Hanna Rama

Hanna Rama
Delapan Belas



🌻🌻🌻


Hanna tiba lebih dulu di kediaman Rama, sembari menunggu Rama pulang Hanna membuka buku materi yang akan ia ajarkan pada Rama.


Mbok Nah datang dengan membawa nampan berisi satu cangkir teh panas serta makanan ringan.


"Diminum dulu Bu, sambil nunggu den Rama pulang." ucap Mbok Nah ramah.


"Iya. Makasih ya Mbok." balas Hanna dengan senyum lebarnya.


Mbok Nah kembali meninggalkan Hanna sendirian di teras samping, ia begitu fokus pada buku yang ia baca. Ia bahkan tidak sadar jika ada Rama yang baru saja pulang dan tengah memperhatikannya.


"Udah lama dia Mbok?" tanya Rama pada Mbok Nah yang baru saja menghampirinya.


"Sekitar dua puluh menin Den."


Setelah mendengar jawaban dari Mbok Nah, Rama bergegas menaiki tangga menuju kamarnya guna membersihkan diri.


Semenjak Rama tau jika Hanna memilih membatalkan pertunangannya dengan Ivan membuat Rama semakin ingin mendekati Hanna, ia merasa Hanna begitu berbeda dengan perempuan lain diluar sana.


Biasanya Rama hanya memakai pakaian seadanya namun kini ia lebih terlihat rapi dengan aroma parfum yang begitu maskulin.


Sudah hampir dua bulan Hanna bekerja mengajar Rama jadi ia sudah hafal betul aroma parfum Rama meski saat belajar ia jarang mencium aroma parfum tapia ia hafal betul dengan itu.


Hanna menoleh pada kaca besar di belakangnya yang bisa melihat jelas siapa yang ada di dalam rumah besar nan megah itu.


Rama berjalan dengan begitu tegap, Hanna bahkan tidak berkedip, jantungnya kembali berdetak dengan cepat. Menyadari itu dengan segera Hanna alihkan pandangannya dari Rama.


"Sorry gue telat." Ucap Rama yang lantas duduk di depan Hanna.


Hanna masih berusaha menormalkan detak jantungnya sebelum membalas ucapan Rama.


Ia masih menunduk dengan mata terpejam, pelan-pelan Hanna angkat kepalanya begitu juga ia buka matanya dan berhadapan dengan Rama.


"Lumayan." ucapnya singkat lantas meminta Rama membuka buku materinya.


Hanna tidak menyangka jika kini Rama benar-benar mengikuti apa yang Hanna ajarkan, ia berharap seterusnya Rama seperti itu jadi Hanna bisa fokus pada materi pelanjaran bukan pada sikap Rama yang begitu menyebalkan.


"Istirahan dulu ya? Gue capek." ucap Rama tiba-tiba kemudian berdiri dari kursinya.


Hanna hanya menatap Rama heran, biasanya tanpa meminta ijin, Rama sudah berdiri dan meninggalkan Hanna namun kini ia seakan meminta ijin pada Hanna.


"Iya. sepuluh menit lagi kita mulai belajarnya." Hanya itu yang keluar dari mulut Hanna.


Bukannya pergi seperti biasa yang entah kemana kini Rama malah kembali duduk setelah merenggangkan otot-otonya.


"Katanya mau istirahat?" tanya Hanna heran.


Rama malah tersenyum. "Selama tidak berhadapan dengan materi artinya juga istirahat."


"Lo juga udah terlihat lelah?"


Hanna merasa bingung dengan ucapan Rama, ia lelah? Biasanya ia pasti merasa lelah tapi kali ini ia merasa nyaman untuk pertama kalinya apa lagi Rama tidak membuatnya menguras energi.


"Sok tau kamu." Elak Hanna tegas.


Rama malah tersenyum pada Hanna, "Lo gak capek kali ini?"


"Tidak Rama."


"Biasanya capek ya ngadepin gue?"


Iya tepat sekali dan Hanna hanya bisa tertegun dengan tebakan Rama.


"Sorry ya kalau biasanya gue bikin lo capek."


Rama gak salah makan kan? Itu yang tiba-tiba terlintas di kepala Hanna. Rama yang biasanya tidak tau sopan santun dan ini kenapa dia terdengar begitu tulus pada Hanna.


🌻


Hari-hari Hanna terasa lebih baik sejak Rama tidak begitu banyak tingkah, bakhan Rama lebih sering mengajak Hanna bercanda.


Seperti halnya saat ini saat Hanna tengah membalas pesan singkat dari Dinar sampai ia tidak mendengar panggilan dari Rama.


Merasa di abaikan, dengan kesal Rama ambil ponsel Hanna yang sontak membuat Hanna mendongak menatap Rama kesal.


"Rama kembalikan ponsel saya." Hanna mencoba meraih ponselnya dari tangan Rama namun tidak berhasil.


Seperti dejavu, Hanna kembali teringat akan kejadian dimana ia harus tercebur ke kolam renang.


Sementara Rama malah terlihat begitu senang melihat Hanna yang terus bergerak mengikuti tangannya yang berada di atas.


"Rama, kamu jangan main-main." Kesal Hanna.


"Siapa suruh tadi lo gak dengerin gue."


"Lo ambil kalau bisa." Ucap Rama sembari tergelak.


Kali ini Hanna bertekat merebut ponselnya ia berusaha mendekat pada Rama dan meloncat namun kakinya entah kenapa bisa tidak seimbang yang mengakibatkan Hanna akan kembali tercebur ke kolam.


"Aaaaa...." teriak Hanna.


Dengan sigap Rama meraih pinggang ramping Hanna agar tidak terjatuh ke dalam kolam. Rama tahan Hanna dalam dekapannya, Hanna pasti cukup terkejut karena sekarang ia memejamkan matanya dalam dada bidang Rama.


