
***Selamat malam. Apa kabar semuanya? Maaf publisnya selalu lama, semoga kalian masih mau terus menunggu kelanjutan kisah Hanna Rama.
🌻🌻🌻***
Selama tiga bulan Hanna meyakinkan dirinya sendiri namun kini keyakinannya telah pudar saat kedua bola mata Rama seakan menembakan panah pada dirinya. Entah ada yang menyadari atau tidak namun Hanna terlihat sedikit bergetar.
Setelah perkenalan, guru laki-laki yang menemani Hanna mempersilahkan Hanna memulai pembelajaran dan ia pamit kembali ke ruang guru.
Hanna memulai pelajaran, ia mencoba menormalkan dirinya sendiri meski ia sadari ada sosok di ujung sana yang terus menatapnya dengan penuh mengintimidasi. Sebisa mungkin Hanna menghindari tatapan Rama.
Suara bel istirahan membuat Hanna sedikit lega, ia dengan segera menbereskan buku materinya dan lantas keluar kelas. Berjana cepat dengan sesekali melihat kebelakang, ia takut Rama mengikutinya.
Bukan ruang guru tempat tujuannya tapi toilet guru, Hanna segera masuk ke dalam salah satu bilik toilet dan menutupnya.
Hanna duduk di atas closet yang tertutup, ia remas rok span selututnya dengan kuat, mencoba menormalkan kembali nafasnya yang seakan tercekat.
"Kenapa? Kenapa aku harus kembali bertemu dengan kamu Rama?"
Cukup lama Hanna di dalam toilet, setelah ia merasa lebih baik, barulah ia keluar dari bilik toilet. Mencoba membenarkan roknya yang mungkin sudah terlihat kusut serta beberapa anak sambut yang terlihat berantakan.
Memasuki ruang guru, Hanna mencoba bersikap biasa disertai senyum yang ia buat senormal mungkin. Beberapa dewan guru disana membalas senyum Hanna. Perlahan ia mendekat pada meja yang sudah di sediakan untuknya, ia letakan buku materi yang ia bawa tadi di atas meja lantas ia duduk dan meraih botol air mineral yang ada di atas meja lantas menenggaknya.
"Eheemmm"
Mendengar deheman dari sampingnya dan sedikit mengagetkannya, Hanna sudahi menenggak air mineral itu lantas menoleh pada seseorang disampingnya.
"Perkenalkan saya Ferdi."
Seorang guru bernama Ferdi tersebut mengulurkan tangannya pada Hanna. Tidak ingin di anggap sombong, Hanna menyambut tangan Ferdi lantas ia juga memperkanalkan namanya.
"Hanna."
Setelah memperkenalkan diri, Hanna menarik tangannya dengan sedikir tersenyum agar Ferdi tidak merasa tidak di hargai oleh Hanna.
"Bu Hanna jangan sungkan jika mau bertanya tentang sekolah ini pada saya. Apa lagi meja kita juga bersebelahan."
"Iya Pak Ferdi. Terimakasih banyak."
Bukan Hanna tidak ingin bicara dengan orang yang duduk di sebelahanya, hanya saja pikirannya masih sedikit kacau jadi ia tidak ingin memberi kesan buruk pada rekan sesama guru di sana.
Sebisa mungkin Hanna menghindari Rama, ia tidak ingin kilasan saat itu terus menghantuinya. Selama satu minggu Hanna mengajar di sana, entah berapa kali Rama mencoba untuk bicara dengannya namun sebisa mungkin Hanna menghindar.
Karena hari ini Hanna sedang tidak ada jadwal mengajar jadi ia diminta untuk menjaga UKS lantaran Bu Tari tengah menghadari acara kesehatan.
Tengah berjalan di lorong sekolah yang begitu ramai karena jam istirahat dan Hanna tanpa sengaja mendengar beberapa siswa yang berpapasan dengannya bahwa di lapangan basket ada perkelahian.
"Iya, siapa lagi kalau bukan Rama dan Raka yang berkelahi."
Seketika langkah Hanna terhenti saat ia mendengar nama Rama di sebut oleh salah seorang siswi.
Hanna kembali melanjutkan langkahnya dengan berbagai rasa ke khawatiran yang datang begitu saja saat mendengar nama Rama.
Memasuki ruang UKS, setelah menutup pintu, ia segera melangkah mendekati jendela yang menghadap lapangan. Hanna bisa melihat dengan jelas saat Rama mendapat pukulan yang cukup keras karena terlihat Rama yang tersungkur.
Raut wajah Hanna begitu khawatir, ia segera berpaling dan duduk di kursi jaga karena ia begitu tak tega melihat Rama.
Tanpa Hanna sadari ia berucap doa dalam hatinya, ia berharap Rama tidak terluka dan baik-baik saja.
Suara di luar sana bisa Hanna dengar dengan jelas. "Kenapa tidak ada yang melerai?" Batin Hanna yang semakin cemas.
Bel tanda jam istirahat telah usai, Hanna merasa sedikit lega mungkin meraka akan bubar.
Benar memang, perlahan suara gaduh di luar mulai berkurang dan menjadi sepi. Tapi Hanna masih terus berdoa semoga Rama baik-baik saja.
Kini suara gaduh itu tepat di depan pintu UKS. Tidak mungkin kan mereka berkelahi hingga kedalam kelas.Hanna berdiri dari duduknya dengan perasaan kembali cemas.
Yang tengah terjadi diluar ruang UKS adalah Mario yang memaksa Rama untuk meminta pengobatan namun Rama bersikeras menolak.
