Hanna Rama

Hanna Rama
Tiga



"Hemh..." Rama menjawab singkat tanpa menghiraukan mamanya.


"Maafkan anak saya ya nak Hanna. Saya berharap nak Hanna bisa membimbing anak saya Rama." ucap Bu Wijaya lembut.


"I-iya bu, saya akan berusaha sebaik mungkin." Hanna mulai ragu dengan ucapannya tapi ia akan berusaha untuk menjadi guru yang baik untuk Rama.


Dalam perjalanan pulang, Hanna terus berfikir, bisakah ia mengajari Rama yang seorang anak SMA sementara dirinya tidak punya pengalaman menjadi seorang guru. Anggap saja ini tryning sebelum nantinya benar-benar menjadi seorang guru. Batin Hanna meyakinkan dirinya.


Hari sudah mulai gelap, Hanna mulai mencari materi pembelajaran anak SMA kelas dua belas, setidaknya Hanna tau apa yang harus ia ajarkan nantinya. Tak ada hentinya ia menghela nafas berat saat mengingat muridnya adalah anak SMA dan seorang laki-laki. Hanna pasti butuh kesabaran ekstra.


tok... tok... tok...


Terdengar ketukan pintu dari luar, sudah pasti yang mengetuk pintu adalah Dinar yang baru saja pulang kerja. Hanna membuka pintu dengan wajah yang begitu murung, Dinar bisa melihat raut murung Hanna.


"Kenapa dengan muka mu?" tanya Dinar setelah menaruh tas kerjanya di atas meja rias.


Helaan nafas berat kembali keluar dari Hanna.


"Kenapa? Gak di terima ya jadi guru les?" kembali Dinar bertanya sembari membersihkan sisa make upnya.


Hanna kembali menghela nafas berat, membuat gerakan tangan Dinar terhenti lantas menoleh pada Hanna.


"Kamu tau gak Din, yang mau aku ajari itu ternyata anak SMA." ucap Hanna lesu.


"Ha" Dinar terkejut mendengar ucapan Hanna, ia letakan kapas yang sudah penuh dengan sisa make up dan mendekan pada Hanna yang duduk di atas tenpat tidur. "Kamu yakin? terus gimana?"


"Ya mau gimana lagi Din, aku tetep akan mengajar di sana." Hanna tertunduk lesu.


"Terus kenapa harus murung kalau memang kamunya mau juga?"


"Gajinya lumayan,"


hahahaha.. Dinar tertawa terbahak-bahak mendengarnya. "Kamu itu aneh tau gak."


"Aneh gimana maksud kamu Din?"


"Gak mau ngajar anak SMA tapi mau sama gajinya." ucap Dinar lantas kembali tertawa terbahak-bahak.


"Kamu sih, gak akurat kasih informasi, katanya anak SD." kesal Hanna


"Kan aku bilang mungkin, aku kan gak tau adiknya bos itu masih SD apa udah SMA." Dinar tertawa kecil lantas beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, sebelum memasuki kamar mandi Dinar sempatkan menggoda Hanna. "Selamat menikmati pelatihan kesabara Hanna."


Hanna yang mendengar ejekan Dinar lantas melempar bantal pada Dinar yang sayangnya Dinar sudah terlebih dulu masuk ke kamar mandi dan menutup pintu. Hanna begitu kesal tapi tidak dengan Dinar yang masih tertawa senang di dalam kamar mandi.


🍀🍀🍀


"Gimana ma, sudah dapat guru les lagi?" Tanya Wijaya pada sang istri di sela makan malam mereka bersama putranya.


Rama yang mendengar ucapan sang papa seketika tidak bernafsu untuk makan.


"Sudah Pa. Mulai besok dia akan datang kesini." Jawab Rita lembut.


"Bagus kalau begitu, kalau bisa minta dia mengajar sampai lima jam." tegas Wijaya yang sontak membuat Rama meremas sendok yang ada di tangannya.


"Nanti mama coba diskusikan dulu ya dengan Bu Hanna." Rita tau jika sang putra tidak senang mendengarnya tapi ia tidak ingin ada pertengkaran di meja makan. Baginya waktu lama atau sebentar tidak ada pengaruhnya selama Rama mau mengikuti les saja ia sudah bersyukur.


Wijaya pun mengangguk dan kembali melanjutkan makannya, sementara Rama yang menahan amarah hanya bisa diam di sana sembari mengunyak makanan yang begitu susah di telan olehnya.


Jika bisa memilih, Rama ingin sekali hidup dalam keluarga sederhana yang begitu banyak canda dan tawa tidak seperti di keluarganya yang terlalu serius. Di dalam rumah yang begitu besar ini seingat Rama tidak pernah terdengar canda tawa keluarga. Rama terkadang iri dengan Raka yang masih bisa bercanda dan bertengkar dengan kakaknya, bukan bertengkar yang saling membenci tapi pertengkaran yang jika salah satu tidak ada maka akan sangat dirindukan.


Sementara dirumahnya begitu sunyi, Kakak Rama sosok yang serius dan begitu fokus dengan pekerjaannya, saat pulang selalu larut malam, saat pagi sang kakak sudah terlebih dulu berangkat kerja. Tidak ada waktu untuknya bercanda dengan sang kakak, apa lagi sekarang sang kakak sudah menikah dan tidak tinggal bersama, semakin tidak ada kesempatan bagi Rama untuk bercanda dengan sang Kakak.


