Hanna Rama

Hanna Rama
Supuluh



🌻🌻🌻


Sudah satu bulan Hanna bersabar dengan pekerjaannya, hari ini ia akan mendapatkan honor dari ia menjadi guru les. Hanna sudah duduk di kursi tamu berhadapan dengan Rita.


"Saya benar-benar berterimakasih pada anda, sudah mampu mendidik anak saya selama satu bulan." ucap Rita merasa bangga dengan pencapaian putranya.


"Saya melakukan semampu saya, maaf jika hasilnya masih kurang memuaskan." Hanna merasa selama ini masih belum maksimal menjadi guru les Rama.


"Tidak, saya ingin anda terus menjadi guru les anak saya sampai nanti dia bisa masuk ke universitas terbaik."


"Saya akan berusaha semaksimal mungkin Bu Wijaya." Keduanya tersenyum bersama.


Rita terlihat memainkan ponselnya sementara Hanna sedang menikmati kue buatan Rita yang baru di sajikan oleh Mbok Nah.


"Oh ya, Nak Hanna, saya sudan mentransfer ke rekening anda, honor anda selama satu bulan ini. Silakan di cek."


"Terimakasih Bu." ucap Hanna lantas membuka ponselnya, bola mata Hanna membulat sempurna, ia tidak percaya dengan nominal yang di berikan keluarga Wijaya, ia merasa ragu dengan penglihatannya lantas ia menghitung jumlah angka nol di sana. Ada tujuh digit angka nol.


Hanna merasa tidak enak karena tidak sesuai dengan yang nyonya Wijaya ucapkan di awal. "Maaf, tapi ini terlalu banyak Bu." ucap Hanna.


Rita menggeleng lantas meraih tangan Hanna, "Tidak, Nak Hanna bagi kami itu masih kurang karena saya melihat bagaiman pengorbanan nak Hanna selama mengajar Rama."


"Ini terlalu banyak Bu," Kembali Hanna merasa tidak enak.


"Saya mohon terimalah dan tetaplah menjadi guru les putra kami." Pinta Rita yang akhirnya membuat Hanna mengalah.


🌻


Hanna berbaring di tempat tidurnya dengan memandang langit-langit kamarnya. Ia masih tidak percaya jika ia menerima gaji pertamanya sebanyak itu, tadi setelah pulang dari rumah Rama, Hanna menuju salah satu mesin ATM, ia kembali mengecek jumlah uangnya, memang tidak salah, sepuluh juta bagi orang sekaya Wijaya tidak seberapa tapi baginya benar-benar luar biasa, ia mengirimkan sebagian kepada orang tuanya.


Hanna merasa bersyukur ia bisa mengirimkan sebagian penghasilannya kepada orang tuanya.


"Aku harus bersabar menghadapi Rama, bertahan selama setahun di sana bisa buat modal nikah." ucapnya begitu percaya diri jika ia akan menikah sesuai yang di rencanakan orang tuanya.


Hanna tersadar saat Dinar tiba-tiba masuk ke dalam kamar kost. "Kenapa mukamu Han?" sapa Dinar yang melihat ekspresi kaget Hanna.


"Kamu ngagetin." ucapnya lantas bangun dari posisis rebahannya.


"Lagi ngelamunin apa kamu? Ivan apa murid mu?" canda Dinar yang sontak mendapat lemparan bantal dari Hanna.


"Jangan sembarangan deh kamu Din." Elaknya.


Dinar sudah mulai membersihkan sisa make upnya, Hanna masih diam duduk di atas tempat tidur sembari memperhatikan Dinar seolah ada yang ingin ia katakan pada Dinar.


"Din," pada akhirnya Hanna mencoba bicara pada Dinar. "Sekaya apa sih keluarga Wijaya?"


Dinar yang mendapat pertanyaan seperti itu lantas berbalik dari duduknya menghadap Hanna. "Yang jelas kaya banget lah meski aku gak tau seberapa banyak duitnya. Emang kenapa? Udah mau pindah haluan ya?" Goda Dinar.


Dengan cepat Hanna mengelak, "Mulutmu jangan asal mangap bisa gak sih Din." kesal Hanna yang lantas kembali berbaring dan memilih menyelimuti seluruh tubuhnya.


🌻


Hari ini Hanna merasa lebih senang lantaran Ivan tiba-tiba menghubunginya dan mengatakan akan mengantar Hanna ke tempat mengajar. Biasanya Ivan begitu sibuk bahkan untuk keluar di saat weekend saja Ivan tidak bisa lantaran kesibukannya dan Ivan selalu beralasan jika semua untuk modal menikah.


Hanna yang tau akan menaiki motor memilih memakai celana bahan, ia sudah menunggu Ivan di depan gerbang kost. Tidak berapa lama Ivan datang, senyum Hanna mengembang.


"Sore Hanna, ayo naik, nanti terlambat." ucap Ivan sembari memberikan helm pada Hanna.


Tidak banyak obrolan selama dalam perjalanan bahkan Hanna terlalu canggung untuk berpegang pada Ivan. Hanna bersyukur Ivan tidak terlalu kencang membawa motornya jadi Hanna masih aman meski tidak berpegangan. Jika Dinar melihatnya pasti sudah mengira jika Hanna sedang naik ojek.


