Hanna Rama

Hanna Rama
Sebelas



🌻🌻🌻


Rama yang sebelumnya sudah dapat Hanna kontrol kini kembali menjadi Rama yang baru pertama Hanna temui. Ia tidak mendengar penjelasan Hanna sekalipun, fokusnya tertuju pada layar ponselnya, bahkan sesekali ia mengumpat kala ia mendapat kekalahan.


Hanna merasa kesal dengan sikap Rama yang kembali seperti dulu, "Rama!" Hanna tinggikan suaranya setelah cukup lama ia mencoba bicara tapi malah tidak di hiraukan oleh Rama. "Bisa kamu letakan ponselmu dan fokus belajar."


Rama lantas menghentikan pergerakan jarinya, ia tatap Hanna berani. "Lo, kalau udah gak sanggup, pergi dari sini." tegas Rama. "Gue muak liat muka lo." lantas ia beranjak dari tempatnya.


Hanna berkali-kali memanggilnya tapi percuma, Rama menulikan panggilannya. Hanna hembuskan nafasnya berat.


Mbok Nah yang mengetahui itu segera menghampiri Hanna, "Bu Hanna," panggilnya.


"Iya Mbok."


"Lebih baik Bu Hanna pulang saja,"


"Tidak Mbok, saya gak enak sama tuan dan nyonya Wijaya."


"Tuan dan Nyonya sedang perjalanan bisnis ke luar negeri jadi tidak apa-apa Bu Hanna pulang saja, tuan muda tidak akan keluar kamar."


Mendengar penuturan Mbok Nah, Hanna menatap tangga menuju kamar Rama sendu. Hanna memilih pulang saja itu jauh lebih baik.


🌻


"Yo," panggil Rama pada sahabatnya yang tengah menikmati sebatang nikotin. Mereka tengah berada di atap gedung sekolah.


"Apa?"


"Boleh gak ngambil milik orang?" tanya Rama.


Mario menatap Rama aneh, ia tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Rama, "Lo mau nyolong?"


"Bukan nyolong gila, ngambil milik orang," tegas Rama.


Mario berdecak kesal, "Ngambil milik orang sama juga nyolong kali Ram. Emang lo udah gak dapet jatah dari bokap lo?" Mario penasaran.


"Resek lo, kenapa gue harus punya temen bodoh kayak lo sih."


"Ya lo ngomongnya gak jelas Rama Gibran Wijaya."


Setelah menghabiskan sebatang nikotik, kembali Rama membakar satu batang lagi, ia merasa masih belum bisa meminta pendapat Mario secara gamblang. Saat melihat salah satu siswa dan siswi yang tidak mereka kenal dari atap tapi terlihat seperti sepasang kekasih membuat Rama bisa mengumpamakannya.


"Lo liat mereka?" Tunjuk Rama. Mario mengikuti arah telunjuk Rama yang menunjuk pada dua sejoli yang bercanda mesra. "Kalau tiba-tiba gue ambil itu cewek salah gak gue?"


Pertanyaan Rama membuat Mario terheran-heran, sahabatnya yang memang sering bermain-main dengan wanita tapi ini pertama kalinya dia meminta pendapat pada Mario.


"Lo gak waras mau rebut cewek orang!" Ucap Mario spontan.


Rama seketika melayangkan tinjunya pada Mario tapi tidak keras hanya untuk menyadarkan sahabatnya. "Makanya gue tanya sama lo Mar." kesal Rama.


Mario mengusap kepalanya, "Kalau menurut gue ya, lebih baik jangan sampai rebut milik orang tapi gak ada salahnya juga sih selama belum ada janur kuning melengkung."


Rama sepertinya menerima pendapat Mario, ia terlihat berfikir. "Emang cewek siapa yang mau lo rebut?" Kembali Mario bertanya, ia begitu penasaran pada sahabatnya.


"Bukan urusan lo." Jawab Rama lantas menginjak puntung rokoknya kemudian berjalan menuju pintu keluar dengan senyuman.


"Woy, tungguin." Teriak Mario yang segera menginjak puntung rokoknya kemudian mengejar Rama.


Rama masih belum bisa menerima kenyataan jika Hanna sudah bertunangan dan rencana untuk merebut Hanna dari tunangannya juga sepertinya begitu sulit lantaran saat ia bertemu Hanna, ia merasa kesal dan selalu bersikap kasar pada Hanna.


