Hanna Rama

Hanna Rama
Sembilan Belas



🌻🌻🌻


Suasana di dalam sebuah cafe di ibukota tengah begitu ramai tepatnya lebih di dominasi kaum hawa. Di salah satu meja panjang telah tertata beberapa hidangan dan minuman. Terlihat Dinar tengah duduk di antara banyak bangku di sana bersama teman-temannya ada sekitar tiga belas wanita di sana.


Hanna sebenarnya tidak ingin ikut bergabung bersama mereka, namun karena ulah Rama mau tidak mau kini Hanna terpaksa datang ke sana. Ia sudah berada di depan cafe, ia tidak sendiri. Rama tengah memarkir motornya, ia meminta Hanna untuk masuk bertemu dengan teman-temannya.


Hanna memasuki cafe yang lantas melambai pada Dinar, setelah mendapat lambaian tangan dari sahabatnya barulah Hanna melangkah mendekat pada meja di mana mereka semua berkumpul.


Semetara itu Rama memilih menunggu Hanna di salah satu meja yang berada di luar cafe, karena ia lebih leluasa untuk menikmati nikotin.


"Hey Han..." Sapa seorang wanita yang duduk di sebelah Dinar.


"Hey... Hey semua." Sapa Hanna yang lantas memilih duduk di kursi kosong sebelah Dinar.


Hanna merasa tidak nyaman berada di tempat ini dengan suasana seperti ini, entah ia yang tidak terbiasa atau ia memang bukan dari kalangan seperti teman-teman semasa kuliahnya.


Ketika teman-temannya tengah bercanda, Hanna hanya bisa ikut tertersenyum bahkan sesekali tertawa namun ia masih merasa kalau ia tidak seharusnya di sana.


Ternyata Rama yang duduk di luar masih bisa melihat Hanna yang merasa tidak nyaman, ada penyesalan yang tersirat di raut Rama. Namun apa boleh buat semua sudah terjadi jadi Rama hanya perlu melihat dari kejauhan.


Mereka sebenarnya berkumpul karena undangan dari salah satu teman mereka yang beberapa waktu lalu di lamar oleh salah satu anak dari orang kaya di ibukota. Hanna memang sudah melupakan semua yang terjadi tentang pertunangannya dan ia berharap tidak ada yang mengungkitnya.


Salah satu teman Hanna yang duduk di paling ujung tiba-tiba membuka suara. "Mangkaanya Han, lo kalau mau tunangan itu lihat-lihat dulu donk siapa lakinya jangan sampai pacar orang lo rebut."


Hanna terdiam begitu juga dengan teman-temannya yang awalnya bercanda gurau seketika terdiam. Hanna tidak tau harus berbuat apa dan lagi dari mana temannya yang tidak begitu dekat dengan Hanna bisa bicara demikian.


Semua mata tertuju pada Hanna, mereka tidak tau jika Hanna sudah bertunangan dan bahkan sekarang pertunangan Hanna kini telah gagal.


Hanna tidak ingin berfikir negatif, ia percaya pada Dinar, tidak mungkin Dinar bicara pada mereka yang memang suka bergosip sejak dulu.


"Lo kalau bercanda jangan keterlaluan deh. Kasian tau Hanna." ucap salah satu wanita yang duduk di depan Hanna yang bisa melihat ekspresi Hanna.


"Gue gak bercanda. Sumpah. Hanna itu udah tunangan, ups maksud gue udah pernah tunangan dan lakinya pacar orang." kemabali ia menjelaskan.


Hanna merasa malu, ia ingin marah namun percuma saja pasti ia akan semakin mengumbar semuanya. Hanna hanya bisa diam menahan marah serta air mata yang bisa kapan saja jatuh.


Dinar yang duduk di sebelah Hanna dengan cepat meraih tangan Hanna yang ada di bawah meja, ia kuatkan Hanna.


Rama sudah tidak tahan lagi ia ingin sekali membawa Hanna keluar dari sana namun ia tidak ingin semakin mebuat Hanna jadi bahan omongan teman-temannya.


"Gue heran lo yang begitu lugu dan polos bisa-bisanya ya mau rebut cowok orang." Omongan teman Hanna semakin pedas saja.


Kali ini Dinar tidak tahan ingin sekali menampar wajah temanya yang sudah menghina Hanna namun Hanna tahan dan tepar saat itu Rama menghubunginya.


Mendengar ponsenya berdering, dengan cepat Hanna mengangkatnya, ia tidak peduli siapa yang menghubunginya.


"Halo"


Teman-teman Hanna masih berpusat pada Hanna dengan berbagai ekpresi, ada yang terlihat ingin tau, ada yang memandangnya hina dan yang merasa iba pada Hanna.


"Udah malem, gerbang kost lo bukankah sebentar lagi di kunci."


Hanna mengernyit mendengar ucapan Rama di ujung telefon, ia berfikir sejenak. Setelah beberapa detik barulah ia paham.


"Iya saya pulang sekarang." ucap Hanna yang lantas mengakhiri telefonnya.


Kini Dinar yang merasa heran dengan Hanna yang mendapat telefon dari seseorang yang Dinar tidak tau siapa yang menghubungi Hanna.


Belum sempat Dinar bertanya, Hanna sudah berdiri dari kursinya lantas ia berpamitan pada teman-temannya di sana. "Maaf, aku pulang dulu. Soalnya sebentar lagi gerbang kostku di tutup." Hanna berusaha bicara dengan sebaik mungkin ia tidak ingin temen-temannya samapai mendengar suaranya yang bergetar.


"Oh ya, sekali lagi selamat ya San, semoga lancar sampai pelaminan. Aku pulang dulu. Terimakasih semuanya."


