pada Kevin. Namun Kevin malah merasa tersingungg, dan marah marah.


Sebenarnya, Kevin tidak bermaksud merusak kegiatan itu dengan sikapnya. Ia hanya merasa gugup dan khawatir takut gagal, jadi ia meluapkannya lewat amarah yang malah membuat kacau semuanya.


Hingga Kevin hanya bisa terduduk lemas saja, saat menyadari para cliennya membatalnya kerja sama karna sikapnya yang buruk itu.


William yang sangat bingung dan pusing tidak bisa mencari jalan keluar untuk memperbaiki saham perusahaannya yang sudah pasti sebentar lagi akan turun, begitu juga dengan Kevin yang merasa sangat bersalah.


Namun Revian dengan segala kecerdasan yang dimilikinya, meminta kesempatan dan menawarkan dirinya untuk memperbaiki semua kekacauan yang telah terjadi Dengan kembali mengadakan pertemuan dengan para clien itu dan dia yang akan memimpinnya. Sekaligus untuk membuktikan bahwa dirinya benar benar siap dan layak menjadi pemimpin Omeroof.


William pun menerima ide putranya, memundurkan hari keberangkatan Revian ke London menjadi beberapa hari lagi dan semua terbayar setelah yang terjadi hari ini. Para clien membatalkan pencabutan dan kembali menerima kerja sama perusahaan mereka dengan Omeroof.


*


*


*


"Oh My God! I really love this job!" (Aku sangat menyukai pekerjaan ini!) hela Vian sambil menjatuhkan tubuhnya diatas sofa yang berada diruang kerja Dad William.


"Oh ya?"


"Katanya dia punya seorang putri yang cantik! Mungkin kau akan tertarik dengan tawarannya!" sambung William


"Sayangnya, aku tidak tertarik!" Jawab Revian dengan sombong.


"Wah wah! Kau belum melihatnya, tapi sudah mengatakan tidak tertarik? Bagaimana jika sampai kau menarik ucapanmu? Itu sama saja kau menjilat ludahmu sendiri!" Kevin ikut bergabung duduk disamping keponakannya itu.


"Aku tidak akan menjilat ludahku sendiri! Karna aku tidak pernah menarik ucapanku!"


"Okey.. Akan ku ingat kata katamu itu!"


Semakin besar semakin sombong saja pemuda tampan yang bernama Revian Abayomer itu.


"Ck.. Silahkan saja! Oh iya, Hari ini aku yang akan menjemput Laura, jadi tidak ada lagi alasan Dad Kevin untuk tidak lembur! Dahh aku pulang!" Revian keluar dari ruangan itu dengan senyum penuh kemenangan bisa mengerjai Dad Kevin hari ini. Hampir setiap harinya, Kevin akan selalu beralasan menjemput Laura pulang sekolah, hanya untuk menghindari lembur malam.


*


*


*


Brilliant Secondary School


Sepasang siswa putra dan putri yang tampan dan cantik berjalan berbarengan menuju parkiran sekolahnya.


"Thanks, Laura! Aku akan segera mengembalikannya! Oh iya, Kau pulang bersama siapa? Apa mau pulang bersamaku?" tawar Dicky sambil menyelipkan uang yang baru saja dipinjamnya lagi dari Laura ke sakunya.


"Tidak usah, kak. Aku dijemput Daddy!" tolak Laura sambil menunggu Dad Kevin datang.


"Sepertinya Dadmu, lama! Aku temani menunggu ya?" tawar Dicky lagi yang dijawab sebuah senyuman manis oleh Laura


"Kau semakin cantik saat tersenyum!" ucap Dicky.


"Benarkah?" Laura tersipu malu langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dicky yang geram melihat tingkah Laura yang menurutnya sangat lucu reflek mengacak acak rambut Laura.


"Jauhkan tanganmu darinya!" teriak seseorang dari arah gerbang parkir. Hingga membuat Dicky menjauhkan tangannya dan mereka bersamaan menoleh dari asal suara tersebut.


"K-kak Vian?!" teriak Laura terkejut dengan kedatangan kakaknya.


"Kenapa kau terkejut seperti itu?" tanya Revian berjalan mendekati Laura.


"A-apa yang Kak Vian lakukan disini, disekolahku?"


"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan! Aku disini tentu saja menjemput adikku!"


"Oohh.." Laura hanya berohoria


"Siapa bocah itu?" tanya Revian sambil mengangkat satu alisnya


"Bocah?" Laura bingung hanya bisa menjawab dengan balik bertanya.


"Siapa dia?" tanya Revian lagi dengan tatapan menyelidik ke arah Dicky.


"Aku bocah?! What?!" teriak Dicky terkejut disebut bocah.


"Emm.. dia..."


"Ck.. Sudah lupakan saja! Ayo pulang!" Revian kesal dengan tingkah Laura yang kelihatan sekali bodohnya, langsung saja menarik tangan adiknya untuk segera masuk ke mobil.