Hanna Rama

Hanna Rama
Lima



🌻🌻🌻


Pagi ini Hanna bangun lebih dulu dari Dinar, Hanna yang duduk bersilah di atas tempat tidurnya membuat Dinar terkejut saat baru pertama membuka mata.


"Ya Tuhan Han, kamu ngagetin tau gak?" ucap Dinar sembari mengusap matanya.


"Din, menurut kamu gimana, apa aku harus berhenti? tanya Hanna meminta pendapat Dinar.


"Han, semua keputusan yang kamu buat artinya itu yang terbaik buat dirimu. Tinggal kamunya aja, masih nyaman apa tidak dengan tingkah muridmu."


"Kayaknya positif berhenti aku."


"Yakin?" Ragu Dinar. Hanna menanggapi dengan anggukan. Setelah mendapat keyakinan dari Hanna, Dinarpun beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.


Hanna kembali merebahkan diri sembari bermain ponsel, ia mencari lowongan kerja, yang ia butuhkan kali ini adalah kerja untuk bertahan hidup di ibukota.


Dinar sudah rapi untuk berangkat kerja sementara Hanna masih rebahan saja di atas tempat tidur.


Hari semakin siang, Hanna bangun dan menyeduh teh, ia menikmati tehnya masih dengan ponsel di tangannya, berharap ia bisa cepat dapat kerja.


Ponsel Hanna berdering dengan menampilkan nama Ibu di layar.


"Hallo Bu."


"Hallo Hanna" suara di sebrang sana begitu sumringah membuat Hanna tersenyum.


"Apa kabar Bu?"


"Baik, kamu apa kabar Nak?"


"Hanna juga baik Bu. Ibu sedang apa?"


"Ibu baru selesai sarapan. Kamu sudah sarapan?"


Haruskah Hanna jujur tapi pasti akan membuat orang tuanya khawatir. Apa salahnya berbohong agar tidak membuat orang tua khawatir.


"Sudah donk Bu." Ucap Hanna penuh keyakinan padahal ia hanya minum segelas teh pagi ini.


"Gimana kerja kamu? ibu sama ayah benar-benar bahagia kamu sudah dapat kerja Han. Mungkin pada awalnya sulit tapi pasti lama-lama kamu akan terbiasa."


Mendengar ucapan dari sang ibu, Hanna jadi tak tega untuk mengatakan yang sesungguhnya jika ia sebenarnya sudah berencana berhenti menjadi guru les. Saat itu Hanna sudah begitu yakin akan pekerjaannya, ia menghubungi kedua orang tuanya memberitahu jika ia sudah dapat kerja. Baru bekerja dan membuat kedua orang tua mereka bahagia, apa tega Hanna merusak kebahagian orang tuanya.


"Emh,,, iya bu, tenang saja Hanna tidak mendapat kesulitan sama sekali kok bu." Hanna mencoba berucap dengan nada yang seolah tidak ada yang mengganggu pikirannya.


"Ya sudah kalau begitu, ibu lanjutkan pekerjaan rumah dulu ya."


"Iya bu, kalau gitu Hanna tutup ya telefonnya."


"Oh ya Hanna, nitip salam ya sama Ivan. Bilang makasih sudah mau jagain anak ibu."


"Iya ibu ku sayang,,,"


Obrolan ibu dan anakpun berakhir, Hanna meletakan ponselnya di meja lantas ia kembali menaiki tempat tidur, kali ini ia tengkurap memendamkan wajahnya.


"Eeerrrhhh...." Hanna menggeram. Pikirannya kembali bimbang setelah mendapat panggilan dari sang ibu.


Hanna bimbang untuk meminta pendapat pada tunangannya, lantaran Ivan yang jarang menghubungi Hanna. Kesibukan Ivan membuat mereka jarang berkomunikasi jadi Hanna juga enggan untuk menghubungi Ivan terlebih dulu. Karena pernah Hanna mengirim pesan singkat yang malah di balas ke esokan harinya lantaran ia sibuk kerja.


Dan disinilah Hanna duduk di halaman samping rumah Rama dengan mengembangkan senyumnya pada sang murid yang begitu maskulin. Dari pandangan Hanna, bisa dia lihat jika Rama sangat tidak senang ada dirinya di sana.


