
🌻🌻🌻
Setelah malam itu, Rama memilih untuk menghindari Hanna namun tanpa Hanna sadari Rama masih memperhatikan Hanna dari kejauhan.
Dua minggu sudah berlalu, Rama sama sekali tidak menunjukan kepeduliannya pada Hanna. Saat di dalam kelas ia lebih fokus pada materi yang di ajarakan apa lagi saat Hanna tengah menjelaskan di depan kelas.
Jam istirahan Rama gunakan untuk merenggangkan otot-otot tubunnya dengan bermain basket atau futsal bersama teman-temannya.
Hanna kembali di minta menjaga ruang UKS, dari dalam ruang UKS Hanna bisa melihat sosok Rama yang tengah berlari mendribel bola.
Tanpa Rama tau setelah malam itu Hanna benar-benar tidak bisa tidur dengan nyenyak, ia bergelud dengan pikirannya sendiri. Sesekali ia menyesali apa yang ia ucapkan pada Rama namun kembali lagi ia berfikir jika ini jauh lebih baik.
Tidak masalah jika jantungnya berdetak lebih cepat saat ada Rama dan kini dadanya menjadi semakin sesak mengingat apa yang sudah berlalu, tidak masalah. Hanya itu yang Hanna ucapkan pada dirinya sendiri.
Bel masuk berbunyi, Hanna harus meninggalkan ruang UKS lantaran ia memiliki jam mengajar. Setelah menutup pintu UKS, Hanna berjalan koridor sekolah dengan suasana yang cukup ramai lantaran siswa-siswi juga tengah berlarian menuju kelas masing-masing.
"Bu Hanna," Sapa salah satu guru perempuan disana.
Hanna menghentikan langkahnya lantas menoleh pada seseorang yang telah memanggil namanya.
"Bu Tina, ada apa Bu?" Sambut Hanna pada Bu Tina yang tadi memanggilnya dan kini beliau tengan berjalan ke arah Hanna dengan senyum lebarnya.
"Ada Bu?" tanya Hanna lantaran tidak biasanya Bu Tina akan memanggilnya jika tidak ada yang penting.
"Tidak ada apa-apa Bu, kita ngobrol sambil jalan saja." ucap Bu Tina.
Kini dua guru wanita itu berjalan bersama dengan saling berbincang.
"Oh ya Bu?" ucap Bu Tari "Sepertinya akhir-akhir ini Bu Hanna sudah tidak menerima kiriman bungan lagi?" lanjut Bu Tari yang sontak membuat Hanna menoleh padanya dengan mata membelalak.
"Apa Bu Hanna sudah putus?" kini suara Bu Tari lebih pelan dan mungkin cuma Hanna yang bisa mendengarnya.
Haruskah ia menjawab pertanyaan yang tidak penting, ini masalah pribadinya. Hanna memilih untuk tersenyum saja menanggapi pertanyaan Bu Tari.
Seakan-akan mengerti maksud senyuman dari Hanna, Bu Tari ikut tersenyum pada Hanna dengan begitu senangnya.
"Pak Feri tidak percaya kalau Bu Hanna sudah putus." Lagi, Hanna menoleh pada Bu Tari dengan ekspresi tidak percaya.
"Pak Feri ragu mau mendekati Bu Hanna lagi karena kemaren-kemaren Bu Hanna sesalu dapat kiriman bunga. Karena sekarang sudah tidak dapat kiriman bunga lagi yang artinya Bu Hanna sudah tidak punya hubungan dengan siapa-siapa makan saya meminta Pak Feri untuk mendekati Bu Hanna lagi." Jelas Bu Tari di akhiri dengan tawa kecilnya.
Hanna tidak tau lagi harus bagaimana, ia sebenarnya merasa kesal namun ia berusaha menahannya, apa lagi saat Bu Tari tengah bicara panjang lebar, mereka berpapasan dengan Rama.
Tidak bisa menanggapi apa yang di ucapkan Bu Tari, Hanna memilih menoleh melihat punggung Rama yang berjalan menjauh.
"Ada apa Bu?"
"Tidak ada apa-apa Bu." Hanna kembali melanjutkan langkahnya setelah di sadarkan oleh Bu Tari.
🌻
"Gue ke toilet dulu." pamit Rama pada teman-temanya yang sedang menikmati makanan yang tersaji di meja kantin.
"Sejak kapan Pak?"
Rama mendengar samar-samar suara seorang perempuan di sudut lorong sekolah tak jauh dari toilet pria. Disana memang cukup nyaman untuk bebicara di telefon lantaran jauh dari keramaina siswa.
"Seharusnya kan Bapak kabari dari kemaren,"
Rama tidak berniat menguping namun ia bisa mendengar suara perempuan yang sepertinya begitu sedih dan juga putus asa. Rama beranikan mendekat ke lorong, saat ia mendapati seorang wanita berdiri disana, meski hanya punggungnya yang ia lihat namun ia tau siapa wanita itu.
"Hanna" panggil Rama.
Hanna menoleh, saat ia tau Rama berdiri disana dengan cepat ia mengusap air matanya dan kembali membelakangi Rama.
"Hanna akan pulang sekarang Pak." ucap Hanna pada orang tuanya di ujung telefon.
Rama yang berusaha menghindari Hanna namun tidak akan pernah mampu jika ia melihat Hanna seperti sekarang.
