He's My Past

He's My Past
#21



Klayra memandangi foto yang sudah dia simpan rapat selama ini. Di foto itu Brian tersenyum sangat manis. Tangannya melingkar dibahu Klayra. Klayra menatapnya dari samping.



Klayra ingat saat foto ini diambil adalah hari terakhir setelah ujian kelulusan SMP. Pada saat itu mereka sama-sama berencana masuk ke SMA yang sama. Tapi apa daya Klayra sudah dipilihkan sekolah ditempat lain oleh Papanya.



Brian adalah tipe cowo yang sangat lembut dan perhatian. Selama 3 tahun pacaran tidak pernah sekalipun bertengkar sampai putus nyambung seperti pasangan yang lain. Berantem kecil pasti ada... Tapi itu selalu cepat selesai oleh Brian.



Memang ada yang sedikit berubah semenjak Brian SMA. Brian mulai merokok. Awalnya Klayra merasa wajar. Tapi lama-lama perubahan sikap Brian mulai terasa. Pernah suatu hari Brian memaksanya ikut balapan motor. Saat itu Brian kalah. Dan pertama kalinya Klayra melihat wajah marah Brian. Dia membanting helmnya didepan Klayra. Membuat Klayra ketakutan. Bahkan Brian menarik Klayra dengan kasar.



Ada saat sisi seperti itu yang ditunjukkan Brian, tapi tentu saja sisi lembutnya masih tetap mendominasi. Klayra bukan tipe orang yang bisa langsung ilfeel pada pasangan karena hal-hal seperti itu. Dia adalah tipe yang akan terus mencintainya apapun yang terjadi.



*****



"Bri... Jangan bergaul lagi sama Daniel ya..." Pinta Klayra kala itu. Klayra hanya berfikir kalau Daniel lah yang sudah mengubah Briannya.



"Apaan sih Klay? Masa kamu ngelarang aku punya temen sih?"



"Bukan gitu... Aku ga ngelarang kamu berteman sama siapa aja, tapi aku ga suka sama Daniel... Dia bikin kamu berubah..." Klayra menatap Brian dengan tatapan memohon.



"Bri..." Klayra menarik lengan baju Brian.



"Aku ga bakal aneh-aneh kok... Tenang aja." Ucap Brian sambil menggenggam tangan Klayra.



Klayra percaya pada kata-katanya. Tentu saja, karena Klayra tidak pernah sedikitpun meragukan kata-kata Brian.



*****



"Klay..." Teriak Alvia dari luar kamar Klayra, diiringi dengan suara ketukan pintu.



Klayra tersadar dari lamunannya. Disimpannya kembali foto Brian dibalik buku diarynya.



Klayra membuka pintu kamarnya.



"Gw bawain baju buat lo." Ujar Alvia sambil menunjukkan paper bagnya dengan logo khas desainer langganan keluarga Alvia. Karena kejadian kemarin Klayra tidak jadi menemani Alvia kesana. Jadilah Alvia sendiri yang malah mengantarkannya untuk Klayra.



"Padahal ga usah repot-repot..." Ucap Klayra sambil mengajak Alvia masuk.




"Oke..." Klayra menjawabnya sambil mengedipkan matanya.



Di dunia ini, selain keluarganya Alvia lah orang yang Klayra sayangi. Sahabat sejak kecil yang bahkan sudah seperti keluarga sendiri. Alvia jugalah yang Klayra hubungi saat kejadian malam itu.



"Hei... Kok ngelamun?" Senggol Alvia.



"Jangan benci sama Vino ya Al..." Ucap Klayra sambil menggenggam tangan Alvia.



Alvia mendengus. Masih saja Klayra membela cowo itu.



Klayra benar-benar tidak mau Alvia membenci Vino seperti dia membenci Brian. Layaknya Klayra, Alvia pun tidak menyukai Daniel. Semenjak dia tahu Brian berubah karena Daniel, Alvia jadi membenci Brian. Menurutnya seharusnya Brian bisa memilih untuk kebaikannya sendiri. Tapi ternyata dia tetap berteman dengan orang yang memberi pengaruh buruk untuknya.



"Al... Vino berhak kok marah sama gw karena gw ga jujur... Bukan salah dia klo sekarang dia jauhin gw..."



"Klay... Kenapa sih lo masih belain cowo yang jahat sama lo?"



Klayra menunduk, "Gw ga akan pernah berani bilang kebenerannya sama Vino. Lo tau kan siapapun ga mungkin bisa nerima masa lalu gw, termasuk Vino. Gw ga apa-apa kok... Gw cukup tahu diri untuk ga berharap lebih..."



Perlahan air bening itu menetes dari matanya.



"Klay..." Alvia sungguh merasa putus asa melihat Klayra seperti ini. "Semua orang punya masa lalu... Klo Vino ga bisa nerima itu, berarti dia bukan yang terbaik buat lo."



Alvia menarik nafas dalam. "Gw temen lo, gw tau lo... Masa lalu lo itu bukan salah lo... Kalo ga karena Brian pasti lo ga bakal kenal sama si Daniel brengsek itu!"



Alvia sudah tidak bisa menahan emosinya mengingat bagaimana Klayra menangis menelponnya malam itu. Suaranya gemetar ketakutan, kata-kata yang diucapkan Klayra tidak jelas. Membuat Alvia panik setengah mati.



*****




Jangan lupa terus dukung author yaa...



Klik like, love (favorite), & dukung penulis