
Klayra terbangun di rumah sakit. Sudah ada Mama disampingnya.
"Mah..." Klayra berusaha bangun.
"Ssstt... It's oke... Kamu istirahat aja jangan banyak gerak dulu..."
Klayra merasa seluruh tubuhnya sakit. Ketika Klayra teringat apa yang terjadi, dia seketika menangis histeris. Dia berteriak dan menjambak rambutnya sendiri.
"Klay..."
Mama panik. Kak Adrian masuk bersama Dokter. Suster membantu memegangi tangan kanan dan kiri Klayra agar tidak mengamuk, dan Dokter menyuntikan obat penenang.
Mama menangis melihat keadaan putrinya. Adrian memeluk Mama dan mengusap lembut punggungnya.
Klayra sudah mulai tenang dan tertidur.
Polisi beberapa kali berusaha menginterogasi Klayra, namun Dokter tidak mengizinkan karena kondisi psikis Klayra yang belum memungkinkan. Klayra tidak bisa didekati oleh siapapun terutama laki-laki. Dia akan berteriak histeris dan melempar apapun yang ada didekatnya. Bahkan Kak Adrian pun pernah terluka akibat dilempar gelas oleh Klayra.
Polisi sudah memeriksa cctv dihotel. Rekaman menunjukan Klayra masuk ke hotel dengan Daniel dalam kondisi mabuk. Brian dan salah seorang teman Daniel masuk setelahnya. Roni yang adalah teman Daniel pada rekaman tersebut sudah dimintai keterangan oleh polisi. Sementara kasus ini ditangguhkan karena masih menunggu Klayra pulih.
▪️▪️▪️▪️▪️
Alvia ingat betul bagaimana Klayra harus berjuang melawan depresinya. Alvia sangat merasa marah mendengar penuturan Klayra tentang bagaimana Daniel menjebak dan memperkosanya. Bagaimana dia menyiksa Klayra seperti seorang psikopat.
Tidak sampai disitu. Klayra bahkan harus bolak balik diperiksa oleh Polisi terkait sidik jarinya yang ditemukan di vas bunga yang menyebabkan kematian Daniel. Ditambah dia harus kehilangan Papanya karena kecelakaan.
Pernah sekali Alvia menemukan Klayra pingsan di Kamar mandi dengan darah yang mengalir dari pergelangan tangannya. Dia mencoba bunuh diri. Pengadilan memang memutuskan Klayra tidak bersalah, semua berkas-berkas kejadian itu pun berusaha disembunyikan oleh Kak Adrian dari semua media. Tapi itu semua bukan berarti kejadian tersebut bisa dilupakan begitu saja bukan?
Alvia dan Kak Adrian berusaha setengah mati membuat Klayra pulih seperti sekarang. Alvia tidak mau Klayra kembali sakit karena Vino.
▪️▪️▪️▪️▪️
Alvia memiringkan kepalanya mencoba mencuri lihat layar handphone Klayra.
Klayra yang sadar tingkah Alvia kemudian menyodorkan handphonenya.
"Wow... Cakep banget pantainya... Dimana ni?" Tanya Alvia.
"Bondi beach... Dipinggiran kota Sydney... Ini ada di list pantai yang pengen gue kunjungi..."
"Ajak gue yaa..." Alvia memasang wajah sok imut.
"Tapi lo yang beliin gue tiket."
"Oke. Lo yang bayarin hotel sama makan." Ujar Alvia.
Klayra tertawa. Kalau urusan jalan-jalan Alvia emang paling cepet nyambungnya.
"Sekarang lulus dulu baru ngurusin jalan-jalan..." Ucap Klayra.
"Salah. Yang bener daftar kuliah dulu baru jalan-jalan..."
"Tumben bener?"
Mereka tertawa bersamaan.
Ya... Alvia saja sudah cukup. Aku ga butuh orang lain kan buat bahagia? Gumam Klayra dalam hatinya.
▪️▪️▪️▪️▪️