
Alvia berkali-kali menelpon Klayra. Dia sudah menghilang selama 2 jam. Alvia panik setengah mati. Sudah tanya beberapa orang tapi tidak ada yang melihat.
Klay... Lo dimana?
Alvia terus menghubungi Klayra.
"Hallo..."
"Ya ampun Klay... Akhirnya diangkat juga! Lo dimana?" Alvia bernafas lega mendengar suara Klayra diseberang sana.
"Kita pulang ya Al... Gw tunggu di lobby."
"Oke gw langsung kesana."
***
Sepanjang perjalanan Klayra hanya diam. Alvia berkali-kali mencuri lihat kearah Klayra.
Klayra menghela nafas berat.
"Lo kenapa Klay?" Alvia menatap sahabatnya itu.
"Gak apa-apa kok..." Klayra melemparkan pandangannya keluar jendela. Dia masih memikirkan apa yang baru saja dia lakukan. Berharap dia tidak akan menyesali malam ini.
***
Vino terbangun dengan kepala berat. Dia menatap berkeliling. Kamar serba putih. Dia ingat semalam dia dibawa ke kamar ini oleh Revan dan.... Klayra? Semalam dia dan Klayra?
Vino membelalakkan matanya teringat kejadian semalam.
Ya Tuhan... Gw udah apain Klayra?
Vino merutuki dirinya sendiri. Dia buru-buru bangun dan memunguti pakaiannya di lantai. Segera dia kenakan pakaiannya dan keluar dari kamar hotel.
***
Klayra dan Alvia menatap sekolah mereka dengan perasaan haru.
"Bye putih abu-abu..." Ucap Klayra.
Alvia menoleh sambil tersenyum, "Welcome to the new adventure...!"
Mereka tertawa bersama-sama. Ya... Masa putih abu-abu sudah berakhir. Klayra dan Alvia memutuskan untuk kuliah ditempat yang sama. Awalnya Alvia ingin kuliah di Paris. Tapi karena Klayra tidak ingin jauh dengan Mamanya, jadilah mereka memutuskan untuk Kuliah di ITB - School of Business and Management.
"Yuk ah kita pulang!" Ajak Alvia.
"Ihh... Kok ngelamun sih? Ayo Klay...!"
"Ehh iya... Yuk!"
Klayra dan Alvia segera masuk ke mobil.
Drrtt... Drrtt...
"Iya Bi..." Klayra mengangkat telpon dari Bi Inah. Suara diseberang sana terdengar panik.
"Bi, pelan-pelan ngomongnya... Klay ga bisa denger..." Jawab Klayra sambil melirik ke Alvia.
Alvia menatap Klayra. Tiba-tiba saja air bening itu menetes begitu saja dari mata Klayra. Alvia menggenggam tangan Klayra mencoba mencari tahu apa yang dikatakan Bi Inah ditelpon.
"Iya Bi..." Klayra menutup telponnya.
"Mama Al..."
Alvia menarik Klayra ke dalam pelukannya.
“Mama meninggal…”
Alvia tidak bisa berkata-kata. Dia syok! Ya Tuhan cobaan apalagi yang Engkau berikan untuk Klayra?
*****
Klayra bersimpuh di makam Mamanya. Mama dimakamkan di sebelah makam Papa yang berdampingan dengan makam Kak Adrian. Tiga orang yang Klayra cintai sudah meninggalkannya. Dunianya seolah runtuh. Dadanya sesak menahan sakit dan sedih bersamaan. Kenapa Tuhan begitu tega merampas semua miliknya?
Klayra menangis histeris. Wajahnya sudah banjir dengan air mata. Alvia merasa sedih melihat sahabatnya. Alvia juga merasakan sakit yang sama.
Bi Inah dan Mas Joko berdiri di belakang Klayra sambil sesekali mengusap air matanya. Mereka sudah ikut dengan Keluarga Klayra bahkan dari sebelum Klayra lahir. Tentu saja mereka juga merasakan kehilangan.
“Klay…” Alvia mengusap lembut punggung Klayra. “Kita pulang ya…”
“Gw ga mau balik… Gw mau disini sama Mama, Papa dan Kak Adrian…”
“Klay…” Alvia benar-benar sedih mendengarnya. “Besok kita bisa kesini lagi kan? Gw bakal temenin lo kesini setiap hari… Tapi sekarang kita pulang ya…”
Klayra menatap Alvia dengan tatapan sendunya. Matanya penuh dengan kesedihan. Alvia membantu Klayra bangkit. Sesekali Klayra masih menoleh ke belakang, seolah tidak rela meninggalkan Mamanya disana.
******