Hanna Rama

Hanna Rama
Lima Belas



🌻🌻🌻


Hanna tengah berada di atas motor Rama dengan tangan berpegang erat pada pinggang Rama. Punggung Rama kini menjadi sandara Hanna dengan air mata yang masih mengalir. Rama bisa merasakan basah pada punggungnya setelah tadi dadanya di buat basah Hanna. Rama tidak perduli dengan dinginnya angin malam, ia berikan jaketnya untuk di kenakan Hanna.


Rama masih terus melajukan motornya dengan kecepatan sedang, ia berharap kesedihan Hanna segera menghilang dengan terpaan angin di atas motor.


Hanna tidak menyadari jika Rama sudah melewati tempat kostnya sebanyak dua kali.


"Hanna." Panggil Rama.


Hanna tidak menyahut, Rama kembali memanggil Hanna dengan lebih keras. Barulah Hanna merespon.


"Apa?"


"Gue antar ke kost lo ya?"


Hanna mengeratkan pegangannya membuat Rama bertanya-tanya dalam hati, lantas Hanna menggeleng.


"Turunkan saya dimana saja asal jangan di kost." ucap Hanna.


Mana tega Rama menurunkan perempuan di tengah jalan apa lagi ini sudah malam, Rama memilih membawa Hanna ke apartemennya, di sana Hanna pasti lebih baik.


Rama menghentikan motornya di baseman apartemen, Hanna merasa bingung dimana dia sekarang dan dimana Rama menurunkannya.


"Ini apartemen gue, lo gak perlu takut atau khawatir di sini lebih aman dari tempat manapun." Ucap Rama yang tau akan isi hati Hanna.


Hanna turun dari motor Rama melepas helm kemudian mengikuti langkah Rama, memasuki lift berjalan di lorong hingga sampai di depan pintu besi yang kemudian Rama tekan enam kombinasi angka yang bisa membuka pintu.


Hanna jadi ragu untuk melangkah masuk, karena ini pertama kalinya ia mengikuti seorang pria dan memasuki apartemen pria hanya berdua saja.


"Masuk aja, di sini aman kok." Kembali Rama meyakinkan Hanna barulah Hanna berani melangkah masuk.


Rama meminta Hanna untuk duduk di sofa, kemudian ia melangkah ke dapur membuka lemari pendingin yang hanya ada air mineral saja. Rama tau pasti Hanna merasa kedinginan jadi ia memanaskan air mineral yang ada di dalam kulkas.


"Minumlah," Rama meletakan cangkir berisi air hangat di depan Hanna. "Disini adanya cuma mineral saja."


Hanna hanya mengannguk lantas ia meraih gelas di hadapannya, ia tiup sebentar kemudian ia cecap sedikit air hangatnya.


Rama merasa Hanna butuh waktu sendiri jadi ia memilih untuk pergi dari sana. Baru melangkah, kaos Rama di tarik Hanna. "Mau kemana?" Tanya Hanna dengan suara serak.


"Pergi, gue rasa lo butuh waktu sendiri."


Kedua nektas insan manusia itu bertemu, "Jangan pergi, saya takut jika harus sendirian di tempat asing."


"Baiklah, gue tidak akan kemana-mana, gue ada di balkon, gue akan tutup pintunya jadi lo bisa melampiaskan kesdihan lo."


Setelah Rama menutup pintu kaca di balkon, air mata Hanna kembali tumpah. Pikiran Hanna begitu kacau, ia tidak tau apa yang harus ia katakan pada orang tuanya. Selama ini orang tua Hanna begitu memuji Ivan tapi nyatanya Ivan bukan orang yang layak di banggakan.


Mengingat kebahagian orang tuanya saat acara lamaran membuat Hanna semakin menjadi.


Meski pintu balkon tertutup rapat, namun Rama masih bisa mendengar tangis pilu Hanna, hatinya jadi ikut sakit, tanpa sadar ia kepalkan tangannya. Kanapa harus Hanna. Hanya itu yang terlintas di benak Rama.