"Ram. Luka lo setidaknya harus di obati." kesal Mario.
"Gua gak pa-pa, Yo." sahut Rama tak kalah kesal dan sudah akan meninggalkan Mario.
Mario tau Rama tidak akan mau di obati tapi kali ini ia memaksa Rama lantaran ada beberapa luka di wajah Rama. Bukan memar yang seperti biasanya. Mario tarik tangan Rama dan segera ia buka pintu UKS lantas ia bawa masuk Rama.
Rama merasa kesal dengan sikap Mario yang ia anggap kekanakan, ia buka laki-laki manja yang hanya sedikit luka harus di obati. Rama ingin keluar dari sana bahkan ia memilih memalingkan wajahnya.
"Selamat siang Bu Ta~" Sapa Mario yang mengira orang di dalam UKS adalah Bu Tari.
Hanna masih bisa mengenali siapa orang di belakang Mario, ia bahkan tidak bisa mendengar ucapan Mario karena ia sudah terkunci dengan kekhawatirannya pada Rama.
Mario mencoba melambaikan tangannya di depan Hanna dan seketika menyadarkan Hanna.
Mario kembali bertanya "Kemana Bu Tari?"
Dengan bibir sedikit bergetar Hanna menjawab pertanyaan Mario. "Bu Tari sedang ada menghadiri acara kesehata."
Rama seketika memutar badannya saat ia mendengar jika yang ada di dalam ruang UKS adalah Hanna.
Keduanya saling bertatapan dengan ekpresi penuh kecemasan yang ada di raut wajah Hanna.
"Maaf, kalau begitu kita permisi." ucap Mario dan akan membawa Rama keluar namun Rama masih diam berdiri disana.
"Ram, ayo." ajak Mario.
"Gue mau dirawat, Yo." ucap Rama yang membuat Mario heran dengan sahabatnya yang tiba-tiba ingin di obati padahal tadi ia bersikeras menolak.
"Tapi Bu Tari gak ada, Ram."
Kedua bola mata Rama masih menatap Hanna meski ia bicara pada Mario.
"Dia pasti bisa ngobatin." ucap Rama dan malah membuat Mario tercengang.
"Ram."
"Tinggalin gue, Yo. Bu Hanna pasti bisa mengobati luka gue." ucapnya pada Mario tapi masih dengan tatapan pada Hanna.
"Okey.. okey.." Meski Mario merasa ragu tapi ia melangkah meninggalkan Rama di dalam ruang UKS bersama Hanna.
Setelah Mario keluar dan menutup pintu barulah Hanna tersadar dan memalingkan wajahnya. Rama berjalan mendekat padanya selangkah demi selangkah.
"Dimana saya harus di rawat?" tanya Rama.
"Silakan kamu duduk di sani." jawab Hanna meminta Rama duduk di kursi di depannya lantas ia mengambil beberapa obat luka.
Setelah menyiapkan beberapa obat luka, Hanna menarik satu kursi di sana dan menempatkanya di depan Rama.
"Saya bersihkan dulu lukanya." ucap Hanna yang tidak di respon oleh Rama namun sorot mata Rama masih terfokus pada Hanna.
Perlahan Hanna membersihkan luka di pelipis kiri Rama. Ia melakukan begitu pelan agar Rama tidak merasa tersakiti.
Entah memang Hanna yang begitu lembut atau Rama menahan sakitnya karena tidak ada ekspresi dari wajah Rama yang tepat di depan Hanna.
Rama seakan mati rasa, ia hanya terus menatap Hanna dengan begitu intens.
Hanna mencoba bersikap profesional meski sebenarnya ia terganggu dengan tatapan Rama yang entah kenapa malah membuat jantungnya kembali berdebar.
Rama sama sekali tidak mengaduh saat Hanna mulai membersihkan luka di sudut bibirnya bahkan saat salep luka di oleskan Rama diam tanpa ekspresi.
Setelah beberapa luka di wajah serta tangan Rama sudah Hanna obati, Hanna mulai membereskan obat-obatan yang ia ambil tadi serta membersihkan beberapa kapas yang tadi ia gunakan memebersihkan luka Rama.
Rama terus memperhatikan gerak gerik Hanna yang kesana kemari di dalam ruang UKS dan setelah mencuci tangan, Hanna kembali berjalan ke arah meja jaga lantas meminta Rama untuk kembali mengikuti pelajaran.
"Saya sudah selesai, kamu bisa kembali ke kelas." ucap Hanna saat berjalan di dekata Rama.
Langkah Hanna terhenti saat tiba-tiba Rama mencekal tangannya. Hanna menoleh tepat saat Rama tengah berdiri dan menariknya hingga Hanna mendarat dalam dada bidang Rama.
Hanna mencoba menjauh namun Rama malah semakin membawanya ke dalam pelukan.
"Rama lepas." Pinta Hanna.
Tidak menggubris Rama semakin mengeratkan pelukannya. "Kemana lo selama ini?"
Mendengar ucapa Rama, Hanna tidak bisa berkutik ia tidak lagi mencoba melepas pelukan Rama.
"Kenapa lo harus muncul kembali dengan penuh kebahagiaan?" ucap Rama dengan nada yang tercekat. "Bahkan lo gak bertanya apa gue baik-baik aja selama tiga bulan terakhir? Gue hampir gila, Hanna."
Hanna terkejut mendengar apa yang Rama ucapkan, ia tidak ingin percaya dengan apa yang Rama ucapkan namun entah kenapa air matanya jahut begitu saja.
...****...
...Jangan lupa vote, like dan komen....
...Maaf kalau ada typo 🙏...