
Hey semua, maafkan saya yang lama up nya ya. Di real life lagi sibuk banget 🙏
🌻🌻🌻
Hari itu setelah mendengar ucapan sang mama yang bagai petir di siang bolong membuat Rama tanpa berfikir segera pergi menuju tempat kost Hanna.
Baru kemaren ia kesana dan Hanna masih baik-baik saja, namun kenapa hari ini ia harus mendengar pengunduran diri Hanna dari sang mama. Rama mencoba menghubungi Hanna namun hanya operator telefon yang berbicara.
Dengan kecepatan tinggi Rama mengedarai motornya, ia harus segera bertemu dengan Hanna.
Kenyataan yang ada semakin membuat Rama tidak bisa mencerna segalanya, saat ia sampai di tempat kost Hanna, kamar yang Hanna tempati telah kosong. Beberapa kali Rama mengetuk pintu tidak ada sahutan dari dalam tidak seperti hari-hari biasanya saat ia datang kesana.
Rama masih berharap ada Hanna di dalam, namun nihil tidak ada sahutan dari dalam. kini bukan hanya ketukan yang Rama lakukan namun gedoran pintu di sertai teriakan hingga membuat penghuni kost lain merasa terganggu.
Salah satu dari penghuni kost di sana mencoba menghentikan Rama dan mengatakan jika orang yang Rama cari sudah keluar dari sana tadi pagi.
Apa lagi ini?
Pikiran Rama semakin kacau, ia yang ingin meminta penjelasan Hanna perihal berhentinya dia menjadi guru les privat, kini semakin bertambah, ia di kejutkan dengan perginya Hanna.
Rama bahkan meminta bertemu dengan pemilik kost yang pastinya tau kemana Hanna. Namun sayangnya pemilik kost tidak mengetahui kemana perginya Hanna dan Dinar. Mereka hanya berpamitan jika mereka tidak kost lagi di sana.
"Aaaaaaaaarrrrrrgggggg....." Rama pukul dengan kuat meja di hadapannya.
Mario yang duduk di sana seketika menyumbul. Ia yang tadi di minta datang ke salah satu cafe bukan di ajak bicara malah ia mendapati Rama yang diam dengan segala pikiran dan tiba-tiba ia memukul meja dengan kuatnya.
Rama kembali mengingat kembali kebersamaannya bersama Hanna selama satu minggu setelah malam itu. Setiap hari Rama datang ke tempat kost Hanna meyakinkan Hanna jika dirinya tidak main-main dengan Hanna.
Memang tidak ada jawaban yang jelas dari mulut Hanna namun sikap Hanna pada Rama yang terlihat baik-baik saja seakan menjadi jawaban jika hubungannya dengan Hanna baik-baik saja.
Hanna meminta Rama untuk tidak pernah lagi mengungkit kejadian malam itu lagi. Rama sudah mengikuti kemauan Hanna namun kenapa kini Hanna malah pergi tanpa mengatakan apapun padanya.
Beberapa kali Rama mengeratkan giginya, mendengus kesal dengan tangan terkepal kuat. Mario yang melihat itu hanya bisa menjingkit waspada, ia tidak ingin jadi samsak tinju gratis Rama. Selama Rama tidak kalap, Mario akan tetep ada di sana menemani Rama.
🌻
Hanna tengah berada di dalam kereta sembari memandangi hamparan persawahan yang di lintasi kereta.
Wajah Hanna penuh dengan kesedihan, ia terlihat bergulat dengan pikirannya sendiri. Hanna pejamkan matanya, kilasan malam itu tiba-tiba kembali muncul dalam ingatannya.
Entah ini jalan yang sudah benar atau malah salah yang jelas Hanna sudah mengambil keputusan, ia harus pergi dari kehidupan Rama.
Ingatan akan Rama tidak akan mudah ia lupakan, sepanjang perjalanan lagi-lagi kilasan hari-harinya bersama Rama terus saja muncul.
Hanna masih meyakinkan dirinya jika ini adalah jalan terbaik untuk dirinya dan juga Rama.
Setelah malam itu, Hanna sebenarnya ingin pergi dari kehidupan Rama namun entah kenapa hatinya merasa sakit saat ia berfikir untuk pergi. Apa lagi Rama yang sekarang begitu baik pada Hanna dan sangat perhatian, namun ia tidak mudah percaya begitu saja setelah ia mengenal laki-laki, ia jadi mulai mengerti bagaimana sifat laki-laki.
Hanna selalu bersikap biasa saja saat Rama datang ketempat kostnya, ia tidak ingin sampai Rama bertanya tentang dirinya.
Hanna lebih banyak diam saat bersama Dinar, apa lagi setelah malam itu Dinar yang khawatir dan bertanya banyak hal pada Hanna malah mendapat jawaban singkat dari Hanna.
"Aku capek, aku mau sendiri."
Sejak saat itu Dinar menjadi merasa bersalah pada Hanna namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, saat Dinar pulang kerja, Hanna sudah tertidur jadi mereka tidak punya waktu untuk bicara.
Malam sebelum Hanna memutuskan menjauh dari Rama, Dinar yang baru pulang kerja mengatakan pada Hanna jika dirinya di pindah tugaskan ke luar kota jadi dia harus berangkat besok.
Hal itu tidak Hanna sia-siakan, ia juga mengemas barang-barannya dan ikut meninggalkan kost.
Sampai saat mereka berpisah di stasiun kereta, Dinar masih belum tau alasan Hanna ikut pergi dari tempat kost apa.
Air mata Hanna turun membasahi pipinya, ia tidak tau apa keputusannya ini adalah yang terbaik tapi kenapa ia harus merasa sedih dan dadanya terasa sesak. Hanna pukul dadanya, ia mencoba mengurangi rasa sesaknya tapi percuma.
