
🌻🌻🌻
Haruskah Hanna berterimakasih pada Mario, karena Mario yang datang begitu saja membuat Hanna segera melangkah pergi dari sana.
"Bu Hanna ga tau kan kalau ini adalah tepat ngerokok?" tanya Mario pada Rama masih dengan sorot mata menatap langkah Hanna yang semakin menjauh.
"Ram.."
Rama lirik Mario sekilas dengan ekpresi kesalnya.
"Ngapain sih lo kesini?"
"Lah kan biasanya gue juga kesini." protes Mario
"Ini." Rama merogoh saku celananya lantas menyerahkan rokoknya pada Mario. "Ambil buat lo, gue udah gak rokok selama di sekolah."
"Serius?"
"Bodo." Kesal Rama lantas pergi meninggalkan Mario di sana sendirian.
Pemandangan yang sangat tidak Rama sukai nampak di depan matanya, Hanna tengah tersenyum bersama Feri di dalam kantin sekolah. Mereka terlihat sedang makan bersama dengan beberapa siswa yang menggoda mereka.
"Selamat berjuang ya Pak Feri."
"Jangan terlalu cuek ya Bu ke Pak Feri."
"Semoga berjodoh."
Sejujurnya Hanna merasa tidak nyaman dengan ucapan muridnya namun ia bisa apa, ia hanya bisa membalas dengan senyuman saja. Namun semua itu tidak di anggap demikian oleh Rama yang sudah berdiri tak jauh di sana menyasikan semuanya.
Tangan Rama terkepal kuat, ingin rasanya ia menarik Hanna dari sana namun ia sadar ia bukan siapa-siapa Hanna dan lagi Hanna terlihat senang dengan godaan muridnya.
Saat Hanna akan menyantap makananya saat itu juga pandangan matanya bertemu dengan Rama yang berdiri menatapnya.
"Kenapa Bu Hanna?"
"Apa? Emh,, gak pa-pa Pak." Sahut Hanna lantas menyantap makanannya.
Ekspresi Hanna terlihat seperti seorang istri yang tangah kepergok berselingkuh, Hanna merasa tidak nyaman dengan tatapan Rama.
Sedangkan Rama tanpa menegur Hanna memilih duduk tepat di belakang Hanna dengan membelakanginya.
Kantin sekolah seketika menjadi sunyi sesaat setelah Rama duduk, bukan karena mereka tengah menikmati makanan mereka namun ternyata Rama duduk dalam satu meja bersama Raka yang bisa di bilang sangat langka.
Meski terasa begitu susah menelan makananya, Hanna terus berusaha makan dengan sesekali ia bantu dengan minum air mineral agar lebih mudah menelan. Aroma parfum Rama begitu menusuk indra penciuman Hanna, lagi-lagi potongan-potongan kebersamaan mereka kembali muncul di dalam pikiran Hanna. Mengingat itu tanpa Hanna sadari jantungnya berdetak lebih cepat.
Raka heran dengan Rama yang tiba-tiba duduk di hadapanya dan membuat suasana menjadi tegang. Raka sudah akan melontarkan pertanyaan namun ia merasa jika Rama bukan sedang mencari masalah dengannya, ia biarkan saja Rama duduk dalam satu meja bersamanya.
Feri kembali membuka obrolan bersama Hanna. "Gimana rasanya menjadi guru disini?" tanya Feri.
Pertanyaan yang normal sih namun fokus Hanna sudah pecah kemana-mana karena ia tau jika Rama sedang mendengarkan percakapan mereka.
Sebelum memberikan jawaban, Hanna tersenyum pada Feri. "Saya merasa senang Pak." jawab Hanna singkat.
"Pepet terus Pak. Jangan sampai Bu Hanna lolos." Kembali siswa dalam kantin menggoda Hanna.
Feri tersenyum mendengan godaan dari muridnya. "Jangan sampai lolos apanya? Memang kalian tau kalau Bu Hanna gak punya pendamping atau kekasih?" lontar Feri kepada siswa disana.
"Ya tanya dong Paaaakkk,,,," terdengan nada kesal dari salah satu siswi yang merasa Feri kurang gesit.
Lagi-lagi Feri tersenyum seakan ia mendapat sebuah lampu kuning akan usahanya mendekati Hanna yang sudah sangat di dukung siswa-siswi mereka.
"Baiklah, kalau begitu saya tanya pada Bu Hanna. Bu Hanna apakah Bu Hanna sudah punya kekasih?"
Feri mungkin tidak menyadari jika Hanna sudah begitu tegang dengan suasana di dalam kantin. Hanna bahkan tidak tau seperti apa ekspresi Rama di belakangnya karena ia merasa tidak ada perbincangan di belakangnya bahkan telefon genggam Hanna juga tidak menunjukan adanya pesan masuk dari Rama.
"*Jawab donk Bu."
"Iya Bu, jawan Bu*."
Siswa-siswi disana saling bersahutan ingin tahu jawaban dari Hanna. Hanna hanya bisa tersenyum kecut sebelum membuka mulutnya.
"Saya ....."
