
...Pindah rumah...
"Phanthera, lebih baik diam dan jangan bertanya tentang apapun" kataku dengan wajah yang menyedihkan.
"Baiklah, tapi apa rencana mu selanjutnya"
"Aku akan menyekolahkan Avila dan aku mau pergi untuk fokus menahulukan dongeon"
"apa kamu ingin balas dendam"
"entahlah"
"terserah kamu saja"
Aku pun keluar dari ruangan guild master dan menghampiri Avila yang tertidur lelap "sungguh putri ku yang imut" Kataku sambil memainkan pipinya.
Dia itu malaikat kecilku yang paling berharga "mama pasti akan melindungi kamu" cara dia tertidur itu benar-benar imut.
Saat aku sedang enak-enak melihat keimutan Avila yang sedang tertidur Rania datang "Chloe apa yang akan kamu lakukan hari ini"
"Aku akan bersiap untuk pindah ke kerajaan beastman" kataku kepada Rania dengan wajah yang sudah kacau, bukan aku yang biasanya.
"Baiklah aku akan membantu mu bersiap siap" sesaat setelah itu Avila terbangun "mama, jangan tinggalkan aku" dia pun memeluk ku sambil menangis.
"Tenang saja mama tidak akan meninggalkan Avila" aku pun memeluk balik Avila yang menangis sambil mengusap kepalanya pelan.
Setelah Avila kembali tenang kami pun pulang dan di sana sudah ada Safira yang menunggu kepulangan ku dia juga menangis sama seperti Avila.
Setelah semuanya tenang aku mengajak semua kedalam dan duduk "Kita akan pindah" kataku serius kepada mereka berdua.
"Yey yey Avila akan pindah rumah" dia malah kegirangan Karena mau pindah rumah, yah aku sih gak masalah.
Akhirnya kami mengemasi barang-barang yang penting dan segera pindah, Rania datang saat aku sudah mengemasi semuanya.
"Chloe kamu sudah mengemas semuanya?"
"ya, terimakasih telah membantu ku selama ini dan terimakasih telah merawat Avila saat aku tidak ada"
Dia pun memeluk ku dengan erat dan berkata "kembali lah kesini sesekali" dan itu adalah perkataan yang hangat yang sudah lama tidak aku rasakan.
Aku membalas pelukannya dan membalas perkataan nya "ya nanti aku akan kembali sesekali" kami pun berpelukan lumanyan lama.
Dan setelah puas aku langsung mengaktifkan skill teleportasi "Sampai jumpa lagi Chloe" salam dari Rania "ya, sampai jumpa lagi" dan ku balas dengan senyum yang hangat.
Aku melindungi Safira dan Avila dengan mana ku agar mereka tidak terkena efek samping dari teleportasi jarak jauh yang bisa membunuh orang.
Sesaat kemudian kami sampai di depan benteng ibukota kerajaan beastman dan para prajurit yang kaget langsung mengarahkan senjatanya ke arah kami.
Tampak juga kalau Avila dan Rania sedikit takut dan aku mengeluarkan kartu identitas ku "ini punya ku" sontak mereka kaget.
Mereka tidak percaya kalau orang yang mereka todong adalah orang yang telah mencapai rank SS "Sekarang aku boleh masuk kan?" tanya ku sambil menekankan perkataan ku.
Mereka pun gemetaran dan memperbolehkan kamu masuk "s silah kan nona, maaf kan kelancangan kami" perkataan salah satu pria yang ketakutan.
Kami akhirnya masuk dan hal pertama yang aku pikirkan adalah "Ayo kita mencari makan" "yey kita makan" seperti biasa Avila lah yang paling bersemangat.
Akhirnya kami makan di sebuah restoran dan aku mau naik ke lantai yang paling atas "maaf nona, lantai yang paling atas cuman bangsawan dan petualang kelas tinggi" ucap dari seorang pria yang menjaga tangga.
Aku pun mengeluarkan aura yang sangat mencekam dan membuat semuanya ketakutan "m m maaf kan aku nona silahkan anda naik" dia pun memperbolehkan kami naik.
