He's My Past

He's My Past
#6



“Klay… sudah ditunggu teman kamu dibawah.” Mama mengetuk pintu kamar Klayra.


“Iya Mah, sebentar Klay turun.” Jawab


Klayra dari dalam kamar. Siapa pagi-pagi udah datang jemput?


Klayra segera mengambil tasnya dan turun. Baru sampai tangga Klayra sudah melihat cowo itu sedang mengobrol dengan Mama di meja makan.


“Pagi Klay…” Vino tersenyum kearah Klay.


Ngapain ni orang nongol jam segini?


“Sarapan dulu ya nak Vino… “


“Ga usah Mah, kita langsung berangkat aja.” Klayra segera menarik tangan Vino.


“Bye Tan…” Vino terburu-buru mengikuti langkah Klayra.


Sampai luar Klayra melepaskan tangan Vino.


“Ngapain sih pakai acara jemput segala?” Klayra bertanya sambil cemberut.


“Loh kan aku udah bilang bakal antar jemput kamu.” Vino gemas melihat bibir manyun Klayra. Rasanya pengen kecup aja. Upss….!


“Gue udah biasa berangkat sendiri!”


“Ga aman,”


“Ya udah, biar Mas Joko yang anter.” Klayra menyebutkan nama driver di rumahnya.


“Ga bisa… Aku udah izin kok sama Mama kamu klo mulai hari ini aku yang bakal antar jemput kamu.” Klayra menatap tajam kearah Vino, “Kenapa sih suka maksa?”


“Kamu kenapa susah nurut?”


Hhhhh… Klayra jengkel. Pagi-pagi mood udah dirusak cowo ini.


Klayra masuk ke mobil Vino, membanting pintunya dengan keras. Vino Cuma tersenyum dan segera menyusul ke balik kemudi.


Klayra malas ngobrol dengan Vino selama perjalanan. Jadi Klayra hanya menatap ke luar jendela.


“Marah?” Tanya Vino


“Hhhh… Salah w apa sih sama lo? Kenapa lo ganggu hidup w terus?” Klayra menoleh ke arah Vino.


Vino tersenyum, “Kamu itu kenapa bisa manis banget gini sih?”


“Ihhh… ditanya apa jawab apa?” Klayra makin kesel. Bibirnya udah manyun saking keselnya sama Vino.


Vino malah ketawa.


“Apa sih malah ketawa? Emang ada yang lucu?”


Vino meminggirkan mobilnya sebentar. Dia menoleh ke arah Klayra dan menatapnya dengan lembut.


Vino melepas sitbeltnya dan memajukan wajahnya hingga begitu dekat dengan Klayra. Klayra tambah salting sehingga memundurkan wajahnya sampai bersandar ke pintu mobil. Hembusan nafas Vino sangat terasa di kulit wajah Klayra. Klayra tidak berani menatapnya.


Hik! Tiba-tiba Klayra cegukan.


Kontan Vino malah tertawa dan duduk seperti semula.


Klayra yang salting cuma bisa menunduk.


Hik! Duhh… malah ga mau berhenti cegukan.


“Nih…” Vino menyodorkan minumannya kearah Klayra.


Klayra mengambil air mineral tersebut dan meminumnya.


“Kamu klo salting cegukan gitu ya?”


Klayra terbatuk-batuk.


“Haduhh maaf maaf… “ Ucap Vino sambil tetap menahan tawa.


Klayra… kenapa bisa salting begini sih didepan cowo ini? Mau ditaro dimana muka lo?


Vino kembali menjalankan mobilnya. Kasian kalau godain Klayra terus. Nanti dia beneran jadi ga suka gimana? Wahh bisa gawat. Gimana pun caranya Vino harus dapetin hati Klayra.


*****


Sudah hampir malam, tapi Vino masih asyik aja ngobrol sama Mama di ruang tamu. Entah apa yang diobrolin. Sesekali terdengar suara cekikikan dari Mama.


Tentu Klayra senang melihat Mamanya bisa tertawa seperti dulu lagi. Semenjak Papa ga ada Mama sudah jarang


tersenyum, ditambah Kak Adrian juga pergi meninggalkan kita. Mungkin Tuhan lebih sayang sama Papa dan Kak Adrian sehingga mereka dipanggil lebih dulu.


Klayra duduk disisi kolam renang. Sebagian kakinya ia masukkan ke air.  Klayra menatap langit yang malam ini tak ada bintang satupun. Sepi… sesepi hatinya saat ini. Dia kangen Kak Adrian dan Papa. Tak terasa air mata Klayra menetes. Seandainya bukan karena Mama, mungkin Klayra pun akan menyusul Kak Adrian dan Papa.


Tiba-tiba Vino sudah duduk disamping Klayra.


“Ga dingin disini?” Tanya Vino.


Klayra hanya menggeleng. Mengalihkan wajahnya kearah lain dan buru-buru menghapus airmatanya. Namun Vino dengan cepat menarik tangan Klayra sehingga matanya kini beradu, sangat dekat… Sampai Vino bisa melihat mata yang basah itu menampakan kesedihan yang amat sangat.


Vino meraih pinggang Klayra dengan satu tangannya yang lain. Memeluknya dengan erat.


Ketika dirasanya Klayra tidak akan meronta, Vino melepaskan pegangan tangannya, dan beralih memeluk bahu Klayra. Diusapnya lembut agar Klayra merasa nyaman.


Perlahan Vino mendengar suara isakan kecil ditelinganya. Tanpa membalas pelukan Vino, Klayra membiarkan airmatanya jatuh ke bahu Vino. Sakit yang selama ini  ditahannya, ia tumpahkan lewat airmata. Klayra menyembunyikan kesedihannya didepan Mama, karena Klayra tahu Mama pun sangat menderita karena kehilangan Papa dan Kak Adrian.


Entah berapa lama Klayra menangis dalam pelukan Vino. Vino pun hanya diam tak bersuara membiarkan Klayra menumpahkan semua kesedihannya. Vino ingin berbagi dengan gadis yang mulai ia cintai ini. Tapi Vino merasa sangat sulit, bahkan hanya untuk mendekatinya. Gadis yang berbeda dari gadis-gadis lain yang selama ini dekat dengan Vino.


*****