"Ini baju kamu kemarin, terimakasih ya," ucap Hanna sembari memberikan paper bag berisi baju yang Rama pinjamkan.


"Lo buang aja, gue udah gak butuh." tegas Rama tidak peduli.


Hanna harus bersabar kembali, ia memilih meletakan paper bag tersebut di lantai di sisinya, tidak mungkin ia membuang sesuatu yang masih sangat layak di pakai.


Hanna mencoba memulai pembelajaran tapi tetap saja Rama tidak memperdulikannya.


"Lo kalau udah gak betah silakan cabut." ucap Rama pada Hanna


"Saya bukan orang yang mudah menyerah Rama." tegas Hanna.


"Silakan, gue rasa lo gak akan sanggup bertahan disini sampai mama dan papa datang." ucap Rama penuh seringai.


"Kamu mau menantang saya."


"Kalau lo merasa tertantang." Rama naikan sudut bibirnya.


🌻


Hanna merasa bosan hanya di kamarnya saat malam minggu, ia ingin pergi jalan-jalan tapi tidak mungkin ia jalan sendiri. Jangan tanya dimana Dinar, dia sudah ada di dalam tempat yang penuh dengan suara bising musik serta bau minuman keras.


Dinar dan sang Kekasih sedang bermanja-manja di club malam, menikmati lantunan musik DJ yang membuatnya tidak berhenti bergoyang dengan sang kekasih sampai ia merasa melihat seseorang yang ia kenal.


"Sayang lihat deh di sana," Tunjuk Hanna pada sang kekasih di salah satu meja,


"Kenapa sayang? kamu kenal mereka?"


"Bukankah dia Ivan tunangan Hanna?"


Dinar memang tidak pernah kenal Ivan secara pribadi tapi ia masih ingat dengan Ivan, ia bisa pastikan jika yang ia lihat di salah satu meja dengan seorang wanita dan terlihat begitu mesra adalah Ivan.


Hanna mengambil ponselnya, lantas ia memotret sosok yang ia yakini adalah Ivan.


"Sayang, kenapa kamu ambil foto sembarangan?" tegur kekasih Dinar.


"Aku gak akan tunjukan pada Hanna sayang, akan aku simpan sampai nanti Hanna sadar dia salah menilai orang." jelas Dinar lantas melanjutkan menghabiskan malam bersama sang kekasih.


Dinar tidak salam melihat orang, ia yang sedang menikmati minuman beralkohol bersama wanita berpakaian seksi adalah Ivan, tunangan Hanna.


"Sayang sebentar ya," Ucap Ivan pada wanita di sampingnya saat akan membalas pesan.


Hanna


Mas Ivan sedang apa?


Ivan


Maaf Hanna, mas saat ini sedang ada tugas di luar kota, nanti setelah selesai, mas kabari kamu ya.


Setelah membalas pesan dari Hanna kembali Ivan bermesraan serta menikmati segelas minuman beralkohol.


Hanna yang mendapat pesan dari Ivan semakin merasa jenuh, Setelah beberapa hari ia di buat tidak bisa tenang dengan Rama kini seharusnya ia bisa menenangkan diri malah ia merasa semakin suntuk lantaran hanya berdiam diri di dalam kamar kostnya.


Tidak ingin hanya berdiam diri di dalam kamar kostnya, Hanna memilih keluar sebelum hari bertambah malam, tujuan utamanya adalah makanan yang di jual di kaki lima tak jauh dari kostnya.


Karena masih sore serta jalanan yang masih ramai, Hanna memilih berjalan kaki sembari menikmati hembusan angin yang sudah mulai dingin.


Sampailah Hanna di gerobak penjual mie ayam langganannya. "Malam Pak, mie ayamnya satu ya makan sini." pesan Hanna setelah menyapa ramah penjual mie ayam.


"Baik neng silakan di tunggu ya."


Hendak menarik salah satu kursi untuk ia duduki, mata Hanna tanpa sengaja menemukan sosok yang seharusnya tidak disini, dia Rama yang sudah menatapnya tajam. Tempat ini jauh dari rumah Rama dan lagi untuk anak seusia Rama tidak mungkin di malam minggu memilih makan mie ayam sendirian.


