Holy Vampire.

Holy Vampire.
chapter 4



...mama?...


"Safira sekarang ini akan jadi rumah kamu" kataku sambil menunjuk mansion.


"waaaa" katanya terkagum kagum melihat sebuah mansion besar.


"jadi nyoyna tinggal di sini" lanjut Safira kagum.


"panggil aja Onee Chan ya" kataku tersenyum kaku.


"tidak saya adalah budak nyonya jadi saya harus sopan"


"kalau begitu ini perintah panggil aku Kakak"


"b baiklah"


setelah itu pun kami masuk kedalam dan dia sangat kagum dengan apa yang dia lihat.


sebenarnya aku berniat menjadikan Safira sebagai pelayan pribadi ku.


dan untuk urusan rumah aku akan menyewa orang orang yang membutuhkan pekerjaan.


dengan begitu ekonomi bergerak deh.


kami sampai di sini pada sore hari dan aku tadinya sehabis mandi tapi karena membeli beberapa barang buat kebutuhan jadi tubuhku sekarang bau keringat lagi.


aku mandi agar tubuhku segar kembali, aku masuk dan melepaskan baju dan terlihat sebuah pemandangan.


"kata Alvis ini gak akan tumbuh tapi ini sudah tumbuh gitu coba aku sentuh"


saat aku menyentuh buah dadaku aku merasa panas di kepala dan wajahku ikut memerah.


[dasar mesum] kata Alvis mengejek.


"berisik" teriakku pada Alvis.


aku melanjutkan mandi ku dan terdengar suara pintu terbuka.


"apa yang kamu lakukan disini Safira"


"anu Kakak aku mau membasuh punggung mu" kata Safira malu-malu.


"a apa boleh?"


"ya silahkan"


'untung saja ini bukan pengalaman pertama' kataku sambil mengingat kejadian saat aku mandi bersama Olivia.


kami berdua pun mandi bersama dan Safira dia menggosok punggungku.


'cih anak kecil saja sudah ter isi' kutukku dalam hati melihat dada Safira.


setelah selesai mandi aku menengok anak yang aku selamatkan tadi.


"dia manis sekali tetapi sayang bajunya jelek" kataku sambil melihat baju kumuh yang dipakai anak itu.


aku pun memanggil Safira untuk dimintai tolong menggantikan baju anak ini.


setelah Safira selesai dan keluar dari kamar anak ini aku langsung mengantarnya untuk memilih kamar yang mau dia pilih.


setelah semua beres aku langsung kembali ke kamarku dan rebahan perlahan lahan aku terlelap dalam tidur.


pagi hari


aku terbangun dengan rambut yang acak-acakan serta baju tidurku sudah hampir terlepas.


aku langsung berdiri dan sedikit merapikan bajuku setelah itu aku keluar dari kamarku.


"tolong" suara keras terdengar dari kamar sebelah dan kamar itu ditepati oleh anak yang aku selamatkan kemarin.


aku langsung bergegas ke kamarnya dan melihat dia tengah ketakutan.


saat aku mendekati dia dan menaruh tanganku di kepalanya dia langsung memanggil ku sebagai.


"mama jangan tinggalkan aku aku takut" katanya sambil memelukku.


aku sempat kaget dan bingung dengan perlakuan anak ini, tapi karena aku kaget aku mengeluarkan kata.


"a aku bukan mama kamu" kataku lumayan kencang.


dia langsung melepaskan pelukannya dan menangis.


"hiks hiks hiks hiks hiks mama sudah membuang aku"


"hiks hiks hiks hiks hiks mama sudah benci aku"


"hiks hiks hiks hiks hiks maafkan aku aku gak akan nakal lagi"


dia menangis sangat kencang hingga membuat Safira yang tadinya mencuci di kamar mandi mendengar itu.


padahal jaraknya itu lumayan jauh sekitar 50 meter.


aku yang panik langsung mengatakan.


"sudah sudah mama gak membenci kamu kamu harus berhenti menangis" kataku panik.


dia langsung berhenti menangis saat aku mengatakan itu.