Saatnya kita menguji kesabaran. Batin Hanna.


Raka yang melihat Hanna di sana mau tidak mau melangkah menuju halaman samping. Ia lempar jaket kulit yang masih ada di tangannya pada kursi lantas ia duduk dengan asal.


"Maaf ya Rama, tadi saya datangnya sedikit terlambat." Ucap Hanna seolah tidak tau apa-apa padahal ia bisa melihat ekspresi kesal Rama.


"Gue kira lo gak akan pernah datang lagi?" Kesal Rama


Hanna memberika senyum lebarnya pada Rama, "Saya percaya kalau kamu masih butuh saya sebagai guru les."


Rama menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Hanna. "Gue gak butuh lo sama sekali, HANNA."


Sabar.... sabar.... sabar...., ingin sekali Hanna mengelus dada tapi ia tidak ingin terlihat terintimidasi oleh Rama. Bukankan pernah ada yang bilang 'Kalau kita ingin mengalahkan musuh cara terbaik adalah dekatilah musuh cari kelemahannya, lalu serang.' Dari situlah Hanna bertekat akan mencoba lebih mengenal Rama agar tau bagaimana cara mengatasinya.


"Baiklah kalau gitu kita mulai saja pembelajarannya ya," Hanna mulai membuka buku, tapi tidak dengan Rama yang malah terlihat sedang menghubungi seseorang.


"Halo Yo."


"........"


"Sorry gue gak bisa dateng,"


".........."


"Ada acara keluarga mendadak." setelah itu panggilan berakhir.


Hanna masih memperhatikan Rama, ia masih menunggu Rama selesai dengan telefonnya.


"Ehem..." Hanna berdehem sebelum memulai bicara. "Kalau sudah menelfonnya, bisa kan kita mulai belajarnya?" Hanna masih begitu lembut pada Rama


"Rama" Hanna mulai terpancing ucapan Rama "Saya duduk di sini sebagai guru mu, saya punya tanggung jawab untuk mendidikmu dan kalau kamu masih ragu dengan kemampuan saya coba kamu ikuti pembelajaran saya dan lihat bagaimana hasilnya. Jika kamu memperhatikan saja dan hasilnya nihil saya akan berhenti jadi guru les mu tapi jika hasilnya jauh lebih baik maka kamu harus bersikap lebih sopan pada saya."


"Oh, jadi lo mau taruhan sama gue?" Remeh Rama


Apa Hanna terdengar bertaruh dengan Rama, tapi terserah apa yang ada di pikiran Rama, Hanna akan berusaha bertahan selama satu bulan dan jika ia belum satu bulan sudah ada panggilan kerja, maka saat itulah ia akan berhenti menjadi guru les Rama.


"Bukan taruhan tapi tantangan." Hanna tidak terima dengan ucapan Rama


"Kok gue dengernya taruhan ya?"


"Terserah kamu, yang jelas dari sekarang dengarkan saya sebagai guru lesmu."


"Okey."


Rama menerima tantangan dari Hanna, ia hanya memperhatikan apa yang Hanna ajarkan saja untuk hasilnya jelas Rama adalah hasil buruk agar Hanna segera pergi dari hadapannya.


Rama mencebik saat Hanna mulai menjelaskan, ia tidak yakin Hanna akan mampu bertahan mengajarinya.


Ternyata di dalam rumah, sang mama sedang memperhatikan Rama dan Hanna, Rita tersenyum yang menggambarkan kelegaannya, ini pertama kalinya Rama terlihat memperhatikan guru lesnya.


Dengan perasaan senang Rita melangkah ke dapur untuk menyiapkan makan malam karena tadi suaminya bilang akan pulang lebih awal.


Rama sepertinya mulai bosan terlihat beberapa kali ia menguap. Tapi jam yang sudah di jadwalkan masih kurang tiga puluh menit lagi.


"Lo gak capek apa?" tanya Rama


"Hem,, Gak." Hanna tidak akan capek karena cuma ini pekerjaannya.