Aneh rasanya, ia yang biasanya bisa melawan Rama lantaran ia adalah gurunya tapi entah kenapa kali ini berbeda. Ia seolah melihat Rama sebagai seorang laki-laki dewasa. Setelah beberapa detik mematung, Hanna akhirnya duduk tak jauh dari Rama.


"Lo sendirian?" Tanya Rama tiba-tiba. Hanna menoleh ke kanan dan ke kiri namun di sana hanya ada dirinya dan Rama.


"Iya." Singkat Hanna.


"Lo gak jalan bareng tunangan lo?" kembali Rama bertanya sinis.


"Gak, dia lagi ada tugas di luar kota." Kenapa Hanna seolah tunduk pada Rama. Ia sendiri merasa bingung dengan dirinya.


Mie ayam pesanan mereka telah siap, keduanya sama-sama menikmati sesekali Rama melirik Hanna yang terlihat terlalu kepedasan. Rama mendekat pada Hanna lantas memberinya sebotol air mineral.


"Kalau gak kuat makan pedes jangan sok-sok'an." ucapya.


Hanna mengambil mineral pemberian Rama lantas menenggaknya. "Makasih" ucap Hanna dan ternyata Rama memilih duduk lebih dekat dengan Hanna.


Setelah selesai makan, Rama memilih membayar makanan mereka, Hanna sebenarnya menolak tapi Rama sudah memberinya tatapan tajam.


"Lo mau kemana?" Tanya Rama yang melihat Hanna sudah akan pergi setelah berterimakasih padanya.


"Pulang ke kost." jawab Hanna.


"Lo jalan kaki?" kembali Rama bertanya lantaran ia tak melihat Hanna membawa kendaraan.


"Iya, kan deket masak kesini naik angkot."


Iya juga sih, ingin rasanya Rama mengajak Hanna menikmati malam minggu, sayangnya ia ke sini menaiki motor dan tidak membawa helm tambahan, ia tidak mau mengambil resiko.


Namun di sinilah mereka berdua duduk bersama di bangku taman tak jauh dari tempat mereka makan, setidaknya taman ini tidak jauh dari tempat kost Hanna.


Hanna merasa senang, ia melihat cukup banyak orang di taman, ternyata bukan hanya mereka yang berpasangan tapi juga banyak anak yang bermain di sana. Sesekali Hanna mengulas senyum melihat anak-anak yang mungki masih duduk di sekolah dasar sedang bercanda bersama.


Tak jauh dari sana ada tempat bermain basket, memang tidak seluas lapangan basket tapi setidaknya anak-anak di sana bisa menikmati olah raga mendribel bola tersebut sampai tanpa sengaja lemparan bola salah satu anak melenceng hinggal bola menggelinding ke kaki Rama.


Salah satu anak mendekat pada Rama guna mengambil bola basketnya. "Mana Bang bolanya," pinta anak tersebut.


"Boleh ikut main gak gue?" tanya Rama yang masih enggan memberikan bola basket yang ada di genggamannya.


Anak tersebut mencoba meminta persetujuan dari rekan-rekannya, setelah mendapat anggukan barulak keduanya berjalan bersama menuju lapangan basket.


Hanna merasa penasaran dengan kemampuan Rama, ia ikut mendekat di sisi lapangan. Rama sudah berlari kesana-kemari dengan anak-anak disana sembari tertawa lepas, Hanna yang melihat itupun ikut tertawa bahkan saat Rama berhasil memasukan bola ke dalam ring, dengan spontan Hanna berteriak dan bertepuk tangan namun semua hanya berlangsung sebentar saat ia sadar hanya dirinya yang heboh di sana. Rama hanya bisa tersenyum melihat tingkah Hanna yang seperti remaja.


Kembali Rama dan anak-anak di sana berebut bola, sampai salah satu anak tanpa sengaja mengoper bola malah melesat jauh dan mengenai kepala Hanna.


"Aauuww.." pekik Hanna lantas memegang kepalanya.


Dengan sigap Rama berlari ke Hanna, "Lo gak pa-pa?" tanya Rama khawatir dan memeluk Hanna.


...*****...


...Maaf ya kalau ada typo, soalnya ketik langsung up....


...Jangan lupa, like, vote dan komen ya 🙏...