Hanna melangkah meninggalkan teman-temannya, berjalan keluar cafe sembari menahan air matanya, dadanya sudah sesak akan perlakuan salah satu temannya yang sudah mempermalukannya dan mungkin kini Hanna sudah jadi bahan pembicaraan mereka.


Rama sudah berdiri di depan pintu cafe menunggu Hanna, ia tau Hanna sedang tidak baik-baik saja meski saat ia keluar dari cafe mencoba tersenyum padanya.


"Saya pulang naik taksi saja."


"Gue antar, ini udah malam."


Bukan tidak percaya dengan keamanan taksi di ibukota namun Rama merasa khawatir membiarkan Hanna pulang sendiri dengan kondisi seperti ini, hati Hanna pasti begitu terluka.


Tadi Rama tanpa sengaja mendengar teman Hanna yang berkata buruk pada Hanna saat ia memasuki cafe ingin memesan satu gelas kopi lagi. Sejujurnya tadi ingin sekali Rama datangi teman Hanna dan ia remas mulut teman Hanna namun ia masih ingat jika perempuan bukan tandingannya jadi Rama memilih mengajak Hanna pulang.


Hanna yang sudah tidak bisa menahan air matanya lagi jadi ia memilih diam dan mengangguk lantas mengikuti Rama berjalan ke tempat motornya terparkir. Tampa di suruh oleh Rama, Hanna ambil helm yang ada di atas motor Rama lantas ia kenakan agar Rama tidak bisa melihat air matanya yang mulai turun membasahi pipi.


Motor Rama mulai meninggalkan halaman parkir cafe bersama dengan Hanna yang meingkarkan tangannya pada pinggang Rama.


Rama hanya bisa diam tidak ada niat untuk mengajak Hanna bicara seperti biasanya, ia tau jika Hanna tengah menangis di balik helm berkaca hitam itu. Rama jalankan motornya dengan kecepatan sedang.


Rama merasakan Hanna yang tengah terisak di balik punggungnya. Rama ingin mencoba menghibur Hanna namun ia bingung harus berbuat apa jadi Rama memilih membawa Hanna ke suatu tempat yang mungkin saja Hanna bisa meluapkan amarahnya.


Hanna hanya diam saja, entah ia sadar apa tidak di bawa kemana dirinya oleh Rama.


Motor Rama berhenti di suatu tempat dengan hamparan rumput luas. "Kita udah sampai, lo bisa turun." ucapnya pada Hanna.


Pelan-pelan Hanna lepas tangannya, dan ternyata ia memang tidak sadar di bawa kemana dirinya oleh Rama.


"Kita dimana Ram?" bingung Hanna namun masih dengan helm yang belum ia buka.


Tempat yang mereka datangi adalah sebuah bukit yang saat weekend selalu ramai namun karena ini bukan weekend jadi tempat ini cukup sepi dengan pemandangan lampu ibukota yang terlihat begitu indah dari atas bukit.


"Gue juga gak tau nama tempat ini apa namun yang gue denger dari anak-anak ini namanya bukit kota."


Rama membuka helm full facenya dan lantas mengguyar rambutnya kebelakang.


"Gue mau ngerokok dulu, kalau lo mau teriak, teriak aja biar lo puas." lanjut Rama yang mengeluarkan bungkus nikotin dari dalam sakunya lantas berjalan menjauhi Hanna.


Hanna tidak peduli dengan Rama ia berjalan ke tepi bukit yang sudah terpagar lantas ia buka kaca helmya. Hanna pegang erat pinggiran pagar, ia tarik nafasnya dalam kemudian ia berteriak sekencang-kencangnya.


"Aaaaaaaaaaaaaaakkkkķkkkkkkkkkk........."


"Waaaaaaaaaaaaaaaaa....."


Teriakan Hanna di sertai air mata yang masih belum mengering, ia merasa begitu bodoh, seharusnya ia tidak percaya begitu saja pada Ivan yang pada akhirnya malah ia di cap sebagai wanita perebut lelaki orang.


Rama memilih duduk di salah satu tempat duduk yang ada di sana dan sedikit lebih jauh dari Hanna. Ingin sekali ia peluk Hanna namun ia merasa Hanna masih butuh waktu meluapkan segalanya.


Hanna hanya berteriak tanpa mengumpat, Rama heran dengan Hanna yang masih bisa menahan amarahnya.


Satu batang nikotin telah habis Rama hisap, setelah ia injak puntung rokonya barulah ia berjalan mendekati Hanna.


Sebelum bicara pada Hanna yang masih membelakanginya Rama berdemem. "Udah lebih baik apa masih mau lebih lama lagi?" tanya Rama.


Dengan cepat Hanna usap sisa air matanya lantas memutar badannya mengahadap Rama.


"Udah." singkat Hanna yang akan menurunkan kaca helmya namun Rama tahan.


Rama usap pipi Hanna yang masih sangat basah. "Kalau belum puas, gue bakal tungguin." ucapnya.


Hanna merasa pipinya memanasa mendengar ucapan Rama serta usapan tangan Rama pada pipinya.


Hanna mundur satu langkah menjauh dari Rama begitu juga tangan Rama yang tertahan di udara.


"Saya sudah baik-baik saja, kita pulang saja." ucap Hanna yang lantas ia turunkan kaca helmnya dengan cepat.


Mereka kembali menyusuri jalan ibukota yang begitu ramai meski hari sudah sangat malam. Angin malam yang terasa begitu menusuk pada kulit tubuh Hanna meski ia memakai kemeja panjang. Tanpa ia sadari ia eratkan tangannya yang tengah melingkar di perut Rama.


...*****...


...Jangan lupa vote, like dan komen....


...Maaf kalau ada typo 🙏...