Dinar mondar mandir di dalam kamar kostnya, ia menghawatirkan Hanna. Sebenarnya tadi Dinar juga ada di sana namun saat akan menghubungi Hanna ternyata Hanna ada di panggilan lain jadi Dinar memilih mencari di taman.


Dinar melihat Ivan yang tengah berdiri sambil bicara di telefon, Dinar pikir Hanna sedang berasama Ivan namun yang Dinar lihat sang sahabat yang memergoki tunangannya tengah bersama wanita lain, wanita yang Dinar lihat di club malam.


Dinar sudah akan melangkah mendekat pada Hanna namun langkahnya terhenti saat ada seorang pria yang lebih tinggi dari Hanna datang mendekap Hanna.


Hanna sengaja menonaktifkan ponselnya, mungkin ia lupa jika ada Dinar yang pasti sangat menghawatirkannya.


Rama tidak tau berapa lama ia duduk sembari membakar satu demi satu nikotinnya yang jelas saat ini ia sudah tidak mendengar isakan dari Hanna. Perlahan Rama membuka pintu lantas berjalan mendekat pada Hanna.


"Udah lebih baik?" Tanya Rama yang mengejutkan Hanna.


"Emh.." Mata Hanna begitu sembab serta raut wajah yang begitu lelah.


Mungkin Hanna tidak memiliki nafsu makan saat ini namun Rama telah memesan makanan cepat saji.


"Gue tau lo pasti gak nafsu makan, tapi lo harus punya tenaga buat melakukan langkah selanjutnya." Jelas Rama yang akhirnya membuat Hanna sadar jika hidupnya masih harus terus berlanjut dan ia masih harus memikirkan keluarganya.


Keduanya menikamati makanan di depannya meski terkadang Hanna begitu susah untuk menelan, saat seperti itu maka Rama akan memberikan Hanna segelas air putih.


"Lo istirahat di sini aja."


Mendengar Rama bicara membuat Hanna seketika tersedak, dengan cepat ia pukul-pukul dadanya.


Hanna tolak niat baik Rama, ia menggeleng. Lebih baik ia kembali ke kost saja, ada Dinar yang pastinya akan mendengarkan ceritanya hari ini.


Setelah menyelesaikan makan malam yang sudah sangat malam itu Hanna dan Rama keluar dari apartemen.


"Ini lo pake." Rama kembali menyerahkan jaketnya pada Hanna.


"Kamu pakai aja, saya kan yang di bonceng, gak papa gak pakai jaket." Tolak Hanna. Namun bukan Rama namanya kalau menuruti Hanna begitu saja.


Rama membuka jaketnya lantas ia pakaikan di bahu Hanna. "Gak usah banyak bicara, ni lo pake helmnya."


Hanna hanya bisa pasrah sembari mengambil helm dari tangan Rama, sebelumnya ia kenakan jaket Rama dengan benar.


Rama yang menyadari itu hanya bisa tersenyum begitu saja, ia merasa Hanna begitu lucu dengan tingkah lakunya. Rama tidak ingin kejadian buruk menimpa Hanna jadi ia memimilih melajukan motornya dengan kecepatan sedang dan cenderung pelan.


Motor Rama berhenti di depan gerbang kost Hanna. Hanna segera turun dan membuka kaitan helmnya.


"Jaketnya sekalian." ucap Rama


"Emh, nanti saya kembalikan setelah saya cuci." Hanna merasa tidak enak jika harus mengembalikan jaket Rama yang sudah ia pake dalam keadaan kotor.


Rama hanya bisa menarik sudut bibirnya, "Lo mau gue mati kedinginan."


"Hah," Hanna melonggo mendengar ucapan Rama. "Maaf, tapi masih kotor," Hanna merasa tidak enak namun ia tetap harus mengembalikan jaket Rama sekarang, karena Rama pasti sangat kedinginan.