"hiks mama beneran masih sayang aku kan" tanyanya yang masih sedih.


"iya mama sayang kamu" kataku sambil tersenyum kaku.


'dia pasti sudah mengalami masa-masa yang sulit, padahal dia masih kecil'


'alvis status'


nama : Avila


ras : hing elf / dragon


kelamin : perempuan


umur : 8 tahun


level : 1


hp : 800


mp : 9.000


sp : 1.000


Berkembang


skill : -


elemen : air , angin


titel : anak dari orang yang di sukai Sivery.


'hah nama Sivery muncul lagi' aku menghembuskan nafas panjang.


"baiklah kalau gitu Avila mandi dulu dan makan biar sehat" kataku sambil tersenyum dan mengusap rambut Avila.


"baik tapi Avila mau mandi sama mama"


"baiklah"


kami berdua pun mandi bersama.


skip mandi



"hore" kata Avila sambil lompat.


"hati-hati nanti jatuh" teriakku yang membuat Avila terdiam.


"maaf" katanya sambil sedih.


"ingat kamu itu harus hati-hati dan jangan berlarian di lorong"


"baik"


"ya kalau gitu ayo makan"


kami akhirnya pergi makan bersama dengan makanan yang di masak oleh Safira.


setelah selesai aku berencana ke guild untuk memeriksa quest apa yang akan aku ambil.


saat aku berjalan keluar Avila memegangi bajuku dan berkata "mama mau kemana Avila ikut boleh" tanya dia sambil mengeluarkan mata anjing.


'dasar curang' aku yang tidak kuat dengan tatapan imutnya kalah 'imut itu sebuah kebenaran' kataku sambil mengepalkan tangan.


"baiklah kalau gitu avi ikut mama" kataku sambil menggendong Avila.


kami akhirnya pergi ke guild di karenakan jarak guild dan mansion ku itu jauh jadinya aku pergi ke guild dengan cara lompat lompat dari satu atap ke atap yang lain.


"waaaa" teriak Avila.


"apa kamu takut?" tanyaku padanya.


"tidak ini seru mama" katanya senang.


setelah beberapa saat kami akhirnya sampai di guild, aku menurunkan Avila dia berusaha untuk berdiri dengan susah payah.


dia berdiri dengan sempoyongan dan aku yang melihat itu pun tertawa kecil.


"mama jahat" katanya sambil mengembungkan pipinya.


'imut' aku akhirnya Tampa sadar mencubit pipinya.


"mama itu sakit" kata Avila sambil memegangi tangan ku.


"maaf maaf mama gak sengaja" kataku sambil mengelus rambut Avila.


saat aku mengelus rambut Avila dia terlihat senang dan menikmati itu.


bruk" dia terjatuh ketanah dan mukanya minta digendong aku yang melihat itu tersenyum dan menggendong Avila.


"Chloe hari ini belum ada quest rank s untuk kamu" kata Rania.


"tidak hari ini aku mau masuk ke dungeon tower"


"oh jarang jarang kamu masuk ke dungeon" Rania terkejut, dikarenakan Chloe selalu pergi untuk quest rank S sejak dia menjadi petualang rank S.


"ya" kataku tersenyum.


'sebenarnya aku disarankan oleh Alvis untuk masuk ke dungeon' batin Chloe.


"oh iya Chloe siapa yang kamu gendong itu" tanya Rania.


"dia putriku tercinta Avila" kataku dengan bangga.


kami pun mulai mengobrol banyak hal dan tiba-tiba ada seorang bangsawan masuk.


"Woi para rakyat jelata ayahku menawarkan banyak koin emas jika kalian ingin kalian harus menjadi prajurit ku" kata bangsawan itu dengan sombong.


semua orang yang mendengar suara itu langsung menoleh ke arahnya, dan mereka semua menatap bangsawan itu dengan tatapan yang menjijikan.


gimana tidak dengan tubuh gemuk dan muka kayak babi dia seperti villain yang klise di cerita isekai.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


terimakasih