Rama yang tidak bisa keluar malam saat dirumah memilih bermain game di dalam kamarnya, sayangnya belum ada game yang ia menangkan dan malam membuatnya begitu kesal. Ia memilih menghentikan permainannya dan berjalan menuju balkon kamarnya sembari menghisap batang nikotin.


🌻🌻🌻


Rama tersenyum getir saat ia membuka matanya di pagi hari, "Kenapa gue masih bangun di tempat ini." ucapnya lantar beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.


Sarapan pagi tidak pernah Rama lewatkan, ia selalu menghargai mamanya yang setiap hari bangun lebih awal untuk membuat sarapan. Meski sudah ada asisten rumah tangga, Rita selalu menyiapkan sarapan pagi sendiri, ia ingin hari-hari orang yang di cintainya selalu berjalan dengan baik dan penuh kebahagiaan.


"Ram, pulang sekolah footsal yuk?" ajak Mario teman dekat Rama


"Gak bisa gue."


"Katanya guru les lo udah resign?"


"Nyokap dapat guru baru lagi."


Mario terlihat menahan tawa mendengar ucapan Rama.


"Ada yang lucu?" Rama mulai kesal saat menyadari Mario menahan tawa.


"Okey, gak ada." Mario tidak ingin sang sahabat menjadi kesal. Lantas keduanya memasuki kelas bersama.


Rama yang terkenal badboy dan sering adu jotos dengan Raka saat di sekolah tapi ia masih menjadi anak yang patuh pada orang tua, terbukti kini ia tengan dalam perjalanan pulang. Sebelum berangkat tadi sang mama memintanya agar tidak pulang terlambat.


Rama benar-benar datang tepat waktu, ia sampai rumah tepat jam setengah tiga sore. Saat memasuki rumah, guru lesnya sudah datang lebih dulu. Hanna tengah duduk di ruang tamu denga di temani Rita. Rama yang mengetahui itu begitu kesal, ia tidak punya waktu untuk istirahat, setelah menyapa sang mama, Rama pergi ke kamarnya untuk ganti baju.


"Nak Hanna tinggal pilih aja dimana tempat belajarnya, cari tempat yang nyaman aja." ucap Rita lembut.


"Iya Buk, biar Rama saja yang pilih, yang dia merasa nyaman."


Rama kini sudah berganti pakaian yang lebih santai kaos oblong dan celana pendek.


Rama memilih belajar di teras samping rumahnya dengan pemandangan rumput hijau serta kolam renang setelah tadi Hanna bertanya pada Rama ia ingin belajar dimana.


"Kita bisa mulai materi belajarnya ya." Hanna sudah mulai membuka buku sementara Rama malah bermain game.


"hemh.."


"Rama, tolong perhatikan saya." Hanna masih sabar.


"Kita belum kenalan lo udah kenal siapa gue." Ucap Rama dengan mata yang masih fokus pada layar hp nya.


lo, gue. Hanna tersentak mendapan sebutan seperti itu, jelas-jelas ia lebih tua dari Rama dan ia juga guru Rama tapi kenapa Rama begitu enteng menyebut lo, gue.


"Kalau gitu kita kenalan dulu, saya Hanna." Hanna berusaha sabar, ia ulurkan tangannya pada Rama. Entah Rama sengaja atau tidak tapi tanggan Hanna tidak langsung di sambut oleh Rama.


"Sorry gue lagi seru, Rama" Barulah Rama menerima uluran tangan Hanna.


"Kalau gitu bisa kita belajar sekarang?" Sabar Hanna


"Boleh, lo jelasin aja gue bisa denger kok." Cuek Rama


Ya Tuhan, mampukan Hanna bertahan menghadapi anak manusia yang modelnya seperti ini. Harus bertahan demi lima ratus ribu, itu yang Hanna pikirkan. Modal nikah banyak ia tidak mau menyusahkan kedua orang tuanya lagi.


"Rama, bisa gak kamu bersikap lebih sopan pada saya, saya gurumu, terdengar tidak etis saat kamu ngomong lo, gue pada saya." Lembut Hanna agar Rama tidak terpancing emosi.


Ucapan Hanna ternyata mampu mengalihkan pandangnya dari larah hp ke Hanna. "Lo gak suka, kalau lo gak suka tinggal bilang sama nyokap buat berhenti. Gak repot kan?"


Solusi yang Rama berikan benar-benar di luar pikiran Hanna. Jadi ini sebabnya banyak guru les yang berhenti bahkan tidak sampai satu bulan.


Ini baru satu anak SMA, jika nanti aku sudah di terima mengajar di SMA lebih banyak anak yang seperti ini yang aku hadapi, aku harus bertahan disini. Batin Hanna.


"Baiklah, kalau begitu kamu dengarkan materi yang saya ajarkan, terserah denga panggilan apapun saya tidak peduli selama kamu mendengarka saya." ucap Hanna


"Oh ya, okey, gue dengerin lo, Hanna." Rama memberi penekanan saat menyebut nama Hanna.


Saat menyebut lo gue saja Hanna di buat terkejut, apa lagi ini, Rama yang benar-benar sudah kurang ajar hanya memanggil namanya, padahal ia adalah guru lesnya. Ia tidak minta di panggil Bu, setidaknya panggil kak saja sudah cukup. Sepertinya kesabaran Hanna mulai habis terlihat dari ia yang menatap tajam Rama dengan tangan yang terkepal erat.


****


**Dikit-dikit dulu ya, baru permulaan soalnya 🤭,


Ayo terus dukung Rama dengan vote, like dan komen ya biar dia gak iri sama Raka 🤭


Maaf kalau ada typo. Terimakasih yang sudah kasih vote, like dan komen 🙏**