Hanna Rama

Hanna Rama
Dua Sembilan



🌻🌻🌻


Mobil sudah memasuki halaman parkir Rumah Sakit, setelah Rama memarkirkan mobilnya tanpa basa-basi Hanna segera turun dan berlari begitu saja. Rama yang sudah akan turun dari mobil menghentikan niatnya lantaran ia sadar, jika ia masih berseragam sekolah.


Rama sandarkan badannya dengan frustasi, "Bodoh banget sih gue." kesalnya.


Ia tidak mungkim muncul di depan orang tua Hanna dengan seragam sekolahnya, memang saat ini mereka tidak memiliki hubungan, tapi nantinya.


"Aaarrrgggg....." kesal Rama sembari mengacak rambutnya.


Rama mengernyit saat melihat kaca spion, seakan mendapat sebuah harapan, ia turun dari mobil dan berjalan ke arah bagasi mobil.


"Gue yakin lo pasti siapin baju cadangan disini."


Senyum Rama mengembang saat ia mendapati ada tiga buah paper bag di dalam bagasi mobil Raka yang sudah pasti berisikan beberapa baju.


Rama mengambil salah satu paper bag tersebut lantas mencari toilet agar bisa segera bertemu orang tua Hanna.


Sementara itu, Hanna sudah memasuki ruang rawat inap sang Ibu. Dengan berlinang air mata Hanna segera memeluk sang ibu yang tengah duduk sembari berbincang dengan Ayah Hanna.


"Ibu. Maafkan Hanna" ucap Hanna penuh kesedihan.


Sang Ibu mengusap punggung Hanna dengan penuh kasih, "Sudah, Ibu tidak apa-apa, Hanna."


"Kenapa Hanna baru di kasih tau setelah tiga hari?" Isak Hanna dengan nada kecewa.


Ibu Hanna mengurai pelukan sang putri, ia tatap sang putri lantas ia hapus air mata Hanna yang membasahi pipi.


"Ibu tidak apa-apa, Hanna. Ini pasti Bapakmu yang kasih tau. Padahal sudah ibu peringatkan." Kini Ibu Hanna yang merasa kesal sebari meliri suaminya yang ada di sana.


"Aku pikir kamu merindukan Hanna."


Hanna menoleh pada sang Bapak lantas memeluknya. "Makasih ya Pak sudah kabari Hanna."


"Bapak sehat kan?"


"Sehat dong, kalau bapak sakit nanti siapa yang jaga ibumu."


Mereka mengurai pelukan, "Memangnya ibu sakit apa sih pak?"


"Ibumu cuma kecapekan saja kata dokter, besok sudah boleh pulang kok."


Hanna merasa lega mendengar penuturan sang Bapak. Ia kembali duduk di samping sang Ibu dengan senyum bahagia. Hanna yang tadinya begitu khawatir kini sudah merasa lega dan ia baru sadar jika ia meninggalkan Rama begitu saja.


"Kamu pulang kesini naik apa, Nak?" tanya Ibu Hanna lembut.


"Naik mobil Bu."


"Sama siapa?" kini Ibu Hanna yang terlihat terkejut begitu juga Bapaknya yang tadinya duduk di sudut ruangan mendekat pada Hanna.


"Emh..." Hanna jadi berfikir kenapa ia tadi begitu jujur mengatakan kesini naik mobil. Lihat lah kini kedua orang tuanya jadi merasa curiga.


"Bapak, Ibu, Kak Hanna?"


Semua mata menoleh pada suara yang sudah mereka kenali, ia adalah adik Hanna.


"Viggo." Hanna sudah akan berdiri menyambut sang adik yang baru datang dan masih berseragam sekolah menengah atas.


Langkah Hanna terhenti saat ia melihat siapa yang ada di belakang Viggo, ia adalah Rama.


"Kak Hanna tega banget sih ninggalin temannya begitu saja." ucap Viggo yang lantas memberi kode pada Rama agar masuk ke dalam ruang kamar ibu dirawat.


