I Can't Without You, Baby

I Can't Without You, Baby
Bab 11



"Kami ingin menanyakan sesuatu padamu" ucap Mommy Alice pada Vian.


"Kau ingin kuliah disini atau di London?" sambung kevin yang langsung to the point.


"Ck.. Pertanyaan macam apa itu?" jawab Vian karna mendapat pertanyaan aneh.


"Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan!" balas William dengan tegas.


"Of course London!" (Tentu saja London!) jawab Vian dengan tak kalah tegas.


"Sayang, apa kau yakin ingin kuliah di London? Apa kau tidak punya keinginan kuliah di tempat lain? Apa kau tak punya University impian?" tanya lagi Cindy untuk memastikan perkataan vian.


"Mom, Apa itu semua penting? Apa aku punya pilihan? Kenapa kalian menanyakan keinginanku? Bukankah kuliah di London itu adalah sebuah keharusan yang harus aku penuhi? Bukan sebuah pilihan atau keinginan yang bisa aku tolak atau aku terima? Lalu apa gunanya menanyakan pertanyaan seperti itu? Pertanyaan yang sangat jelas kalian tau sendiri apa jawabannya!"


Bukan tanpa alasan Vian menjawab dengan perkataan seperti itu, tapi ia tau betul bahwa kuliah di London adalah tradisi di keluarganya yang wajib dilakukan. Tapi tiba tiba saja ke empat orang tuanya bertanya seolah olah mereka memberinya pilihan dan membolehkan keinginannya, padahal kenyataannya adalah tidak ada penolakan.


"Baiklah, jika itu jawaban darimu untuk pertanyaanku. Dengar aku! Satu minggu lagi atau tepatnya satu hari setelah hari kelulusanmu, kau akan langsung berangkat ke London. Kau persiapkanlah dirimu untuk kuliah dan hidup disana. Setelah itu aku akan lihat, apa kau benar benar layak dan mampu atau tidak untuk menjadi calon pemimpin Omerooft!" William dengan sangat tegas sambil menatap tajam ke arah Vian.


"Sayang! satu minggu lagi? Kenapa harus mendadak? Kenapa harus secepat itu? Pasti Vian belum mempersiapkan dirinya. Dia masih perlu mengurus surat surat kelulusannya kan? Jika kau tidak mau mengundur waktu sampai bulan agustus, setidaknya beri Vian waktu satu bulan lagi, aku mohon.." pinta Mommy Alice pada Dad William dengan memohon sambil mengelus elus lengan suaminya itu.


"Alice benar! Bukankah Vian masih harus datang ke acara pesta perpisahan kelas angkatannya dulu? Dia masih harus bertemu untuk berpisah dengan teman temannya, pasti sangat sedih dan mengharukan! bertemu karna pendidikan dan berpisah demi masa depan! Lihatlah, Vian belum siap karna kau tidak memberinya waktu!" Mom Cindy sambil melihat ke arah Vian yang terlihat tengah terdiam.


"Aku sudah sangat siap!" tegas Vian setelah mom Cindy membangunkannya dari lamunannya.


"Vian, Apa kau yakin? William?" tanya Dad Kevin yang sedari tadi hanya diam mendengarkan mereka pada Vian lalu pada William.


"Itu adalah keputusanku! Dan aku tidak akan mengubahnya!" William sambil berdiri dari duduknya.


"Hmm.. Apa kami boleh ikut ke London juga? Sudah sangat lama kita tidak kesana. Benarkan sayang? Apa kau masih mengingat London Eye? Apa kau tidak merindukan tempat yang menjadi icon pertemuan pertama kita?" rayu Cindy yang juga sudah berdiri bersama Kevin sambil menggandeng lengan dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.


"Yes, my honey! Of course i miss that place! I will always remember The London Eye, can't forget it! Without that place, I would not have found my love. We'll be there!" (Iya, sayangku! Tentu saja aku merindukan tempat itu! Aku akan selalu mengingat London Eye, tidak akan bisa melupakannya! Tanpa tempat itu, Aku tidak mungkin bisa menemukan cinta ku. Kita akan kesana!) balas dad Kevin pada mom Cindy yang entah sejak kapan kini tengah merengkuh pinggang istrinya itu hingga tidak ada jarak diantara mereka.


"Oh ya? I Love You, My dear!" (Benarkah? Aku mencintaimu, Sayangku!) Cindy sambil menangkup wajah kevin.