Hanna yang belum pernah berpacaran secara seriuspun bingung harus seperti apa saat jalan dengan kekasih apa lagi ini dengan tunangan, untuk memulai bicara saja Hanna begitu berhati-hati, selama mereka menyandang status tunangan, Hanna belum pernah sekalipun bertengkar dengan Ivan, karena memang jarang sekali mereka berkomunikasi, berbeda dengan Dinar yang sering sekali uring-uringan. Hanna merasa Dinar yang terlalu lebay pada pasangannya apa memang dirinya yang tidak normal.


Selama ini yang ia rasakan malah lebih banyak berinteraksi dengan Rama, meski ia lebih sering kesal pada Rama tapi entah kenapa ia merasa harinya lebih berwarna kala bersama Rama.


Hanna selalu berfikir positif jika Ivan sangat jarang mengajaknya bertemu lantaran ia ingin menjaga Hanna.


Motor Ivan berhenti tepat di depan gerbang besar rumah Rama. "Benar ini rumahnya?" tanya Ivan ragu.


Hanna turun dari motor Ivan sembari meyakinkan Ivan "Iya Mas, benar." Ia mencoba membuka kaitan helm yang ia kenakan tapi kaitan itu susah untuk di buka padahal saat mengaitkan tadi begitu mudah.


Sebuah motor berhenti di depan gerbang, siapa lagi kalau bukan pemilik rumah yang masih mengenakan seragam putih abu-abu. Mata Rama menelisik pada sosok yang berada di atas motor di samping Hanna yang mencoba membuka kaitan helm yang Hanna kenakan.


Rama masih menatap keduanya dan yang lebih membuatnya penasaran adalah pria di atas motor, setelah bisa membuka helm Hanna barulah Ivan menyadari ada sosok yang memperhatikan mereka begitu juga dengan Hanna yang pandangannya bertemu dengan Rama.


Setelah saling pandang beberpa lama Hanna memilih untuk masuk lebih dulu setelah berpamitan pada Ivan dan mengucapkan terimakasih. Rama juga ikut memasuki halaman rumahnya.


Rama memarkir motornya di dalam garasi, setelah ia lepas helm full facanya segera ia benarkan rambutnya dengan menyisirnya menggunakan tangan.


Hanna sudah tiba di depan pintu besar, tangannya sudah memegang gagang pintu untuk mebukanya namun sebuah tangan mencoba menahan gagang pintu. Hanna menoleh dan ia dapati sosok Rama di sana berdiri dengan mata yang terfokus pada Hanna.


Hanna kembali mencoba membuka pintu tapi kembali Rama tahan. Hanna mengernyit dengan tingkah Rama. "Buka Rama." ucap Hanna.


"Siapa tadi?" Tanya Rama to the poin.


"Bukan urusan kamu." Tegas Hanna kembali mencoba membuka pintu tapi masih Rama halangi.


"Kalau lo gak mau jawab, gak akan gue buka." ancam Rama.


"Dia tunangan saya."


Rama seolah mendapat tamparan keras ia baru tau jika Hanna sudah bertunangan dan kenapa Rama baru sadar saat ia mencoba melihat jari manis Hanna yang memang melingkar sebuah cincin. Bukan Rama tidak tau, tapi selama ini ia pikir cincin itu hanya aksesoris semata, ternyata itu adalah cincin tunangan Hanna.


Hanna heran dengan ekspresi Rama yang terlihat terkejut sekaligus kecewa dengan apa yang ia katakan tapi memang kenyataanya Ivan adalah tunangannya. Hanna kembali mencoba membuka pintu, barulah Rama tersadar dari pikirannya sendiri.


Rama tergelak mendengar jawaban Hanna, "Lo udah tunangan, mau nikah muda lo?" ejeknya.


"Memangnya kenapa kalau saya mau nikah muda, tidak ada hubungannya dengan kamu." Tegas Hanna dengan nektar yang menatap Rama.


Mendengar jawaban Hanna sontak membuat Rama membisu. Iya, memang tidak ada hubungannya dengan Rama tapi kenapa ada rasa tak terima pada dirinya, ia belum bisa menerima kejutan yang Hanna berikan secara tiba-tiba. Kenapa Hanna harus sudah menyandang status tunangan seseorang. Tangan Rama tanpa terasa menggenggam gagang pintu dengan begitu kuatnya dengan sorot mata menatap Hanna.


...*****...


...Udah mulai masuk ke inti nih, kalau ada yang masih ingat di one shoot sih 🤭....


...Gak bosen saya selalu minta dukungan kalian semua, vote, like dan komen. Dan jangan lupa follow juga ya. Yang sudah kasih dukungan, terimakasih 🙏🙏...


...Oh ya saya ingin mengucapkan selamat menyambut tahun baru 2022 buat semuanya semoga tahun 2022 menjadi lebih baik dari tahun lalu ya. Harapan saya semoga para pembaca setia cerita saya selalu di beri kesehatan dan kebahagian dan semoga tulisan saya bisa lebih baik di tahun ini 🙏. ...


...Maaf kalau ada typo 🙏...