BRUAAAKK...
Rama sudah berdiri dan dengan kuat mengebrak meja lantas dengan cepat meraih kerah seragam Raka hingga Raka ikut berdiri dengan sorot mata bingung namun juga sangat marah.
"Apa-apaan lo brengsek." kesal Raka.
Rama menoleh pada Hanna yang berdiri tepat di belakangnya, memandanya dengan sorot mata ketakutan dan ke khawatiran. Melihat itu, Rama melepaskan cengkeramanya lantas pergi dari sana.
🌻
Rama benar-benar tidak merokok di sekolah, bahkan ia juga sudah tidak membawa rokok lagi. Mario masih menawarinya rokok namun selalu Rama tolak jika di dalam lingkungan sekolah.
"Lo beneran gak mau rokok?" Mario masih tidak percaya jika sahabatnya tidak ingin merokok.
"Berapa kali sih harus gue bilang sama lo. Gue gak mau merokok di sekolah."
"Iya. Iya." tidak ingin berdebat lama dengan sahabatnya, Mario memilih mengiyakan saja keputusan sahabatnya.
Mario memilih keluar kelas untuk merokok sementara Rama memilih diam di dalam kelas sembari memainkan telefon genggamnya.
Entah sudah berapa kali Rama terlihat bimbang menadang nama Hanna dalam layar ponselnya, mencoba mengetik namun ia hapus kembali, ingin menelfon namun ia ragu.
Merasa kesal dengan dirinya, Rama memukul meja hingga membuat beberapa siswa di dalam kelas terkejut dan menoleh pada Rama.
Kesal dengan dirinya sendiri yang entah kenapa menjadi bimbang padahal hanya ingin menghubungi Hanna, Rama memilih pergi ruang UKS untuk tidur disana.
"Kamu kenapa?" tanya guru jaga saat Rama memasuki ruangan.
"Saya sedikit pusing bu, sepertinya butuh istirahat sebentar." jawab Rama yang lantas menuju salah satu ranjang pasien disana serta menarik gorden agar tidak ada yang menggagunya.
Niatnya hanya menenangkan diri saja tapi nyatanya Rama benar-benar terlelap hingga ia tidak menyadari jika yang berjaga di ruang UKS sudah berganti orang.
Samar-samar Rama mendengar suara seseorang tengan bicara, ia yang masih baru bangun tidur belum bisa mendengar dengan jelas siapa yang berbicara di balik gorden.
"*Saya masih belum bisa membuka hati saya."
"Kenapa*?"
Ternyata ada dua wanita disana yang sedang mengobrol.
"*Saya tidak ingin tersakiti."
"Saya yakin Pak Feri bukan orang yang mudah menyakiti*."
Kini Rama tau siapa yang ada di balik gorden, mendengar nama Feri membuatnya benar-benar terbangun dan pendengarannya menjadi sangat jelas.
"*Bu Hanna pikir-pikir dulu. Saya mau keluar sebentar ya."
"Iya Bu*."
Setelah mendengar pintu tertutup, Rama membuka gorden dan ia sudah berdiri dengan sorot mata menatap Hanna tajam.
Mendengar sudara gorden ditarik membuat Hanna terkejut, ia pikir tidak ada orang lain disana. Dan Hanna lebih terkejut saat tau siapa sosok di balik gorden itu.
"Rama." lirih Hanna.
Perlahan Rama melangkah mendekat pada Hanna yang terlihat panik, Hanna masih tetap duduk di tempatnya, ia tidak bisa bergerak meski Rama semakin mendekat padanya.
Rama sudah berdiri tepat di depannya, ia berpegang pada meja disana lantas membungkukkan badannya. Sorot mata keduanya bertemu, jarak mereka begitu dekat.
Hanna mencoba mengendalikan dirinya, ia harap Rama tidak akan mendengar debaran jantungnya yang semakin cepat.
"Apa aku pernah menyakitimu?" ucap Rama.
"Hemh,, apa?" Hanna kebingungan mendengar pertanyaan Rama.
"Apa aku pernah membuatmu tersakiti hingga kamu pergi dari hidupku?" kembali Rama berucap dengan penuh penekanan.
"Hemh?" Hanna masih kebingungan, namun tanpa ia sadari ia mengangguk dan membuat Rama menautkan kedua alisnya mencoba memahami arti anggukan Hanna.
"Kapan aku menyakitimu Hanna?"
"Itu,,, itu,,," kini Hanna menjadi bingung sendiri ia harus menjelaskan seperti apa.
Rama menarik sudur bibirnya. "Maaf jika malam itu aku menyakitimu, tapi setelahnya aku tidak akan menyakitimu lagi." ucap Rama.
Hanna membelalakan matanya mendengar apa yang Rama ucapkan apa lagi saat ia menyebutkan malam itu. Pipi Hanna memanas dan mungkin kini sudah memerah lantaran malu. Hanna bangkin dari duduknya dan berbalik pergi meninggalkan Rama yang tengah tersenyum puas.
...****...
...Jangan lupa vote, like dan komen....
...Maaf kalau ada typo🙏...