
🌻🌻🌻
Kini Hanna tengah duduk di dalam mobil bersama Rama. Awalnya Hanna menolak itikat baik Rama, tapi Rama memaksa Hanna, ia lebih khawatir jika Hanna menaiki kendaraan umum dengan kondisi tanpa dalaman.
"Lo mau orang lain tau lo lagi gak peke dalaman." sarkas Rama yang membuat Hanna berfikir dan menerima tawaran Rama.
Di dalam mobil Rama, Hanna menutupi dadanya dengan tas yang ia bawa. Sebenarnya dadanya tidak terlihat menyumbul lantaran baju over size Rama tapi Hanna merasa Rama bisa melihat isinya, dan sesungguhnya dengan ia memeluk tas di dadanya membuat pikiran Rama malah semakin kemana-mana.
Rama cekal kemudi dengan erat, ia berusaha menormalkan pikirannya, Hanna memang guru lesnya tapi bagaimanapun juga Rama adalah pria normal. Sesekali Rama gosok tengkuknya guna menghilangkan rasa canggungnya.
"Lo gak cari makan dulu?" tanya Rama tapi masih fokus dengan pandangan jalanan.
Hanna yang mendengar ucapan Rama menjadi celingak-celinguk, ia merasa Rama sedang bicara padanya tapi pandangannya masih fokus ke jalan, apa jangan-jangan Rama sedang bicara di telefon. Hanna memilih diam tidak menjawab.
"Telinga lo ikut kemasukan air ya? Gue tanya bener-bener lo cuma diem aja?" Kesal Rama yang tidak di gubris oleh Hanna.
"Kamu bicara sama saya?" Hanna memastikan.
Rama benar-benar kesal dengan jawaban Hanna yang malah bertanya pada Rama "Lo itu aneh tau gak, ya masak gue ngomong sendiri sementara di dalam mobil cuma ada lo sama gue?"
"Saya kira kamu sendang telefon."
Rama berdecak kesal mendengar jawaban Hanna.
Kembali Raka bertanya, "Ini ya, dengerin baik-baik, Lo gak cari makan dulu?" ucap Rama penuh penekanan.
Pasti enak makan mie ayam atau nasi goreng di kaki lima tapi kembali Hanna menunduk melihat penampilannya. Ia jadi menggelengkan kepalanya semua itu tak luput dari lirikan Rama.
"Gimana?" kembali Rama bertanya
"Gak usah deh, langsung pulang aja." Hanna memilih menolak tawaran Rama.
kruuuuccuuukkk.....
Sayang sekali perutnya tidak bisa menolak, Hanna benar-benar di buat malu oleh suara perutnya.
"Gue rasa perut lo lebih membutuhkan makan." Ucap Rama dengan bibir yang tertarik ke atas.
Hanna lebih memilih mengalihkan pendangannya ke luar jendela.
"Gue mau tanya sama perut lo aja, mau cari makan apa?" Rama sudah menoleh pada Hanna.
Hanna masih tidak mau mengalihkan pandangannya dari jendela. "Mie ayam aja." jawabnya singkat.
"Gue gak tau yang enak dimana?"
Hanna menghilangkan rasa malunya, ia alihkan pandangannya pada jalanan di depan.
"Di depan situ ada mie ayam enak, harganya murah ayamnya banyak." tunjuk Hanna pada jalanan di depannya yang terdapan beberapa pedakang kaki lima.
Rama menghentikan mobilnya di dekat gerobak penjual mie ayam, karena hanya ada satu penjual mie ayam di sekitar jalan yang di tunjuk Hanna.
"Yakin lo yang ini?" Rama kembali memastikan sebelum turun dari mobil.
Hanna mengangguk yakin, karena memang ia sudah langganan di tempat ini, apa lagi tempat ini tidak jauh dari kostnya.
Rama turun lebih dulu, sementara Hanna masih ragu antara turun apa menunggu saja di dalam mobil. Rama berjalan mendekat pada sisi mobil.
"Lo gak turun?" tanya Rama
"Saya tunggu di sini saja."
"Lo mau buat mobil gue bau mie ayam!" ucap Rama
Hanna akhirnya memilih turun, ia masih memeluk tasnya di dada. Hanna mencari tempat duduk yang paling belakang agar ia bisa menghadap ke belakang dan tidak akan ada orang yang memperhatikan penampilannya. Setelah memesan, Rama ikut duduk di sebelah Hanna.
Rama mendekat dan berbisik pada Hanna. "Dengan tas lo yang di dada, itu semakin membuat lo jadi pusat perhatian orang."
Hanna seketika menoleh pada orang yang ada di sekitarnya, memang tidak banyak hanya sekitar empat orang tapi entah perasaan Hanna atau memang mereka memperhatikan Hanna, terlihat mereka juga memandang Hanna.
Hanna kembali menghadap belakang lantas meletakan tasnya di atas pangkuannya.
Setelah pesanan mereka datang mereka mulai menyantapnya, Hanna terlihat begitu menikamati, Rama sesekali tersenyum melihat Hanna menyantap mie ayam, mulut Hanna yang penuh dengan mei ayam membuatnya terlihat lucu oleh Rama.