Hanna sudah akan melangkah pergi namun Rama mencekal tangannya, "Kenapa? Ada apa?" Rama ikut khawatir.
Air mata Hanna masih mengalir, "Ibu masuk rumah sakit, sudah tiga hari dan bapak baru kasih tau."
Rama tau seperti apa hancurnya hati Hanna saat ini, apa lagi Hanna sangat jarang pulang ke kampung halamanya dan kini ia harus mendapat kabar jika ibunya sedang jatuh sakit.
Sebelum Hanna melangkah lebih jauh, Rama mengejar Hanna. "Sekarang apa yang akan kamu lakukan?"
"Pulang menemui orang tua saya." ucap Hanna dan pergi meninggalkan Rama.
Rama masih di lorong sekolah berjalan kesana kemari, ia harus mengantarkan Hanna, tidak mungkin ia biarkan Hanna pulang sendirian dengan kondisi seperti itu.
Rama berlari menuju kantin sekolah mencari Mario.
"Kenapa lo Ram?" tanya Mario heran dengan Rama yang terlihat panik.
"Gue mau pinjem mobil lo. Mana kuncinya?" Pinta Rama pada Mario.
Mario semakin tidak mengerti dengan sahabatnya itu yang tiba-tiba ingin meminjam mobil.
"Gue gak bawa mobil Ram. Lo tau sendiri kan mobil dirumah gue cuma satu dan pastinya selalu di bawa bokap ker~" Belum selesai Mario berucap Rama sudah pergi dari sana.
Tidak mungkin ia mengantar Hanna menggunakan motor apa lagi dengan cuaca yang tidak menentu dan tidak mungkin ia pulang mengambil mobil, bisa-bisa Hanna sudah naik bus yang Rama tidak tau.
Tidak ada pilihan lain, hanya ini harapan Rama, ia berlari menuju salah satu ruang kelas. Baru memasuki ruang kelas yang begitu ramai lantaran jam istirahat, saat Rama masuk hening seketika.
Mata Rama menelusuri setiap sudut ruangan mencari seseorang, beberapa siswa mulai berbisik dan terlihat khawatir.
Saat yang ia cari ketemu, Rama dengan cepat menghampirinya.
"Mana kunci mobil lo," pinta Rama pada sosok di depannya dan tepatnya masih duduk di bangkunya.
"Maksud lo?"
"Gue butuh mobil lo sekarang Raka." Iya, hanya Raka harapanya meski mereka musuh bebuyutan namun mereka sebenarnya cukup dekat.
"Buat?" Raka masih penasaran dan tidak segera memberikan kunci mobilnya.
Siswa lain di dalam kelas mulai merasa resah dengan apa yang sedang mereka saksikan saat ini. Suasana seakan menjadi suram.
"Buruan Raka, cuma lo harapan gue." Sentak Rama dengan raut wajah frustasi.
Raka yang tau sedang ada yang terjadi pada Rama, ia merogoh saku celananya mengambil kunci mobilnya. Belum sempat Raka menyerahkannya dengan cepat Rama menyambarnya. Lantas ia letakan kunci motonya di atas meja Raka.
"Bilang sama nyokap gue lagi sama lo." ucap Rama lantas pergi begitu saja.
Rama berlari ke tempat parkir, ia mencari dimana mobil Raka, saat ia menemukannya dengan segera ia masuk dan mengemudikan mobilnya.
"Semoga kamu masih belum jauh, Han."
Rama menjalankan mobilnya cukup pelan, karena ia yakin jika Hanna pasti masih ada di jalan sekitar sekolah. Benar saja, Hanna masih berdiri di halte dekat sekolah, Rama menghentikan mobilnya tepat di depan Hanna. Memberi kode klakson pada Hanna yang terlihat melamun.
Rama turunkan kaca jendelanya, "Buruan naik, aku antar."
Tidak ada pilihan lain, ia tidak akan menolak kebaikan Rama, ia harus segera sampai rumah. Hanna melangkah memasuki mobil Rama.
"Katakan dimana rumah kamu?" tanya Rama sebelum melajukan kendaraannya.
"Antarkan saya sampai terminal saja." lirih Hanna dengan mata sembabnya.
"Katakan dimana alamat rumah sakit Ibumu dirawat, kita akan langsung kesana." tegas Rama.
Hanna menoleh pada Rama tidak percaya jika Rama yang sudah dua minggu menghindarinya ternyata masih Rama yang sama, Rama yang begitu baik dan perhatian.
Keduanya sudah dalam perjalanan menuju kampung halaman Hanna. Hanna masih terlihat mengeluarkan air mata bahkan tangannya juga terlihat bergetar.
Saat lampu lalulintas berganti merah, Rama beranikan dirinya untuk menguatkan Hanna, ia genggam tangan Hanna yang masih bergetar penuh ke khawatiran.
"Percayalah, Ibu pasti baik-baik saja. Mungkin ini terdengar klise dan mungkin kamu akan mengatakan jika aku tidak ada di posisimu. Aku mohon, jangan membuatku semakin khawatir. Kita harus sampai disana dengan selamat." ucap Rama penuh perhatian.
...*****...
...Maaf ya karena lama up nya 🙏🙏🙏🙏🙏...
...Mohon maaf kalau ada typo karena ketik langsung up 🤭...
...Seprti biasa jangan lupa vote, like dan komen 🙏...