Hanna terdiam memantung sedangkan kedua orang tuanya seakan penasaran dengan siapa Hanna pulang.


Rama melangkah masuk dan memberi salam pada kedua orang tua Hanna.


"Maaf saya Rama temannya Hanna."


Kedua orang tua Hanna hanya diam saja hingga Viggo menyadarkan mereka. "Kenapa pada diam sih,"


"Oh iya.." sang Bapak bersuara dan mendekat pada Rama mengulurkan tangannya.


Jangan tanya seperti apa ekpresi Hanna, ia tidak percaya dengan apa yang ada di hadapanya dan sejak kapan Rama sudah tidak memakai seragam.


Hanna menyenggol sang adik guna mencari penjelasan dari sang adik kenapa Rama bisa masuk bersamanya.


"Kakak tega tau gak ninggalin cowoknya begitu saja." goda Viggo dengan suara lirih yang hanya bisa di dengar Hanna.


"Jangan sembarangan kamu, Go."


"Kok kamu bisa bertemu Viggo?" kini Bapak Hanna bertanya pada Rama.


"Tadi tidak sengaja bertemu di resepsionis, Pak."


Hanna merasa heran dengan Rama yang ternyata bisa bicara begitu lembut dengan orang tuanya.


"Iya Pak, Buk, Kak Hanna tega ninggali dia gitu aja. Kalau gak ada Viggo mungkin dia gak tau harus apa?" celoteh Viggo.


"Kok bisa gitu?" kini ibu Hanna yang penasaran.


"Tadi saat Viggo baru datang tanpa sengaja lewat depan resepsionis dan melihat Bang Rama binggung." jelasnya "Eh,,, gak papa kan aku panggil Abang." tanya Viggo pada Rama.


"Oh, Iya gak papa, senyaman kamu aja Go."


"Okey, Viggo lanjutin. Viggo denger Bang Rama mencari kamar pasien yang tidak tau siapa nama pasiennya dan yang dia tau cuma nama anak perempuannya. Dan saat Bang Rama ucapkan nama Hanna Ariani disitulah kita ketemu dan Viggo ajak Bang Rama masuk kemari."


Setelah mendengar penjelasan dari Viggo kini mereka sudah duduk di sofa bersama sedangkan Ibu Hanna yang baru saja meminum obat sudah terlelap di atas tempat tidur.


Tidak banyak yang mereka bicarakan, hanya Viggo yang lebih banyak bertanya pada Rama sedangkan Bapak Hanna hanya bertanya dimana Rama bekerja.


"Eeemmhh...." Rama mengusap tengkuknya sembari melirik Hanna, ia tidak tau harus menjawab apa, jika ia jujur, mungkin orang tua Hanna akan memandangnya sebelah mata, jika ia berbohong maka ia memiliki kesan tidak baik pada kedua orang tua Hanna.


"Oh..." Sang Bapak hanya ber Oh saja.


"Apa kalian sudah makan?" Sang Bapak baru sadar jika dari tadi mereka hanya mengobrol dan baru bertanya apa mereka sudah makan.


Seakan mendapat sinyal saat itu juga perut Rama berbunyi, Hanna terlihat menahan tawanya namun tidak dengan Rama yang merasa malu. Melihat itu sang Bapak dan Viggo segera minta Hanna untuk mengajak Rama makan.


Hanna dan Rama sedang berada di kantin rumah sakit keduanya tengah menyantap makanan yang sudah mereka pesan.


"Maaf, tadi saya buru-buru dan meninggalkan kamu."


Rama tersenyum mendengar permintaan maaf Hanna.


"Bukankah kamu harus kembali karena besok harus sekolah?"


"Kita datang bersama dan harus pulang bersama." sahut Rama.


Setelah cukup kenyang, keduanya kembali keruang rawat inap ibu Hanna. Hanna benar-benar menikmati waktu bersama orang tuanya dan ia jadikan kesempatan ini guna merawat sang ibu.