🌻
3 Bulan Kemudian
Tidak terasa 3 bulan telah berlalu, selam dua bulan Rama mencari keberadaan Hanna namun tidak pernah membuahkan hasil. Rama kini telah putus asa ia memilih merelakan Hanna. Selama satu bulan ini ia telah kembali menjadi Rama yang dulu, yang tidak peduli lagi dengan semuanya bahkan kini ia berada di atap gedung sekolah menghisap sebatang nikotin.
Rama tidak peduli meski ia tidak mengikuti pelajaran, hidupnya semakin berantakan setelah Hanna meninggalkannya.
Berangkat pagi dengan wajah segar bukan lagi ada pada wajah Rama, bahkan pagi ini baru memasuki ruang kelas saja ia sudah merasa malas. Rama lempat tasnya yang terlihat tidak ada isinya ke atas mejanya lantas ia mendaratkan bokongnya dan tidur dengan berbantalkan tanggannya.
"Ram, lo gak capek sebulan kayak gini terus?" Tanya Mario yang ada di sebelah Rama.
Tidak ada respon sama sekali dari Rama, Mario lantas kembali membuka mulutnya.
"Lo itu sebenarnya kenapa sih? Gue heran sama lo yang tiga bulan ini udah kayak orang gak mau hidup."
"Gue kan sahabat lo, wajar donk kalau gue tan~"
Rama menyergah Mario agar tidak terus membuka mulutnya di pagi buta. Pada akhirnya Mario diam.
Suara ramai para siswa di dalam kelas tidak membuat Rama terusik, ia juga tidak peduli dengan sinar mentari yang menerpanya melalui kaca jendela.
Pagi ini ia yakinkan dirinya jika ia harus melupakan Hanna, sudah tiga bulan berlalu, jika ia seperti ini belum tentu Hanna juga merasakan hal yang sama, mungkin Hanna di entah dimana adanya dia tengah bahagia.
Suara bel membuat suasanan semakin ramai, banyak anak mulai masuk ke dalam kelas.
Mario hanya bisa menggeleng pasrah melihat sahabatnya yang tidak terusik sama sekali dengan suara teman-temannya yang sudah seperti pasar.
Setelah lima menit tiba-tiba suara menjadi hening, seorang guru laki-laki memasuki ruang kelas.
"Selamat pagi anak-anak." Sapanya yang langsung mendapat sahutan dari semua siswa kecuali Rama yang masih nyaman dengan posisinya.
Seorang guru wanita melangkah memasuki ruangan berdiri di samping guru pria tersebut. Suasana seketika menjadi ramai kembali, beberapa siswa laki-laki secara bersahutan bersiul. Sementara para siswa perempuan mulai berbisik-bisik.
Mario menyenggol Rama. "Ram, bangun donk."
"Hemh..." Rama hanya bergumam namun tidak bergerak sama sekali.
Sepertinya guru laki-laki tersebut sudah habis kesabarannya hingga ia memberi peringatan pada semua siswa di dalam kelas.
"Kalian semua bisa diam tidak!"
Seketika semua siswa terdiam, lantas guru tersebut bisa mulai bicara.
"Saya di sini ingin mengenalkan guru baru, yang akan mengisi kekosongan guru yang saat ini sedang ijin cuti melahirkan."
Suasana kembali sunyi, lantas sang guru mempersilahkan guru baru untuk memperkenalkan diri.
"Selamat pagi." Sapanya pada semua siswa.
Rama yang masih tetap pada posisinya mulai membuka mata, ada sesuatu yang mengusiknya.
"Perkenalkan nama saya."
Rama bukan bermimpi tapi suara itu sungguh tidak asing di telinganya.
"Hanna ~"
Mendengar nama Hanna, Rama bangun dari tidurnya ia duduk dengan sorot mata yang langsung tertuju pada guru baru yang memperkenalkan diri.
Benar dia memang Hanna yang sudah meninggalkannya selama tiga bulan dan kini ia tiba-tiba muncul dengan wajah yang terlihat tidak terjadi apa-apa. Bahkan ia memperkenalkan dia dengan wajah yang tersenyum cerah.
Bukan cuma Rama yang menatap Hanna namun keduanya sudah saling menatap bahkan Hanna tidak bisa melanjutkan ucapannya saat ia mendapati ada Rama di sana di salah satu sudut bangku belakang.
Hanna yang awalnya tersenyum kini semua telah memudar, ia menegang, sosok yang ingin ia hindari seumur hidupnya kenapa kini malah ada di hadapannya.
Seluruh siswa bahkan guru laki-laki disana juga merasa heran dengan kediaman Hanna.
Setelah mendapat teguran dari guru laki-laki tersebut barulah Hanna kembali melanjutkan ucapannya.
"Maaf." Ucap Hanna "Saya Hanna Ariani. Saya akan mengisi kekosongan guru cuti di sini."
"Yang mau bertanya, silakan." Ucap guru laki-laki.
Salah satu siswa laki-laki mengangkat tanganya. "Bu Hanna, apa sudah menikah?" tanyanya.
Hanna seakan kehilangan rohnya, ia mengalihkan pandangannya kesegala arah selama tidak bertemu pandang dengan Rama.
Namun Rama masih tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Hanna, ia masih menatap Hanna.
Ternyata Rama mejuga menunggu jawaban dari Hanna.
"Belum." Jawab Hanna.
Mendengar jawaban Hanna, sorot mata Rama penuh dengan amarah dengan tangan terkepal kuat. Sorot mata keduanya bertemu, Hanna yang terlihat terintimidasi dengan tatapan Rama yang penuh dengan amarah dan kekecewaan.
...****...
...Jangan lupa vote, like dan komen....
...Maaf Kalau ada typo...