"I love you more!" (Aku lebih mencintaimu!) kevin yang hendak mencium istrinya.


"Oh my god!/so sweet!" ucap Vian dan Laura secara bersamaan setelah melihat Dad Kevin dan Mom Cindy yang kini tengah berciuman.


"Hey! Tutup matamu, anak kecil!" Vian dengan ketus sambil langsung menutup mata Laura dengan kedua tangannya.


"Kak Vian, lepas!" Pinta Laura sambil memukul mukul tangan Vian yang tengah menutup matanya.


"Kau itu anak kecil! tidak boleh melihat yang seperti itu!" jawab Vian yang malah semakin mengencangkan tangannya.


"Kalian itu sudah tua, masih saja tidak tau tempat! Keluarlah kalian dari ruangan ini!" William yang mulai emosi melihat adiknya yang tak tau malu.


"Vian, bawa adikmu keluar dari ruangan ini!" perintah Mom Alice pada Vian.


"Yes, mom. Come on kid, get out of here!" (Iya mom. Ayo anak kecil, keluar dari sini!) Vian yang hendak menarik paksa Laura dengan kedua tangannya yang masih menutupi mata Laura.


"Ihh, aku bisa keluar sendiri! Lepaskan tanganmu itu, mataku sakit!" kesal Laura dengan kembali memukul mukul tangan kakaknya itu.


"Vian, lepaskan tanganmu, kau bisa menyakiti adikmu!" ucap Mom Alice saat melihat tangan Vian yang menutupi mata Laura dengan sangat kuat.


"Iya iya, I'm sorry!" Vian melepaskan tangannya setelah mendapat tatapan tajam dari Mommy Alice dan Dad William.


"Are you okay?" tanya Vian pada Laura yang tengah mengucek ngucek matanya lalu vian hendak memegang kepala Laura.


"I'm okay! Minggir, aku mau keluar dari sini!" Laura menepis tangan Vian yang tengah mengusap usap kepalanya.


"Aku bilang minggir!" ucap Laura dengan ketus hendak berjalan keluar.


Laura yang kesal karna Vian yang tidak mau bergerak dari tempatnya yaitu masih memegang kepalanya, kini Laura memaksakan untuk berlari lalu "bugh!" tanpa sengaja Laura menginjak kaki Vian.


"Aww!" Vian langsung memegang jari jari kakinya yang sakit karena terinjak Laura.


"I'm sorry! Aku tidak sengaja!" jawab Laura dengan berteriak sambil berlari keluar dari ruang kerja.


"Laura! mau kemana kau? Jangan Lari! Aku belum membalasmu!" ancam Vian sambil ikut berlari keluar dari ruang kerja mengejar Laura dan meninggalkan Mom Cindy Dad Kevin yang terlihat masih bermesraan bersama Mommy Alice dan Dad William yang terlihat diam saja entah sedang apalah itu.


"Hey, dasar tak tau malu! Keluar kalian dari ruangan ini!" kesal William dengan tingkah Kevin dan Cindy, Adik dan adik iparnya itu selalu melakukan apapun yang mereka mau tanpa melihat tempat dan situasi lebih dulu.


"Ck.. Kau itu menggangu saja! tidak bisa melihat orang bahagia!" keluh Kevin yang kini telah berhenti dari kegiatannya tadi.


"Bukan menggangu, Tapi kalian carilah tempat yang lebih aman dan nyaman. Kalian melakukan hal seperti itu di depan anak anak, mereka masih dibawah umur dan itu tidak baik untuk mereka" jelas Alice pada keduanya.


"Iya, maafkan kami! Kami hanya sedang sangat terharu. Kami akan mencari tempat yang aman. Ayo sayang, kita lanjutkan dikamar!" bilang Cindy tanpa melepaskan tatapannya dari suami tercintanya sambil mengalungkan lengannya ke leher Kevin.


"As you wish, honey!" (Seperti yang kau harapkan, Sayang!) jawab Kevin dengan tatapan mata yang sudah dipenuhi oleh gairah dan langsung menggendong Istrinya ala bridal.


"Permisi.." ucap Kevin dan Cindy secara bersamaan dan berjalan keluar dari ruang kerja dengan Kevin yang sambil menggendong istrinya.


"Hati hati kepalamu terbentur pintu!" balas Alice sambil menggeleng gelengkan kepalanya melihat sepasang suami istri yang berusia tak muda lagi tapi masih sangat romantis.