Rama pamit keluar sebentar mencari udara segar, hari yang sudah malam membuat Rama mulai mengantuk lantaran ia belum beristirahat sama sekali.


Rama duduk di salah satu bangku taman rumah sakit dengan segelas kopi menemaninya, ia sedikit terkejut saat mendapati Viggo yang tiba-tiba duduk di sampingnya.


"Ngapain sendirian disini bang?"


"Cari udara segar aja."


"Udah berapa lama kalian pacaran?"


Pertanyaan Viggo seketika membuat Rama tersedah kopi yang baru saja ia cecap.


Uhuk... uhuk.... uhuk....


Viggo usap punggung Rama, "Kaget ya karena aku tau."


Apa mereka terlihat seperti pasangan kekasih? Apa kedua orang tua Hanna juga mengira mereka adalah pasangan kekasih?


Rama tidak ingin membohongi semua keluarga Hanna, dan mungkin jika ia berkata jujur pada Viggo, mungkin Viggo bisa membantunya.


"Apa kami terlihat seperti sepasang kekasih?"


Kini Viggo yang terbelalak mendengar ucapan Rama. "Jadi kalian gak pacaran?"


Rama menggeleng, "Kakak kamu sulit di dapatkan."


"Haah.." Viggo tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Tunggu Bang. Maksudnya bang Rama ini, bang Rama masih berusaha apa udah di tolak?"


"Keduanya."


"Hahahahahaha...." Viggo tidak bisa menahan tawanya. "Maaf bang, bukan maksud Viggo ngetawaain Abang. Cuma Viggo heran apa yang kurang dari bang Rama hingga di tolak Kak Hanna?"


"Entahlah Go, aku juga tidak tau."


"Mau Viggo bantu," tawar Viggo dan seakan membawa angin segar untuk Rama yang saat itu juga terlihat antusias.


🌻


Rama dan Viggo kembali kedalam ruang rawat inap, mereka mendapati Hanna dan Ibu sudah terlelap dan begitu juga dengan Bapak yang tertidur di sofa.


Sebenarnya Viggo ingin berpamitan pada orang tuanya untuk pulang namun keduanya sudah tertidur jadi ia pulang tanpa berpamitan sementara Rama menolak tawaran Viggo untuk istirahat di rumahnya. Rama memilih menunggu di kursi tunggu di depan ruangan kamar.


Rama tidak bisa lagi melawan rasa kantuknya hingga ia terlelap di atas kursi tanpa bantal dan selimut.


Mungkin sudah satu jam Rama terlelap di atas kursi, ia terlihat begitu pulas bahkan ia tidak tau jika Bapak Hanna menyelimutinya.


Dari sini Bapak Hanna tau jika Rama pasti sangat tulus mencintai Hanna.


Hanna terbangun dan mendapi sang Bapak duduk di sofa sembari memikirkan sesuatu.


"Bapak tidak tidur?"


"Kamu sudah bangu?"


"Kenapa Bapak tidak tidur?


"Bapak baru bangun. Kemarilah bapak mau bicara dengan kamu."


Hanna mendekat pada sang Bapak duduk di sampingnya, tidak biasanya Bapak terlihat begitu serius pada Hanna.


"Ada apa Pak?"


Bapak pegang tangan putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Sepertinya Rama begitu tulus pada kamu Han." Hanna menjingkit mendengar penuturan Bapaknya.


"Pak?"


Hanna seakan tidak mau menerima apa yang Bapaknya ucapkan, ia keluar dari ruangan dan mendapati Rama terlelap di sana dengan wajah damainya.


"Rama, kenapa kamu seperti ini, aku takut jika kita melangkah lebih jauh." Batin Hanna, dan sudah berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Rama yang terlelap.


...*****...


...Jangan lupa like, vote dan komen 😊...


...Maaf kalau ada typo 🙏...