
Klayra langsung masuk ke kamarnya tanpa mengucapkan apapun kepada Vino. Vino hanya mengikutinya dari belakang.
“Klay… “ Sapa Mamanya saat Klayra melewatinya begitu saja.
“Klayra kenapa Vin?” Mamanya Klayra sekarang beralih menatap Vino.
“Maaf Tante… Vino… Vino ga ngerti kenapa Klayra tiba-tiba…” Vino menggantungkan kata-katanya karena dia tidak mengerti bagaimana menjelaskan kepada Mamanya.
“Kamu ga aneh-aneh kan?” Tuntut Mama Klayra.
Tanpa menunggu Vino menjawab Mamanya segera naik ke Kamar Klayra. Dibukanya kamar anak gadisnya. Klayra sedang duduk dibawah disamping ranjang. Tangannya memeluk lututnya dengan erat.
“Klay…” Mama mengusap kepala Klayra lembut.
Klayra menengadahkan kepalanya. Wajahnya sudah banjir dengan air mata.
“Mah… bukan Klay yang salah…” Klay menyentuh tangan Mamanya, “Klay ga ngelakuin apapun… bukan Klay….”
“Ssssttt….” Mama meraih Klayra kedalam pelukannya, “Mama tau… maafin Mama sayang… Klay anak Mama yang paling baik… Ini semua bukan salah Klay…”
Mama mengelus lembut rambut Klayra. Klayra masih terisak dipelukan Mamanya. Vino hanya memperhatikan dari depan pintu.
“Sekarang kamu bangun dulu ya sayang…” Mama memapahnya bangun dan mendudukannya ditempat tidur.
Diambilnya obat dari laci disebelah tempat tidur Klayra. Disodorkannya ke Klayra agar dia meminumnya.
Kemudian Mama membantu Klayra membenarkan letak bantalnya agar Klayra bisa tidur. Dikecupnya kening anak gadisnya itu.
“Kamu istirahat dulu ya… Ga usah pikirin apa-apa.” Klayra hanya mengangguk. Mama menaikan selimut Klayra sebatas dadanya.
Saat bangun Mama Klayra sudah melihat Vino yang masih mematung didepan pintu.
Vino segera keluar diikuti Mama Klayra.
*****
“Klayra kenapa Tan?” Tanya Vino ragu sekaligus cemas.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Mama Klayra sambil menatap Vino penasaran. Berharap Vino menjawab dengan jujur.
Vino bingung, dia menautkan jari-jarinya saking gugupnya. Ditariknya nafas dalam-dalam.
Vino pun menceritakan semua yang terjadi dipantai, apa yang dia lakukan dan apa yang dia katakan saat Klayra tiba-tiba berubah histeris.
“Maafin Vino Tan… Vino ga ada maksud jahat sama Klay…”
Mama Klayra menunduk lemas. Air matanya menitik. Vino makin merasa bersalah.
“Tan… maaf…”
Mama Klayra menggeleng, “Ini bukan salah kamu Vino… Klay hanya belum siap karena traumanya. Tante harap kamu mengerti…”
Trauma? Gadis manisnya punya trauma?
“Hari ini kamu pulang dulu saja ya Vino… Tante mau temani Klay dulu…”
“Baik Tante… sekali lagi Vino minta maaf.”
*****
Alvia sudah siap-siap akan pulang ketika Vino menemuinya.
“Gw mau jenguk Klayra…” Ucap Alvia tanpa menunggu Vino bertanya.
“Gw boleh ikut?” Vino menatap Alvia penuh harap.
Alvia hanya mengangguk. Diperhatikannya Vino yang sekarang berjalan didepannya. Apa Alvia bisa sepenuhnya percaya pada Vino? Apa Vino benar-benar orang yang tepat untuk sahabatnya itu?
Vino membukakan pintu mobilnya untuk Alvia.
“Thanks…”
*****
Mama Klayra mempersilahkan Alvia agar langsung ke kamar Klayra. Mamanya Klayra sendiri yang menghubungi Alvia kemarin malam. Alvia benar-benar cemas, sehingga seharian tidak konsen di Sekolah.
“Gw tunggu disini aja Al…” Ucap Vino.
Alvia menoleh dan mengangguk. Alvia bisa melihat tatapan sangat khawatir dari Vino. Namun disisi lain dia takut kalau Klayra melihatnya akan membuatnya terluka lagi.
Alvia mengetuk pintu kamar Klayra, “Klay… gw masuk ya…”
Alvia membuka pintu kamar Klayra. Klayra sedang duduk bersandar di kasurnya. Alvia segera menghampiri Klayra dan memeluknya.
“It’s oke… semua baik-baik aja Klay…” Alvia mengusap punggung Klayra, “Ga ada yang perlu lo takutin.”
Dilepaskannya pelukan sahabatnya.
Alvia menatap mata Klayra yang berkaca-kaca, “Vino bukan orang itu… dan apa yang terjadi semua bukan salah lo…”
“Tapi Al…” Air mata Klayra terus mengalir tanpa bisa dibendung.
Dihapusnya air mata Klayra, “Gw tau lo… Gw kenal lo udah lama… Masa lo ga percaya sama kata-kata gw?”
Ditatapnya sahabatnya itu. Klayra memainkan jari jemarinya. Tangannya masih gemetar. Dilihatnya obat dimeja sebelah tempat tidur. Beberapa tercecer keluar dari tempatnya.
“Lo bisa Klay… Lo ga butuh obat-obat itu…”
Klayra terisak. Suara tangisnya semakin keras.
Vino yang melihatnya dari pintu merasa sangat sakit. Tangisan Klayra seakan menyimpan luka yang sangat dalam.
Vino merasa bersalah, karena dialah Klayra menjadi seperti ini.
Maafin aku Klay…
*****