He's My Past

He's My Past
#16



Klayra terbaring lemah di kasurnya. Semalam entah berapa obat penenang yang dia minum. Untung saja sampai pagi ini tidak terjadi apa-apa. Klayra hanya merasa tidak bertenaga.



Mama sudah mengabari Alvia tentang keadaan Klayra dikarenakan Klayra tidak bisa ke sekolah hari ini.



"Klay..." Mama membuka pintu kamar klayra.



Klayra menoleh ke arah pintu, "Iya mah..."



Mama menghampiri Klayra di tempat tidurnya. Klayra bangun dan bersandar di sandaran tempat tidur.



Mama membelai lembut rambut Klayra. Tidak ada yang bisa Klayra sembunyikan jika sudah berhadapan dengan Mama.



"Mama... Udah siapin rumah di bali kalo kamu mau pindah..."



"Klay ga apa-apa kok Mah..."



Berkali-kali memang Mama meminta Klay pindah dari sini. Bahkan rumah di Bali memang sudah dipersiapkan Kak Adrian untuknya. Terlalu banyak kenangan yang tidak bisa Klayra tinggalkan. Masa lalu itu memang sangat menyakitkan, tapi diantara kenangan buruk itu ada terselip kenangan bersama dia yang Klayra tidak bisa lupakan.



*****



Vino membuka email yang sudah dikirimkan oleh Deni. Soft file berisi foto-foto kamar hotel yang berantakan, beberapa foto fokus pada noda darah di lantai, vas bunga dengan bercak darah, dan gambaran posisi korban di lantai dengan tinta putih.



Vino mengernyitkan keningnya.



Yang selanjutnya adalah rekaman cctv yang menunjukkan seorang perempuan sambil berangkulan masuk ke kamar hotel. Mereka jalan dengan sempoyongan yang menandakan mereka mabuk.



Vino mencoba menafsirkan semua ini. Cewe itu Klayra? Dia masuk ke hotel sama Daniel?



Vino ga bisa berfikir. Apa maksudnya dengan foto dan video ini? Daniel meninggal setelah check in dengan Klayra?



Drrt... Drrt...



Ada berkas-berkas yang sengaja dimusnahin, termasuk rekaman cctv saat Klayra check out. Ada laporan kepolisian soal pembunuhan Daniel, tapi ga ada detail apapun yang bisa gw dapetin disana.



Vino membaca pesan yang dikirimkan Deni.



Apa maksudnya ini semua? Klayra seorang pembunuh???



*****




"Al... Gw mau ngomong."



Alvia menghentikan langkahnya dan mengangguk. Mereka menuju mobil Vino.



"Ada apa?" Tanya Alvia setelah di mobil.



Alvia memutuskan untuk berbicara di mobil saja dibanding harus di tempat lain.



Vino memberikan handphonenya pada Alvia, menunjukan email dari Deni.



Alvia tercengang, "Vin.. elo..." Alvia ga nyangka Vino menyelidiki sendiri tentang masa lalu Klayra.



"Kasih tau gw yang sebenernya Al..."



"Gw udah bilang sama lo kan ini bukan ranah w buat cerita. Dan gw juga ga habis pikir maksud lo dengan lo ngegali masa lalunya Klayra sampai kayak gini?" Alvia menatap Vino dengan tatapan tidak percaya.



"Gw berhak tau gw pacaran sama cewe kayak gimana kan?"



"Itu yang lo lakuin ke semua cewe-cewe lo?" Tanya Alvia dengan emosi.



Vino tidak menjawab.



"Ternyata gw salah... Gw fikir lo tulus sayang sama Klayra..." Alvia menggeleng. "Gw nyesel karna udah ngedukung Klayra sama lo!"



Alvia menyerahkan handphone Vino dengan kasar dan langsung keluar mobil dan menutupnya dengan keras.



Vino meninju stirnya dengan emosi.



"Arrghhhhh!!! Sial!!!"



Cewe macam apa lo Klay??? Free sex dan pembunuh???



Vino bisa gila! Bagaimana bisa Klayra orang yang sangat dicintainya adalah orang yang tak pernah sama sekali Vino bayangkan.



Apalagi yang lo tutupin Klay?!



Vino frustasi. Seketika pandangan tentang betapa manisnya Klayra berubah menjadi betapa mengerikannya dia. Vino tidak bisa membayangkan wajah manis itu menusuk Daniel dengan Vas bunga yang pecah. Cewe berkedok lugu itu yang bahkan sudah membuat Vino tergila-gila.