Rama pakai jaketnya lantas ia berpamitan pada Hanna namun sebelum melajukan motornya, Rama memberikan senyumnya lantas ia berpesan pada Hanna, "Kalau besok lo masih sakit, gak perlu datang ke rumah. Kesehatanmu lebih penting."


"Ya udah kalau gitu gue cabut dulu."


Belum di jawab oleh Hanna, Rama sudah menarik gas motornya dengan kencang.


Hanna berjalan menuju kamar kostnya, ini sudah jam dua belas malam, mungkin Dinar sudah tidur.


"Hanna..." Sambar Dinar yang ternyata menunggu Hanna dan saat tau Hanna pulang dengan cepat ia peluk sang sahabat.


"Din.." Hanna kembali terisak.


Dinar usap lembut punggung Hanna, "Kamu gak sendiri Han, masih ada aku di sini."


Hanna semakin mengeratkan pelukannya, kenapa ia tidak mau mendengarkan Dinar saat itu, kenapa ia begitu percaya pada Ivan yang hanya beberapa kali ia temui. Hanya itu yang saat ini terlintas di kepalanya.


Dinar mengurai pelukannya lantas ia mengajak Hanna duduk di atas tempat tidurnya. Dinar genggam tangan Hanna guna menguatkan Hanna.


"Sekarang kamu cerita?"


Hanna menggeleng, "Kenapa?" Dinar ingin tau alasan Hanna.


Hanna masih diam dan menunduk, isakan Hanna masih terdengar di sana. Dinar tidak memaksa Hanna, ia hanya terus menggenggam tangan Hanna.


"Din." Hanna mendongak "Aku sebenarnya tidak tau harus bagaimana? Aku tadi melihat Mas Ivan dengan wanita lain."


Dinar masih diam menunggu Hanna bicara yang terlihat begitu sulit mengucapkannya.


"Aku gak tau Din harus gimana?"


Dinar peluk sang sahabat, "Han, lebih baik tau sekarang dari pada nanti setelah kalian menikah."


Hanna urai pelukan Dinar, "Tapi Din, aku gak mau membuat orang tuaku kecewa Din."


"Han, mereka akan lebih kecewa saat mereka tahu anak perempuannya telah di sakiti laki-laki yang mereka percaya."


"Lebih baik kamu akhiri sekarang Han."


Hanna menggeleng, ia ragu apa tepat mengakhiri pertunangannya dengan Ivan yang sangat di banggakan orang tuanya.


"Hanna. Apa kamu cinta dengan Ivan?"


Hanna berfikir, ia bahkan tidak tau bagaimana rasanya jatuh cinta, saat di tanya Dinar, ia hanya bisa diam.


"Lantas, apa yang membuatmu menangis saat tau Ivan bersama wanita lain?"


Iya, apa yang membuatnya menangis hingga terasa kering air matanya.


"Apa Hanna?"


"Aku memikirkan orang tuaku Din. Aku kecewa pada Mas Ivan yang begitu di banggakan orang tuaku namun sekarang aku tau sebenarnya seperti apa Mas Ivan. Aku tidak bisa membayangkan bagaiman Ayah dan Ibuku saat tau tentang Mas Ivan sebenarnya."


"Lantas saat tadi kamu melihat Ivan di taman dengan wanita lain, apa kamu punya perasaan ingin menjambaknya?"


Hanna menggeleng.


"Semua ada di tangganmu sendiri Han. Melanjutkan apa mengakhiri?"


"Tunggu, kamu kok tau Mas Ivan di taman?"


"Aku di sana Hanna, aku sudah akan menghampirimu, cuma aku urungkan saat muridmu datang memelukmu."


Ucapan Dinar tiba-tiba membuat pipi Hanna memanas, bahkan dengan cepat Hanna menyentuh pipinya. Kenapa ia tiba-tiba merasa panas?


......****......


...**Jangan lupa vote, like dan komen ya....


.......


...Maaf kalau ada typo🙏**...