He's My Past

He's My Past
#17



Hari-hari berjalan seperti biasa. Seperti saat Klayra belum mengenal Vino. Meskipun berpapasan di sekolah baik Klayra ataupun Vino tidak saling sapa.



"Klay... Lo ikut prom kan?" Tanya Alvia mensejajari Klayra yang sudah kearah gerbang sekolah.



"Pengennya sih ga ikut, tapi lo pasti bakal ngerengek minta temenin."



Alvia nyengir, "Hehehe... Tau aja... Habis kan kita udah mau lulus, trus kita kan ga bakal satu kampus..."



"Bosen sama lo mulu..."



"Ihh... Kok gitu... Awas ya klo nyari-nyari gw."



Klayra tertawa melihat sahabatnya ngambek.



Dari jauh Vino hanya bisa memandanginya.



*****



Tangan Klayra terkena percikan darah. Dibuangnya pecahan vas bunga yang ia pegang menjauh darinya. Didepannya terkapar laki-laki dengan berlumuran darah.



Klayra jatuh terduduk. Tangannya gemetar ketakutan. Dia memeluk kakinya erat. Air matanya jatuh. Suaranya tidak bisa keluar bahkan hanya untuk berteriak meminta tolong. Kepalanya terasa sakit.



Dia tidak berani melihat ke arah lantai. Ada suara lemah yang mengerang. Klayra menutup kupingnya dengan kedua tangannya. Matanya ia tutup rapat. Dia takut... Dia tidak mau lihat atau dengar apapun...



*****



Klayra bangun dengan nafas tersengal. Keringat mengalir deras diwajahnya. Mimpi itu kembali menghantui Klayra.



Klayra mengambil obat di nakas sebelah tempat tidurnya dan meminumnya.



Ia rebahkan kembali kepalanya. Namun matanya tidak bisa terpejam. Bayangan itu... Wajahnya yang seharusnya Klayra berani menatapnya. Yang seharusnya Klayra berani berteriak meminta tolong. Karena Daniel brengsek itu, Klayra harus kehilangan orang yang dicintainya. Kalau seandainya saat itu Klayra lebih cepat mengumpulkan keberanian mungkin saat ini dia masih ada disini...



Airmatanya menetes.




Klayra menangis, menangisi Brian mantannya. Selama dua tahun Klayra menyalahkan dirinya sendiri. Bahkan kejadian itu menjadikan trauma bagi Klayra. Kalau aja Brian ga kenal Daniel, kalau aja saat itu Klayra berani menolak. Mungkin kejadiannya tidak akan seperti itu.



"Bri... Maafin aku..."



*****



Klayra memberanikan diri mengunjungi makam Brian. Hanya sekali semenjak kejadian itu Klayra mengunjunginya. Trauma itu bahkan membuat Klayra tidak bisa mengingat kenangan manisnya dengan Brian. Setiap kali Klayra merindukan Brian, setiap itu pula Klayra ingat kejadian di hotel itu.



Klayra mengusap pelan nisan Brian.



"Hai Bri..." Klayra tersenyum pahit.


"Maafin aku karena baru datang hari ini... Kamu baik-baik aja kan disana?"



Airmata menggenang diujung mata Klayra. Ditariknya nafasnya pelan-pelan. Ditahannya airmatanya agar tidak menetes.



"Aku udah baik-baik aja Bri... Aku udah ga apa-apa..."



Klayra tidak bisa menahan airmatanya. Percuma berpura-pura, Klayra tidak pandai menyembunyikan perasaan.



"Aku kangen kamu... Tapi aku benci selalu ingat malam itu..."



Klayra mengusap airmatanya yang tidak mau berhenti.



"Apa aku salah kalau sekarang ada orang lain di hati aku? Apa aku salah karena aku ada dikejadian dua tahun lalu itu? Apa aku ga berhak bahagia tanpa harus ada yang mengungkit tentang malam itu?!!!"



Klayra menahan isaknya, namun airmatanya sudah mengalir deras.



"Apa aku ga berhak bahagia? Aku kangen dia Bri... Aku kangen orang yang bahkan ga bisa nerima masa lalu aku..."



Klayra meluapkan emosinya didepan makam Brian. Menumpahkan segala kesedihan yang ditahannya. Dadanya sesak mengingat Vino. Walaupun Klayra ingin mencoba menjelaskan, Klayra takut... Takut untuk mengingatnya kembali, dan takut kalau Vino tidak akan percaya padanya.



Tidak ada yang bisa merasakan betapa sakitnya Klayra. Kalau bukan karena menyelamatkannya mungkin Brian masih ada sekarang.