"Ini gue makan, sok tau lo?" Rama kembali menyantap mie ayamnya.
Setelah selesai, mereka kembali masuk kedalam mobil, Rama mulai menginjak gas. Hanna sudah tidak memeluk tasnya lagi, entah ia lupa atau memang sudah nyaman, tapi memang itu lebih baik jadi Rama bisa menjadi fokus karena memang tonjolan Hanna tidak menonjol sama sekali.
Hanna memutar kepalanya, ia merasa melihat seseorang yang ia kenal di seberang sana sedang makan di kaki lima.
"Kanapa?" Tanya Rama heran dengan Hanna yang seperti melihat sesuatu.
"Saya pikir saya melihat orang yang saya kenal," jawabnya kembali menatap jalanan.
Mungikin ia salah lihat tapi memang orang yang duduk di sana tadi dan sedang makan bersama seorang wanita adalah tunangannya, Ivan.
Mungkin ia sedang makan bersama teman kerjanya. Hanna mencoba berfikir positif, seperti dirinya yang tadi makan bersama muridnya. Sayangnya saat ia bergelud dengan pikirannya sendiri, Rama menyadari itu.
"Siapa tadi yang lo lihat? Cowok lo?" Tanya Rama langsung.
"Apa? Bukan." Jawab Hanna. Karena memang Ivan bukan kekasihnya, dan juga ia tidak yakin yang ia lihat adalah Ivan.
Mendengar jawaban Hanna, perasaan Rama menjadi lega, bahkan ia juga tersenyum sampai-sampai ia menyadarkan dirinya sendiri dengan menggelengkan kepala.
Rama menghentikan mobilnya di depan gerbang kost Hanna. Ternyata dari arah berlawanan Dinar juga baru turun dari atas motor sang kekasih. Hanna yang baru saja turun dari mobil Rama tidak menyadari kehadiran Dinar. Setelah Dinar berpamitan pada sang kekasih ia mencoba melihat siapa yang ada di dalam mobil bersama Hanna, Dinar berjalan semakin dekat barulah Hanna sadar sang sahabat sudah ada di dekatnya.
Terlihat Dinar menanti penjelasan Hanna, Hanna berharap Rama segera pergi dari sana tapi yang di harapkan Hanna berbanding terbalik, Rama menurunka kaca jendelanya, "Gue balik dulu." ucap Rama, memang keduanya tadi belum berpamitan jadi wajar jika Rama berpamitan lebih dulu.
"Iya, terimakasih ya." balas Hanna.
Sebelum menaikan kaca mobilnya, Rama juga memberi senyumnya pada sahabat Hanna. Dinar membalasnya dengan senyuman. Sepeninggal mobil Rama, Dinar segera menarik lengan Hanna menuju kamar mereka.
"Jelasin?" Baru saja menutup pintu kamar kost, Dinar sudah minta penjelasan.
"Dia itu murid ku." Jawab Hanna yang baru saja meletakan tasnya di tempatnya.
"Hah" Dinar terkejut dengan jawaban Hanna.
"Iya Din, dia murid les ku yang katanya adik bos mu itu." jelas Hanna.
"Tunggu deh, terus kenapa dia manggil kamu, lo gue."
"Kan sudah pernah aku jelaskan kalau dia itu benar-benar tidak punya sopan santun, sudah berkali-kali aku memintanya merubah panggilannya tapi tetap saja." Hanna sudah duduk di atas tempat tidurnya sementara Dinar masih berdiri di depan Hanna dengan tangan yang terlipat di dada.
"Terus kamu dapat dari mana baju ini?" Tanya Dinar menelisik melihat penampilan Hanna dan selama ia tinggal bersama Hanna, ia baru pertama melihat penampilah Hanna yang seperti ini.
Hanna merubah ekspresinya menjadi kebingungan.
"Ada yang kamu sembunyikan?" Dinar mencoba mencari jawaban dari mata Hanna.
"Gak ada, tapi janji, kamu gak akan salah paham?"
"Liat dulu seperti apa penjelasannya?"
"Lebih baik gak aku jelasin." Dengan cepat Hanna berlari ke kamar mandi lantas menguncinya.
"Ingat kamu sudah punya tunangan Hanna." teriak Dinar dari balik pintu.
Tak ada sahutan dari Hanna. Mendengar ucapan Dinar seakan ia di ingatkan jika dirinya sudah mempunyai ikatan.
"Kenapa kamu diam, apa jangan-jangan kamu suka ya sama murid mu." Kembali Dinar berteriak dari luar yang di akhiri dengan tawa.
"Jangan ngomong sembarangan kamu Din." Hanna akhirnya menyahut dari dalam.
Sementara itu Rama yang masih dalam perjalanan pulang masih senyam senyum sendiri sambil sesekali melirik pada kursi yang sudah kosong di sampingnya.
"Kenapa gue jadi aneh gini?" Rama bicara sendiri akan dirinya yang jadi tersenyum sendiri mengingat Hanna.
*****
Mohon dukungannya dengan vote, like dan komen 🙏
Maaf jika ada typo