
Klayra menatap hasil lukisan Vino. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Vino memang punya bakat melukis.
“Ini hadiah buat kamu…” Ucap Vino sambil tidak melepaskan pandangannya dari hasil karyanya sendiri.
“Ini bagus banget Vin…”
“Suka?”
“Suka banget…” Klayra menoleh karena Vino yang sekarang sedang menatapnya.
“Lukisan ini special banget karena ini lukisan terakhir aku…”
“Loh? Kenapa?”
“Hmmm… Soalnya kamu bakal terus disamping aku, jadi ga perlu aku lukis lagi.” Vino menampilkan senyum jahilnya. Senyum yang seperti berbeda dengan isi hatinya. Klayra berasa jadi cenayang nebak-nebak ekspresi Vino. Ekspresi ga jujur…
“Aku anter kamu pulang setelah makan ya… Aku tadi udah pesenin supaya buatin makanan kesukaan kamu.”
Vino mengajak Klayra ke meja makan. Disana sudah terhidang berbagai menu seafood. Ga perlu bertanya kan darimana Vino tahu kesukaannya? Entah seberapa banyak yang Vino tahu tentang Klayra. Klayra hanya berharap Vino tidak tahu masa lalunya.
“Kapan-kapan aku mau ajak kamu ke Bandung, aku baru buka café disana,” Ucap Vino sambil mengunyah makanannya. Klayra duduk dihadapannya.
“Oh ya? Kamu punya café juga?”
“Café kecil-kecilan kok,” Vino nyengir.
“Tetep aja… menurut aku kamu hebat banget… bisa kepikiran bisnis di usia segini,”
“Lebih tepatnya sih harus mikir, ehehehe….”
Klayra seperti melihat sisi lain Vino. Bukan Vino yang biasa ia temui di Sekolah, bukan Vino yang selalu menebar pesona, bukan pula Vino yang dia baca di portal berita online. Tapi Vino yang Klayra sendiri pun ga berani berasumsi, berasumsi bahwa sebenernya Vino tidak sebahagia yang terlihat.
“Aku juga pengen belajar bisnis,” Celetuk Klayra.
“Klo sesuai keinginan dan pasion kamu bagus dong.”
“Aku mau bantu Mama…” Klayra meletakkan sendok di piringnya. Perutnya tiba-tiba terasa kenyang padahal makanan didepannya begitu menggoda.
“Kasian Mama klo berjuang sendirian…”
Klayra menunduk. Rasanya sangat kangen dengan Papa dan Kak Adrian.
Vino menggenggam tangan Klayra, “Sabar… kamu pasti bisa bantuin Mama kamu…”
Klayra menarik tangannya.
“Atau… mau ke Australi bareng aku?”
“Kok Australi?”
“Iya, aku harus kuliah disana sekalian belajar disalah satu perusahaan Papa. Kalo ada kamu aku pasti semangat banget…”
“Aku ga mungkin ninggalin Mama kan? Mungkin aku tetep bakal kuliah disini,” Ucap Klayra akhirnya.
“Aku sedih loh harus ninggalin kamu…. Kamu ga bakal cari pacar lagi kan?”
“Loh... sekarang aja aku ga punya pacar kok!”
“Hah? Terus aku ga dianggep?” Vino menunjukkan wajah pura-pura cemberut.
Klayra tertawa melihatnya.
“Serius kamu masih ga anggap aku pacar kamu?” Tuntut Vino.
“Emmmmm…” Klayra pura-pura mikir, sambil dilihatnya ekspresi Vino.
Vino masih menaikkan alisnya, masih menunggu kelanjutan kata-kata Klayra.
“Mau janji satu hal?” Tanya Klayra setelahnya.
“Apapun aku janji,”
“No, kamu harus dengerin kata-kata aku dulu…”
“Oke. Apa?”
“Kamu harus janji klo kamu bakal selalu jujur sama aku dalam hal apapun…”
“Owhh siap klo itu sih…”
“Termasuk klo kamu tiba-tiba berubah pikiran setelah tau kisah aku…”
Vino memperhatikan wajah Klayra. Wajah cantik yang menutupi kisahnya. Kisah yang Vino sebenarnya pun masih ragu untuk mengetahui kebenerannya. Sekaligus membuat Vino penasaran.
“Aku belum bisa kasih tau kamu sekarang…”
“Aku ga bakal maksa kamu cerita klo kamu belum siap. Tapi aku pasti janji sama kamu kalo aku ga bakal ninggalin
kamu…”
*****
Cari tahu kejadian 2 tahun lalu
Massege send…
Maafin aku Klay…