
"Hai Klay, Hai Al..."
Alvia hanya menoleh tanpa menyahut.
Suasana jadi sedikit tegang. Vino tiba-tiba merasa gugup.
"Gue ke toilet bentar ya..." Pamit Alvia. Alvia memberikan kesempatan terakhir untuk Vino menyelesaikan urusannya. Alvia sadar bagaimanapun sepertinya mereka berdua masih saling mencintai.
Alvia bertabrakan dengan seorang perempuan yang mengenakan topeng. Alvia memperhatikan kepergian perempuan itu. Hmmm... Kayak kenal, tapi siapa ya?
Sementara itu Vino dan Alvia sudah memilih bergeser tempat.
"Ada apa?" Klayra berusaha memecahkan kecanggungan mereka.
"Emmm..." Vino masih tau tahu harus bicara apa.
"Kita putus aja ya Vin..."
Hah? Seketika Vino menatap Klayra.
"Aku rasa lebih baik ga usah dilanjutin lagi." Klayra memainkan gelas yang dipegangnya. Gelasnya sudah kosong tapi seolah Klayra tidak mau meletakannya di meja.
"...."
"Aku minta maaf karena ga bisa jujur sama kamu... Aku pergi ya..." Klayra meletakan gelas kosongnya kemudian pergi meninggalkan Vino. Vino hanya terpaku ditempatnya. Dia bingung apa yang sebenarnya dia rasakan? Dia benci dengan masa lalu Klayra, dia benci karena Klayra tidak mau jujur padanya. Tapi kenapa sekarang rasanya sakit?
Seorang waiters meletakan minuman di meja Vino. Vino langsung meminumnya sekali teguk.
Sial...! Ini wine? Vino memperhatikan gelasnya kemudian mencari waiters yang tadi memberinya minum.
Ini pasti kerjaan Revan sama Beka.
Vino berdiri dari bangkunya. Kepalanya mendadak pusing. Sial! Dia pasti udah mulai mabuk. Kakinya tidak kuat berdiri. Dia berjalan sempoyongan. Badannya juga tiba-tiba terasa panas.
Vino berjalan menuju toilet. Baru sampai lorong dia berpapasan dengan Revan.
"Kenapa lo Men?" Tanya Revan melihat Vino jalan sempoyongan.
"Sialan, lo ngasih gue wine lagi?"
Revan menatap Vino bingung, "Loh, gue tadi minum-minum sama Beka doang pas lo lagi sama Klayra."
Sial! Siapa yang ngasih gue? Rutuk Vino.
Revan panik melihat Vino ambruk.
"Vin... Vin... Hadduh... Gawat..."
Revan celingak celinguk mencari bantuan.
"Klay!" Teriak Revan lega melihat Klayra yang baru saja keluar dari toilet.
"Vino kenapa?" Tanya Klay panik.
"Hadduhh... Tolongin gue Klay... Bukan gue yang bikin Vino mabok."
Klayra mengernyitkan keningnya.
"Jangan bilang-bilang ya Klay... Gue ama Vino emang minum wine, tapi dikit doang kok sumpah!" Revan mengacungkan jarinya membentuk huruf V.
"Ya udah terus ini gimana?" Klayra juga bingung. Kalau sampai ketahuan Guru gimana? Apalagi Vino mulai ngoceh ga jelas.
"Gue pesenin kamar aja ya... Lo bantuin gue ya please..."
Revan berlari menuju meja resepsionis tanpa menunggu jawaban Klayra. Hanya butuh beberapa menit sampai akhirnya Revan kembali.
"Lo tau men... gue diputusin Klayra? Hahahaha... seorang Vino diputusin cewe?"
Revan sesekali menengok ke arah Klayra. Klayra hanya fokus memapah Vino tanpa merespon. Dengan susah payah sampai akhirnya berhasil merebahkan Vino dikasur.
"Tolong jagain ya Klay..." Revan sudah berbalik hendak pergi. Tapi Klayra menarik tangannya.
"Ini Vino gimana?"
"Ya... kan lo pacarnya, tolong jagain aja sampai dia sadar. Oke? Please..." Revan menunjukan wajah memelasnya.
Kemudian tanpa menunggu jawaban Klayra dia sudah beranjak pergi meninggalkan Klayra dan Vino didalam kamar.
Klayra memandangi Vino yang berbalik memeluk bantal. Sesekali dia tertawa sendiri.
"Kenapa lo ninggalin gue Klay? Lo ngerasa sok suci sekarang? Hahaha..."
"Vin..." Klayra menghampiri Vino dan duduk disisi ranjang.
"Uhhh... Panas!" Teriak Vino. Ditariknya jas yang ia pakai. Dia buka dan lempar sembarangan.
"Vin... Kamu baik-baik aja?"
"Baik-baik aja??" Vino kembali tertawa. Dia berusaha bangun dan duduk bersandar.
"Kamu pikir aku baik-baik aja kamu putusin? Hah?!" Tanya Vino sambil menunjuk-nunjuk Klayra.
"Vin... Kamu mabuk?"
"Kamu ga tau aku sayang sama kamu hah??!! Kamu satu-satunya cewe yang buat aku jatuh cinta!"
"Vin..." Klayra berusaha meraih tangan Vino mencoba menenangkannya.
"Kamu tega Klay..." Ucap Vino pelan. Dia menatap tangan Klayra yang menggenggam tangannya. Dia tersenyum sinis.
"Maafin aku Vin..."
Vino beralih menatap Klayra. Disentuhnya pipi perempuan yang ia cintai itu.
"Kenapa kamu mau putus sama aku?"
"Maaf Vin..."
"Aku tanya kenapa?!!" Teriak Vino. Tangan Vino mencengkram leher Klayra.
"Vin..." Klayra memegang pergelangan tangan Vino. Klayra tidak bisa bernafas. Air mata jatuh dari sudut matanya.
Vino melepaskan cengkaramannya. Klayra terbatuk-batuk.
"Aku mau kamu Klay... Aku ga peduli masa lalu kamu..." Vino menangkup pipi Klayra dengan kedua tangannya.
"Aku mau kamu..." Vino menjatuhkan kepalanya diceruk leher Klayra. Klayra bahkan bisa merasakan hembusan nafas Vino.
Hallo... maaf ya bikin gantung ehehhe....
ditunggu next episodenya...
please bantu like, dukung penulis, dan love yaa...
thank you semua...😘