
“Klay…!” Teriak Alvia begitu Klayra masuk gerbang sekolah, “Ahhhh… I miss you…”
“Ihh… padahal cuma 3 hari ga ketemu gw…”
“Tetep aja, ga ada lo ga asik… Hehehe…”
Alvia dan Klayra berjalan beriringan menuju kelas.
“Gw baik-baik aja kok…” Ucap Klayra ketika dilihatnya Alvia memandanginya.
Alvia tersenyum.
“Makasih karena selalu ada buat gw.” Ucap Klayra lagi, “2 tahun lalu dan sekarang…”
“Ahhh… gw jadi terharu…” Alvia ga tahan meneteskan air matanya.
“Udah ahh jangan nangis…” Klayra menghapus air mata sahabatnya itu. Klayra beruntung memiliki sahabat seperti Alvia.
Ketika saat terberatnya hanya Alvia orang yang selalu ada disampingnya selain keluarganya.
“Btw, gimana lo sama Vino?”
Klayra berhenti.
“Menurut lo dia gmn?” Tanya Klayra.
Klayra pun belum tau harus bersikap bagaimana kepada Vino setelah kejadian kemarin. Meskipun Vino bilang dia akan menerima masa lalunya, namun Klayra masih ragu.
“Menurut gw? Hmmmm…. Dia ganteng, hot, sexy, tajir melintir....”
Klayra mencubit pinggang Alvia.
“Awww…..”
“Serius….”
“Serius ya?” Alvia nyengir.
Klayra menunggu jawaban Alvia.
“Sejauh yang gw liat sampai sekarang, Cuma lo cewe yang berhasil buat dia ngejar-ngejar lo. Selama ini kan dia yang selalu dikejar-kejar cewe,”
“Trus?”
“Teruuuussss…. Ya berarti dia beneran lah suka sama lo…” Alvia gemes sama sahabatnya ini.
“Menurut lo gw harus gimana?”
Alvia menatap cengo kearah Klayra. Terkadang Klayra memang lamban klo urusan perasaan. Bikin Alvia tambah gemas.
“Terima dia.” Tegas Alvia.
“Tapi…”
“Tadi kan lo tanya pendapat gw. Menurut gw ya begitu…”
Klayra masih ragu. Bayangan dua tahun lalu masih membekas diingatannya. Bahkan membuat Klayra trauma dan ketergantungan dengan obat penenang.
“Klay… gw mau liat lo bahagia. Udah waktunya lo buka hati lo lagi.”
Klayra menarik nafas dalam. Mungkin kali ini Klayra akan coba percaya. Percaya kalau Vino ga mungkin berbuat hal yang sama seperti mantannya dua tahun lalu.
*****
Dari jauh Klayra sudah melihat Vino yang sedang berjalan menghampirinya. Dia melambaikan tangan dan tersenyum kearah Klayra.
“Hai cantik… I miss you so much…”
“Copy paste aja,” Complain Alvia.
Vino mngernyitkan kening. Klayra hanya tersenyum melihatnya.
“Wait… jangan gerak Klay!”
Gantian Klayra yang mengernyitakn kening.
“Udah diem kayak gitu aja soalnya senyum kamu manis banget…”
“Ehemm…” Alvia berdehem menggoda Klayra.
“Apaan sih? Norak banget gombalannya…Udah ah yuk ke kelas.” Klayra menggandeng lengan Alvia, “ Bye Vin…”
Vino bengong sebentar. Tumben Klayra pake ngucapin bye segala. Biasanya main pergi aja. Apa artinya Klayra ngasih lampu hijau?
Ihiyyy… Akhirny… Yes yes yes!
Vino jingkrak kegirangan membuat beberapa siswa siswi yang lewat melihat kearahnya. Vino ga peduli. Yang penting dia bahagia sekarang.
*****
Drrrt….drrrt….
Buaya darat
Gw tunggu diparkiran ya
“Siapa?” Tanya Alvia.
“Vino.”