Saat di atas aku sebenarnya ingin santai sebentar saja tetapi "kenapa sih hari ini banyak yang menggangu ku" "Hei cantik kenapa kamu gak main saja dengan ku" kata salah satu beastman.
Dia sepertinya seorang bangsawan "Ayolah aku seorang Ear di kerajaan beastman" aku pun kehilangan kesabaran "dark bullet" tangan ku mengeluarkan sebuah bola hitam dan itu langsung menembus tubuh sang beastman.
Karena aku gak mau repot-repot aku langsung membawa Avila dan Rania teleport ke tempat olivia "maaf Olivia aku datang dengan cara seperti ini"
"oh gak papa" katanya yang masih kaget dengan kedatangan ku "Ada apa kamu datang kesini?" tanya Olivia kepada ku.
Dan setelah diselidiki ternyata dia itu cuman seorang bangsawan yang sudah terjatuh, dia menggunakan nama keluarga nya yang sudah lama terjatuh itu.
Itu sebuah kejahatan dan aku yang membunuhnya tidak di anggap bersalah "Untung saja"
"jadi apa urusanmu yang sebenarnya"
"aku mau menitipkan anak ku" dan perkataan ku sontak membuat Avila terkejut.
"mama apa maksudnya itu?" tangisnya sambil memegangi pakaian ku.
"Nak mama akan ada urusan yang berbahaya jadi kamu tunggu mama di sini dan sekolah disini nanti saat sudah selesai mama akan jemput kamu"
Avila masih saja gak mau tau dan terus menangis, karena hal itu lah aku langsung memberikan dia sebuah artefak yang dulu pernah aku ambil di dungeon naga.
"Avila ambil ini"
"mama apa itu?"
"Itu bisa membuat mu menjadi lebih kuat dan kuat"
"apa aku bisa sekuat mama?"
"ya tentu saja, tapi kamu harus belajar dan berlatih"
Dia terus berpikir dan memutuskan "baiklah ma, Avila akan belajar dan berlatih di sini"
Akhirnya aku berhasil menyakinkan dia "baiklah aku akan menjaga Avila selagi kamu pergi" "terimakasih, kamu memang teman ku"
Setelah aku memberikan beberapa koin emas kepada Olivia untuk biaya hidup Avila dan Rania aku bersiap-siap untuk pergi.
"Alvis segera membuat persiapan untuk mengobrak Abrik wilayah iblis" dengan nada yang mencekam dan wajah yang menandakan dia ingin balas dendam.
Dia berjalan dan menghilang dari wilayah istana beastman.
...----------------...
"mama selamat tinggal, Avila pasti akan menjadi sekuat mama dan melindungi mama nantinya"
"Iya aku yakin nanti Avila bisa sekuat mama"
"terimakasih ya bibi"
Olivia yang dipanggil bibi merasa tertusuk sebuah pedang tak terlihat "jangan bibi tetapi kakak okey?"
"baik lah kakak"
Avila pun menguat kan tekat nya dan berusaha untuk menjadi lebih kuat.
...----------------...
"Akhirnya dunia ini akan memasuki babak yang baru"
"Sudah ribuan tahun aku bosan melihatnya begitu-begitu saja malahan aku sempat berpikir kalau yang aku lakukan dimasa lalu malah membuat dunia ini kurang menarik"
"yah sepertinya aku harus belajar mengendalikan emosi ku lagi deh"
"kalau dia sampai tau aku kehilangan kesadaran ku karena marah, apa yang akan dia ucapkan nantinya"
"Dasar bocah, mungkin itu yang akan dia katakan kalah ada di samping ku, jika saja aku mampu melindungi mu saat itu"
"aku tidak mungkin kesepian seperti ini, tetap saja aku merasa bosan walaupun sudah banyak mainan yang aku buat dan mainkan"
"jika mainan yang satu ini tidak membuat ku semangat, aku akan langsung menghancurkan nya beserta seluruh dunia itu"