Kali ini Hanna maupun Rama tidak bisa menyembunyikan detak jantung mereka, entah itu detak jantung kekhawatiran keduanya atau detak jantung yang menggambarkan perasaan keduanya.


Perlahan Hanna angkat kepalanya dan bertemulah nektar keduanya. Kali ini Hanna benar-benar tidak bisa mengartika tatapan Rama. Bukan Rama yang seperti biasanya yang selalu menatapnya dengan penuh kejailan di dalam sorot matanya, namun kini ia merasa jika tatapan Rama penuh rasa ke khawatiran.


Beberapa detik mereka berdua saling bertatapan, detak jantung Hanna kembali berpacu. Ia berusaha melepas tangan Rama dari pinggangnya, bukan melonggarkan tangannya tapi Rama semakin menarik Hanna dalam pelukannya yang sontok membuat Hanna melebarkan matanya sempurna.


"Kalau gue lepas, secara otomati lo pasti nyebur kolam." ucap Rama yang lantas memberi kode jika di belakang Hanna adalah kolam renang yang dapat Rama pastikan jika ia melepas Hanna maka kejadian beberapa waktu lalu akan kembali terulang.


"Kalau gitu bawa saya menjauh." Pinta Hanna yang langsung Rama kabulkan.


Rama melangkah mundur yang di ikuti Hanna memajukan langkahnya. Meski sudah cukup jauh dari tepi kolam namun Rama masih merengkuh pinggang Hanna, ia merasa begitu nyaman namun tidak dengan Hanna yang mulai menarik lepas tangan Rama.


Di dalam rumah megah itu tengah berdiri seseorang yang memperhatikan tingkah Rama dan Hanna, dia adalah kakak Rama. Abian.


Mbok Nah baru menyadari jika tuan mudanya datang, tidak biasanya Abian datang kerumah apa lagi saat kedua orang tua mereka sedang tidak di rumah.


Pandangan Mbok Nah tanpa sengaja mengikuti arah pandang tuan mudanya. Mbok Nah tidak menyangka jika ia akan melihat Hanna yang berada dalam pelukan Rama.


Tidak ingin membuat pikiran Bian semakin negatif akhirnya Mbok Nah menyapa Bian dengan suara yang ia tinggikan dengan sengaja. "Den Bian, Sudah datang ya."


Bukan cuma Bian yang terkejut dangan sapaan Mbok Nah, namun juga Hanna dan Rama yang lantas melepas rengkuhannya.


Rama tersenyum kecut saat melihat sang kakak tengah berdiri memperhatikannya. Bian berjalan mendekat pada Rama dengan wajah yang begitu datar sementara Hanna hanya bisa berdiri diam di tempat.


Rama memutar badannya menyambut sang kakak yang kini berdiri sekitar tiga langkah di hadapannya.


"Jadi dia guru les lo?"


"Bukan urusan lo Bang!"


Bian tersenyum remeh melihat Hanna yang berusaha tenang di belakang Rama.


"Kalau urusan lo udah selesai mending lo pergi dari sini." tegas Rama


Kali ini Hanna tertegun mendengar nada bicara Rama pada sang kakak yang terkesan begitu kasar.


"Gue kesini karena Mama yang terdengar begitu khawatir dengan putranya yang ia tinggal cukup lama di rumah. Mama khawatir jika dia tidak belajar dengan baik. Tapi sepertinya Mama tidak perlu khawatir lagi sekarang." Ucap Bian di akhiri dengan senyuman yang tidak dapat Rama artikan.


"Lanjutin belajar lo. Gue balik."


Abian berjalan memasuki rumah berpamitan pada Mbok Nah lantas ia pergi dari sana.


Sepeninggal Abian entah kenapa Hanna tiba-tiba bernafas lega, seakan ia sedang ketahuan mencuri namun tidak terbukti.


Kali ini Rama tidak marah pada Hanna, meski tadi ia tau jika Hanna sesekali melihat sang Kakak.


"Lo lega karena bisa liat wajah sok cakep Abang gue." Goda Rama. "Inget dia udah punya bini." tegasnya kemudian.


"Kamu jangan sebarangan ya kalau bicara. Saya bukan tipe orang yang akan mengambil milik orang lain." Hanna tak kalah tegas.


Perdebatan mereka terhenti saat ponsel Hanna yang masih di tangan Rama berdering. Rama melihat siapa yang menghubungi Hanna ternyata Dinar.


Hanna kembali merebut ponselnya namun tanpa sengaja jari Rama menyentuh layar menerima panggilan.


"Hallo Han." suara di ujung telefon bisa Rama dengar.


Rama sebenarnya bukan tipe orang yang lancang namun entah kenapa kali ini ia memilih menempelkan ponsel Hanna pada telinganya.


"Jadi loh malam ini, awas kalau lo gak dateng, gue dan temen-temen gak terima alasan apapun. Pake sok-sokan gak bales pesan gue segala lo." Terdengar nada kesal dari Dinar.


Rama tidak mengerti dengan apa yang Dinar katakan, Hanna kembali merbut ponselnya namun terlambat Rama sudah membuka suara. "Gue pastiin Hanna bakal dateng." Rama memilih mengahkiri panggilan Dinar kemudian menyerahkan ponsel Hanna.


"Dasar lancang." Hanna menyahut ponselnya begitu saja lantas ia kembali duduk.


Rama hanya menyunggingkan senyumnya lantas ia pun kembali duduk melanjutkan kegiatan belajarnya.


...****...


...Jangan lupa Vote, Like dan Komen ya...


...Terimakasih atas dukungannya...


...Maaf kalau ada typo 🙏...