He's My Past

He's My Past
#31



Setelah melalui tes. Dokter Maria menyatakan Klayra positif hamil 3 bulan. Klayra hanya bisa diam tanpa berkata apa-apa. Dokter Maria hanya menggenggam tangan Klayra lembut seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja.


Bagaimana bisa semuanya baik-baik saja? Bagaimana bisa Klayra tidak merasakan perubahan ditubuhnya? Dia meraba perutnya, mengusapnya pelan, berdiri menghadap cermin dan mengangkat kausnya untuk melihat perubahan di perutnya. Tidak ada perubahan yg signifikan walau memang perutnya sedikit buncit. Apa bayinya sehat?


Klayra duduk ditempat tidurnya. Tangannya masih mengelus lembut perutnya. Tidak ada air mata saat mendengar Dokter Maria menyatakannya positif hamil. Tidak ada perasaan sedih. Hanya saja Klayra tidak yakin, apa semuanya benar-benar akan baik-baik saja? Apa Vino akan menerimanya?


Andai saja Klayra tahu dimana Vino. Alvia memberitahunya kalau dia mendapat kabar tentang Vino. Tanpa sengaja Alvia bertemu dengan Revan di Paris. Ternyata Vino melanjutkan kuliah di Australia.


Ya... Klayra baru ingat kalau Vino memang pernah mengatakan dia akan melanjutkan kuliah disana. Apa itu artinya Klayra tidak bisa mengatakan tentang kehamilannya?


Klayra memandangi handphonenya. Sejak tadi whatsapp dari Alvia belum dibalasnya. Alvia sudah menanyakan kapan Klayra akan menjenguknya di Paris? Bahkan Alvia mengirimkan foto-foto indah pemandangan Paris.


Al... maafin aku karena aku ga akan mungkin bisa jengukin kamu disana...


******


Memasuki bulan ke 4 kehamilan Klayra merasa makin kepayahan. Tubuhnya tidak bisa diajak bekerja. Sudah tidak ada pusing atau mual. Tapi dibawa jalan sebentar saja Klayra sudah merasa cape.


Sebelum perutnya semakin buncit. Akhirnya Klayra memutuskan untuk pindah ke Bali dengan Bi Inah. Mas Joko akan tinggal menjaga rumah di Jakarta.


Berat... tapi bagaimanapun Klayra tidak mungkin tetap disini sementara orang-orang akan mencibir dan menghinanya karena hamil diluar nikah.


*****


Bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu kini sedang digendong Bi Inah. Suara tangisnya nyaring memenuhi ruangan. Klayra menangis haru. Betapa bahagia mendengar tangisan pertama bayinya. Perjuangannya menahan sakit dari kemarin malam terbayar sudah. Bayi mungilnya Anna Adriyani lahir dengan sehat.


Klayra mendekap bayinya sambil memberikan ASI pertamanya. Inikah rasanya menjadi seorang Ibu? Klayra membayangkan Mamanya dulu juga melalui hal ini. Mempertaruhkan nyawanya untuk melahir buah hatinya.


Mah... Ini cucu Mamah... Maaf karena cara Klayra salah...


******


Alvia memang hampir setiap hari melakukan video call dengan Klayra. Kecuali tentu saja 2 hari kemarin saat Klayra di rumah sakit.


Sampai saat ini Alvia masih belum tahu tentang Anna. Klayra tidak mau menceritakannya karena takut membuat Alvia khawatir.


"Maaf... kemarin sibuk banget..." Ucap Klayra berbohong.


"Eh kok muka lo pucet banget gitu sih Klay... Lo ga kenapa-napa kan? Trus kok lingkaran mata lo item banget gitu sih?"


"Gue gak apa-apa kok Al.. cuma kurang tidur aja..."


"Kurang tidur kenapa? Lo bukannya lagi liburan di Bali?"


Catat. Klayra juga belum memberitahu Alvia tentang kepindahannya ke Bali.


"Kebanyakan jalan-jalan sampe gak bisa tidur, ehehehe..."


"Ya udah kabarin kalau ada apa-apa... Kabarin juga kalau udah mau balik ke Jakarta."


"Iya iya... Miss you..."


"Miss you too... Bye..."


"Bye..."


Maaf ya Al karena belum bisa kasih tau lo


****