“Owhh… ya udah gih sana, jangan bikin dia nunggu kelamaan, kasian nanti lumutan,hihihi…”
Klayra melirik Alvia. Sahabatnya ini ngebet banget kayaknya pengen Klayra jadian dengan Vino.
“Ya udah, gw duluan ya…” Pamit Klayra.
“Iya… hati-hati ya…” Alvia memonyongkan bibirnya, memberikan kiss dari jauh.
Klayra hanya melambaikan tangan membalasnya.
Klayra berjalan ke tempat parkir. Sesampainya disana ga ada mobil Vino..
Buaya darat is calling…
“Hallo…” Klayra menjawab telponnya.
“Maaf kelupaan… aku di parkiran motor.”
Ck… bisa-bisanya Vino ngerjain dia. Parkiran motor kan ada dibelakang sekolah.
“Kamu tunggu didepan aja, nanti aku kesana…” Ujar Vino dari telpon.
“Oke…”
Klayra menutup telponnya. Dia berjalan kembali kearah depan menunggu Vino. Ga butuh waktu lama Vino sudah ada dihadapannya dan menyodorkan helm berwarna merah.
“Yuk!” Ajak Vino.
Klayra menatapnya sebentar. Motor gede gini dan Klayra pakai rok. Akhirnya Klayra memilih duduk menyamping.
“Pegangan ya…”
Klayra pegangan ke bagian belakang dengan tangan kirinya.
Baru Vino menstarternya Klayra sudah kaget sehingga reflex tangan kanannya memeluk pinggang Vino. Vino tersenyum dibalik helmnya. Yess!
Sedangkan Klayra salting dibelakangnya.
“Mampir bentar ya…” Teriak Vino ditengah perjalananan.
“Apa?” Klayra harus mencondongkan wajahnya sedikit kesisi wajah Vino agar bisa mendengar apa yang dikatakannya.
“Kita mampir sebentar…” Ulang Vino dengan suara lebih keras.
Klayra hanya mengangguk.
Vino mengajaknya ke sebuah rumah dengan taman yang sangat luas. Dia memarkirkan motornya didepan rumah itu.
Beberapa pelayan menundukan kepalanya ketika Vino dan Klayra masuk. Klayra hanya menatapnya bingung. Kok kayak berasa di drama korea ya?
“Ini rumah kamu?” Tanya Klayra begitu sampai di ruang tengah.
“Iya… ini hasil aku belajar bisnis sama Papa…”
Wow… Klayra takjub juga. Semuda Vino sudah belajar bisnis. Sedangkan Klayra? Karena bergantung dengan Kak Adrian, Klayra malah sama sekali tidak mengerti bisnis.
Rumah Vino bergaya minimalis. Untuk rumahnya tidak terlalu besar. Justru dia membiarkan bagian taman yang luasnya bisa tiga kali dari luas rumah.
“Aku mau kasih hadiah buat kamu.”
“Hadiah?” Tanya Klayra.
Vino mengganguk. Kemudian dia mengajak Klayra ke taman belakang. Tidak ada apapun selain taman yang memang benar-benar indah.
“Tunggu disini ya…”
Vino kembali masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian dia sudah membawa kanvas dan peralatan lukis.
Dia menata peralatan lukisnya itu. Kemudian mengambil kursi untuk diduduki Klayra.
“Kamu duduk disini ya…”
Klayra hanya menurut. Meskipun dia ga yakin Vino benar-benar mau melukisnya dengan seragam sekolah. Apa ga ada niat membiarkan Klayra ganti baju dan dandan lebih cantik?
“Tenang aja… ga usah tegang…” Ucap Vino tanpa menatap ke mata Klayra, karena tangannya sedang sibuk dengan kuas dan kanvas.
Klayra berusaha duduk dengan rileks agar hasil lukisannya bagus. Meskipun jantungnya deg-degan ga jelas, karena Vino benar-benar menatap setiap inci postur dan ekspresi Klayra.
Apa Vino tahu kalau sekarang dia begitu tegang?
*****
Akhirnya up lagi...
Jangan bosen ya....