
Klayra keluar dari kelasnya. Dari jauh Vino sudah tersenyum melambaikan tangannya.
Klayra ga ada niat sedikitpun untuk menghampiri Vino.
“Al, gue bareng lo ya baliknya,” Bisik Klayra
“Lah, kan itu Vino udah nungguin… “
“Ihhh… Lo ga peka banget sih jadi temen. Kan lo tau gue ga suka sama dia,” Klayra jengkel kenapa Alvia seolah pura-pura lupa.
Alvia tertawa pelan, “Yaa… yaa… tapi dia tuh orang yang ga gampang nyerah loh.”
Klayra dan Alvia sudah hampir dekat dengan posisi Vino berdiri.
“Yuk cantik kita pulang…” Ajak Vino dengan senyum teramat manis. Pakai gula kali ah…
“Gue bareng Alvia,” Klayra buru-buru menggandeng Alvia posesif. Takut Alvia tiba-tiba jadi ga setia kawan.
“Gue ga boleh nih minjem temen lo?” Vino menatap Alvia. Duhh…. Alvia Cuma bisa noleh ke Klayra.
“Gue ada tugas bareng Alvia.”
Vino mengernyitkan kening kearah Alvia meyakinkan.
Ampun deh… Susah banget ngeles dari ni cowo.
“Ya udah gue anter sekalian aja,” Tawar Vino.
Huhhh… rasa-rasanya bakal percuma ngeles kayak apapun kalau kayak gini.
“Ya udah yuk, Klay!” Akhirnya Alvia yang jawab, daripada ga pulang-pulang kan?
“Yuk!” Vino mengajak Klayria dan Alvia menuju ke Parkiran.
Hari ini sepertinya Vino bawa mobil sendiri. Meskipun belum 17 tahun polisi juga ga ada yang berani nilang dia.
Vino membukakan pintu mobil untuk Klayra. Baru mau protes Alvia sudah mendorongnya agar masuk saja ke mobilnya. Akhirnya mau ga mau Klayra duduk juga.
*****
“Gue tunggu lo sampai lo kelar yaa…” Ucap Vino setelah menurunkan Klayra di rumah Alvia.
“Ehhhh… ga usah!”
“Ga apa-apa. Gue ga ada kerjaan juga kok! Gue tunggu lo di mobil ga pake protes!”
Klayra menutup pintu mobil Vino, menyerah untuk melanjutkan berdebat dengannya.
Sekarang Klayra masih di Kamar Alvia.
“Jadi….” Alvia menatap Klayra.
“Jadi apa?”
Hhhhh… Klayra mendengus kesal.
“Gue sih ga ngusir lo, Cuma kasian aja. Lagian kayaknya kali ini Vino serius deh sama lo.”
Klayra bukan gak mau percaya dengan semua yang Vino lakukan akhir-akhir ini. Hanya saja Klayra masih belum siap untuk membuka hati.
Alvia menyentuh tangan Klayra, “Klay… Gimana pun lo berhak bahagia. Jangan nyalahin diri lo terus karena kejadian yang lalu.”
Alvia mencoba menguatkan sahabatnya, ”Gw yakin Vino bisa nerima masa lalu lo…”
Klay terdiam. Masa lalu kelam Klayra yang hanya keluarganya dan Alvia saja yang tahu. Masa lalu yang Klay sendiri pun tidak ingin mengingatnya lagi.
*****
Klayra mengetuk kaca mobil Vino. Seketika dia langsung terbangun dari tidurnya. Ya… menunggu 3 jam membuat Vino mengantuk.
Vino menekan kunci mobil.
“Sorry gue ketiduran,” Ucap Vino saat Klayra masuk mobil.
“Gue yang kelamaan bikin lo bosen.”
Klayra berkata tanpa menoleh kearah Vino. Membuat Vino menahan senyum. Ampun… Cewe jutek tapi cantik ini bikin gemes…
“Jadi sekarang kita makan dulu ya sebelum pulang,” Ajak Vino.
“Gue udah makan,”
“Guew kan belum.”
Klayra baru ingat kalau dari tadi Vino menunggunya tanpa pergi kemana-mana. Akhirnya karena tidak enak Klayra menemani Vino makan.
Vino mengajak Klayra makan disebuah tempat makan sederhana. Semacam rumah makan pinggir-pinggir jalan. Sangat jauh dari cerita-cerita yang sering Klayra dengar.
“Kenapa? Heran gue makan disini?” Tanya Vino melihat Klayra bengong.
“Hah? Ga kok biasa aja.”
Vino mengajak Klayra duduk.
“Mbak May, biasa ya… “ Teriak Vino sambil melambaikan tangannya kepada Mbak-mbak penjaga warung yang sedang melayani pembeli lain. Hanya ada 3 orang pegawai dirumah makan ini. Sepertinya Vino memang sering kemari.
“Gue klo lagi kangen masakan rumah pasti makan disini.”
Vino memberi tahu Klayra walaupun dia tidak bertanya.
Klayra melihat mata Vino yang terlihat berbeda. Sedih kah? Yang Klayra tahu Vino disini tinggal bersama keluarganya. Beberapa kali Keluarganya masuk portal berita online. Tapi isi berita tersebut hanya memuat bagaimana harmonis dan bahagianya keluarga Adidaya. Kenapa Klayra seperti melihat hal yang berbeda dimata Vino hari ini?
*****