"Lo lanjut aja sendiri gue udah capek." Rama berdiri dari kursinya hendak meninggalkan Hanna, tapi sayang langkahnya terhenti saat ia melihat papanya baru datang yang sudah di sambut sang mama. Tanpa sadar Rama mengepalkan tangannya dan hal itu di sadari Hanna.


Hanna belum pernah bertemu dengan pimpinan Wijaya group. Ini pertama kalinya Hanna melihatnya mengikuti arah pandang Rama.


Rama masih berdiri di tempat, ternyata Papanya sedang berjalan ke arahnya. Rama pejamkan matanya sejenak lantas ia hembuskan nafas berat.


"Malam Pa." Sapa Rama.


"Malam, kenapa kamu berdiri, apa belajarnya sudah selesai?"


"Belum Pa, Rama mau ke kamar mandi."


"Ya sudah sana." Setelah mendengar ucapan papanya, Rama meninggalkan papanya.


Sebenarnya tujuan Wijaya untuk bertemu dengan Hanna, ia ingin tahu seperti apa guru les putranya saat ini.


Hanna segera berdiri memberi salam pada Wijaya. "Selamat malam tuan."


"Selamat malam, mari duduk." Wijaya mempersilahkan Hanna duduk kembali di ikuti dirinya yang duduk di kursi Rama.


"Saya Wijaya, Papanya Rama." Wijaya mengulurkan tangannya


"Saya Hanna." Hanna pun menjabat tangan Wijaya.


"Saya senang ada mau menjadi guru les putra saya, saya berharap banyak pada anda."


"Saya akan berusaha mengajar dengan baik Tuan, semoga hasilnya juga memuaskan."


"Bagaimana Rama? Apa dia masih tidak memperhatikan pembelajarannya?"


Wah jadi selama ini Rama memang tidak memperhatikan apa yang guru lesnya ajarkan. Jadi Hanna sudah ada kemajuan ia bisa membuat Rama memperhatikannya.


"Rama memperhatikan pembelajaran saya Tuan, saya tidak menyanggka jika Rama juga bisa dengan mudah memahami apa yang saya jelaskan." Hanna berkata jujur, dua setengahk jam ia duduk disini bersama Rama dan selama itu Rama mendengarkan penjelasan Hanna.


"Baguslah. Kalau begitu Bu Hanna bisa menyudahi pembelajaran hari ini, mari kita makan malam bersama. Saya harap Bu Hanna tidak menolak."


"Baik tuan." Hanna mengganggu.


Seharusnya tadi ia menolak saja kebaikan tuan Wijaya jadi ia tidak perlu ada di meja makan yang sama dengan konglomerat yang sayangnya di meja makan yang seharusnya penun dengan kehangatan malam terasa begitu dingin, apa lagi Rama yang duduk di hadapan Hanna, ia melihat Rama yang sepertinya begitu susah menelan makanan.


Hanya Rita yang memecah keheningan dengan menawari Hanna lauk serta suami dan anaknya setelah itu sunyi lagi.


"Rama." Panggil Wijaya, Hanna yang semula menunduk menjadi mendongak menoleh pada Wijaya kemudian pada Rama yang sudah mencengkeram sendok yang ada di tangannya. "Papa ingin kamu sungguh-sungguh dalam belajar, kamu harus bisa masuk universitas ternama entah di dalam atau di luar negeri dengan nilaimu bukan uang papa."


Hanna terkejut, tapi memang ada benarnya karena orang tua pasti ingin anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik.


"Kalau kamu tidak bisa melebihi kakakmu maka kamu harus sepadan dengan kakakmu."


Jadi seperti ini suasana di meja makan orang kaya, Hanna baru tau jika seseram ini di sana. Hanna bisa melihat Rama yang begitu menahan emosi. Seharusnya orang tua tau kemampuan anaknya bukan memaksa seperti apa yang terlihat di hadapan Hanna.


Dari sinilah Hanna tau jika Rama tidak sepenuhnya anak nakal di usia remaja. Ada beban yang ia bawa sendiri.


****


Maaf kalau gak tiap hari up tapi secepat mungkin aku usahain up.


Terimakasih banyak yang selalu mendukung Hanna Rama 🙏🙏🙏 dan aku mohon terus dukung Hanna Rama, vote, like dan komen ya 🙇‍♀️


maaf kalau ada typo