He's My Past

He's My Past
#24



"Sialan lo! Lo pikir gw deketin karena apa?!! Gw temenan sama lo cuma buat dapetin Klayra! Sialan!!" Daniel menendang perut Brian berkali-kali.Dia terus menendangnya tanpa ampun seperti orang kesetanan.


"Daniel aku mohon jangan!" Klayra menahan kaki Daniel dengan kedua tangannya.


Daniel berhenti menendang dan berbalik menatap Klayra. Dia berjongkok. Disentuhnya dagu Klayra.


"Lo ga sadar yang udah ngejebak lo siapa?"


Klayra tidak berani menatap Daniel. Matanya masih tertuju pada Brian yang tergeletak didekat kakinya.


"Lo harus inget yang ngejerumusin lo kesini itu Brian."


"Ga! Ga mungkin!" Klayra menggeleng.


Daniel tertawa, "Lo masih percaya sama cowo lo itu hah?!"


"Brian bukan orang kayak gitu!" Bela Klayra. Kali ini Klayra menatap mata Daniel dengan tajam.


"Brian bukan cowo brengsek kayak lo! Cuih...!!" Lanjut Klayra dan meludahi wajah Daniel.


Daniel mengelap wajahnya dengan kasar. Wajahnya merah padam menahan amarah yang sudah siap meledak.


Jantung Klayra serasa mau berhenti. Klayra tidak tahu apalagi yang akan Daniel lakukan padanya?


Tuhan... Tolong...!


Klayra menutup matanya saat tangan Daniel sudah siap melayang menamparnya. Tapi yang terdengar selanjutnya adalah sebuah suara pukulan.


Dibukanya mata Klayra. Brian dengan sisa tenaganya memukul Daniel.


"Aku ga jebak kamu Klay... Kamu harus percaya sama aku..." Ucap Brian pelan sambil menatapnya.


Tentu Klayra selalu percaya kata-kata Brian. Apapun itu Klayra pasti mempercayainya.


Daniel lagi-lagi menonjok Brian. Membuat Brian kembali tersungkur. Ditonjoknya wajah Brian berkali-kali hingga babak belur. Bahkan sampai Brian tidak sanggup lagi membalasnya.


Klayra semakin panik melihatnya. Otaknya tidak bisa berfikir jernih. Suara erangan Brian membuat kepalanya serasa mau meledak. Matanya sudah tidak bisa melihat dengan jelas karena terhalang air mata yang tidak mau berhenti mengalir.


Dalam beberapa saat suara erangan Brian sudah tidak terdengar, namun Daniel masih memukulnya dengan membabi buta.


Entah keberanian darimana, Klayra mengambil pecahan vas bunga dilantai. Digenggamnya dengan erat.


Klayra terjatuh lemas. Dia mundur perlahan, menjauh dari tubuh Daniel yang sudah tidak bergerak.


Klayra memeluk lututnya erat. Dia tenggelamkan wajahnya dipahanya.


Klayra menangis kencang. Dilepaskannya semua sakit yang ia tahan. Tubuhnya berguncang disela tangisnya. Untuk beberapa saat Klayra hanya menangis.


Sesekali terdengar suara seperti ada yang meminta tolong, namun sangat pelan dan hampir tidak terdengar. Klayra tidak berani mengangkat kepalanya. Klayra takut kalau itu suara Daniel.


Diraihnya ponsel yang tergeletak disisi tempat tidur.


"Hallo..." Jawab suara diseberang sana.


"Al... Tolong..."


  *


Alvia segera menghubungi Kak Adrian dan juga polisi. Ditemani petugas hotel, Polisi masuk ke kamar dimana Klayra berada.


Keadaan kamar sudah sangat berantakan. Polisi mengecek detak jantung Daniel dan Brian. Kemudian polisi tersebut memberi kode gelengan kepala.


Alvia menghambur memeluk Klayra yang duduk disisi tempat tidur yang hanya berselimutkan kain. Alvia hanya berharap apa yang menjadi firasatnya tidak benar.


"Al... Tolong Brian..." Klayra menangis dipelukan Alvia. Alvia tidak tahu harus merespon seperti apa? Alvia sangat syok ketika menerima telpon dari Klayra. Apalagi saat mendapati dia di kamar ini, dengan Daniel dan Brian yang sudah meninggal.


"Klay..." Kak Adrian menyentuh bahu Klayra.


Dilepaskannya pelukan Klayra dari Alvia.


"Kak..." Klayra beralih memeluk kakaknya.


"Sssttt... Udah ga apa-apa... Kakak udah disini..." Hatinya sangat sakit melihat kondisi adiknya seperti saat ini. Dia merasa gagal menjaga Klayra. Bagaimana bisa dia tidak tahu kalau adiknya tidak pulang kemarin malam? Adrian sangat marah ketika mengetahui dari Alvia kalau Klayra pergi bersama Brian. Selama ini Adrian memang sudah mengenal baik Brian dan keluarganya. Brian datang dari keluarga baik-baik. Dan selama mengenalnya pun Brian tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh. Tapi kenapa bisa terjadi seperti ini?!


Adrian mengusap punggung Klayra. Perlahan pelukan Klayra ditubuh Adrian melemah. Kemudian Klayra pingsan.


  *


Jangan lupa dilike, dukung penulis dan favorite kan novel ini 🤗