
🌻🌻🌻🌻
Wanita berparas cantik sedang befoto bersama keluarga dan para sahabatnya pada acara wisuda kelulusan sebuah universitas di ibukota. Ia terlihat begitu bahagia, ada sosok pria yang ikut hadir disana ikut mengambil posisi untuk berfoto bersama.
Hanna Ariani, ia wanita yang baru saja mendapat gelar sarjana dan menjadi kebanggaan keluarganya yang tergolong orang menengah. Hanna memiliki sahabat yang selalu bersamanya melewati masa-masa kuliah bersama, ia adalah Dinar.
Setelah acara wisuda selesai kedua orang tua Hanna mengajak Hanna makan malam bersama di sebuah restoran yang cukup terkenal di ibukota. Hanna bersyukur bisa membanggakan kedua orangtuanya yang sudah mulai menua. Kini waktunya Hanna membalas segala pengorbanan kedua orang tuanya dengan cara membahagiakannya.
Setelah acara makan malam bersama keluarga, Hanna kembali ketempat kostnya, sementara orang tua Hanna kembali ke kota asal mereka lantaran esok hari ayah Hanna harus kembali bekerja.
"Kamu yakin sama pilihan mu Han?" tanya Dinar saat Hanna sudah mengganti pakainnya menjadi pakaian rumahan, ia dan Dinar tinggal di kost yang sama, dari situlah awal mereka menjadi sahabat hingga kini.
"Aku sebenarnya gak tau Din, tapi itu sudah jadi keputusan kedua orang tuaku, dan mungkin memang yang terbaik buat aku." Jawan Hanna sembari mengoleskan cream malam pada wajahnya.
"Tapi ini untuk seumur hidup Han, seharusnya kamu minta waktu." Dinar yang sepertinya menahan emosi atas sikap Hanna.
"Tenang Din, orang tua aku gak akan salah pilih kok." Kembali Hanna meyakinkan Dinar.
"Han, kamu tau kan kehidupan di ibukota seperti apa, gak mungkin lah dia masih suci kayak kamu?"
Hanna sudah berpindah ke atas tempat tidur ia rebahkan dirinya sebelum menjawab pertanyaan Dinar yang pasti akan menjadi waktu yang lama. Dinar yang kini memilih ikut naik ke atas tempat tidur Hanna dan duduk di sana agar ia bisa mengoreksi antara mata dan jawaban yang keluar dari mulut Hanna.
"Aku yakin mas Ivan pasti salah satu orang yang masih mampu menjaga segalanya." Hanna begitu percaya diri.
"Tapi Han, gak harus secepat ini juga kan?"
"Aku juga gak tau Din, mungkin memang ini sudah jalan hidupku dan mas Ivan jodoh ku." mendengar jawaban Hanna yang begitu yakin membuat Dinar memilih memdukung keputusan Hanna.
Sebelum acara wisudanya tadi siang, kedua orang tua Hanna sempat menghubungi Hanna sekitar satu minggu yang lalu. Mereka mengatakan ingin menjodohkan Hanna dengan salah satu anak dari teman lama ayah Hanna yang sekarang sedang bekerja di ibukota. Hari ini pertama kalinya Hanna di pertemukan dengan laki-laki yang nantinya akan menemaninya sepanjang hidup.
Perkenalan Hanna dan Ivan membuat sang sahabat Dinar bertanya-tanya lantaran selama ia mengenal Hanna, tidak sekalipun Hanna memiliki hubungan yang serius dengan seorang laki-laki.
Apa lagi dari yang Dinar ketahui mereka akan menikah satu tahun lagi. Dinar yang mengenal Hanna selama ini tau jika Hanna adalah wanita polos dan baik-baik tidak seperti dirinya yang suka keluar malam. Tapi Dinar bisa apa jika Hanna yang menjalani saja mau menerima.
🍀🍀🍀
Di salah satu SMA swasta ternama ibukota hari ini sedang ada acara pembagian laporan hasil semester dua, artinya rapor yang orang tua terima adalah rapot kenaikan kelas.
Disalah satu kelas sebelas sudah duduk wanita yang terlihat sangat anggun sudah pasti ia adalah salah satu jajaran walimurid sekaligus donator disana. Beliau adalah Mama dari salah satu murid yang terkenal akan badboynya yaitu Rama Gibran Wijaya.
Wajah anggun wanita itu berubah suram saat ia menerima hasil ujian kenaikan putranya. Setelah keluar kelas, ia segera menghubungi putranya yang entah ada dimana. Setelah ada suara dari seberang telefon, ia meminta anaknya untuk segera pulang.
Sementara putranya, Rama, sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia pilih menuruti perintah mamanya, segera ia naiki motor sportnya dengan kecepatan sedang.
Mama Rama sudah tiba dirumah terlebih dahulu, ia juga melihan mobil papanya yang sudah terparkir di halaman rumah. Rama menghela nafas berat, ia siapakan mentalnya lantas melepas helm dan segera turun dari motornya.
Baru membuka pintu rumah, Rama disambut oleh ARTnya. "Tuan muda Rama sudah di tunggu tuan besar dan nyonya di ruang kerja tuan besar." ucap ART yang sudah terlihat menua tapi masih bisa Rama lihat jika ARTnya menatapnya dengan penuh kekhawatiran. Rama mengangguk sembari memberika senyum manisnya.
Raka ketuk pintu ruang kerja papanya, setelah dapat sahutan dari dalam, Rama melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam ruangan itu. Papanya sudah duduk di singgah sananya dengan menahan amarah sedangkan mama Rama duduk di sofa yang ada di tengah ruangan dengan sorot mata khawatir pada putranya.
"Ini nilai raport kamu?" Tegas papa Rama, Aditya Wijaya
"Iya Pa."
"Kamu sebut ini nilai?" Kali ini suara papa Rama yang sudah mulai meninggi, "Kamu pikir nilai yang tidak terdapat angka delapan sama sekali ini nilai?" Papa Rama begitu emosi saat tau nilai yang Rama dapat rata-rata adalah angka tujuh.
"Kamu itu salah satu pewaris Wijaya, Rama. Kalau kamu masih main-main dengan pendidikanmu terus akan menjadi apa perusahaan keluarga kita?" Masih dengan menggebu papa Rama berucap. Mama Rama hanya bisa diam, selama suaminya tidak melakukan kekerasan, ia hanya akan diam meski sebenarnya hatinya sakit menyaksikan anak yang ia lahirkan harus mendapat amarah dari papanya.
"Tapi pa,,,?" Rama mencoba mencegah papanya
"Kenapa? kamu tidak setuju? Baiklah kalau kamu tidak setuju, silakan kembalikan semua fasilitas yang kamu pakai pada papa." tegas pak Adit.
"Pa,,,"
"Pilihan ada padamu Rama."
Rama yang kesal segera menaiki tangga menulu kamarnya yang ada di lantai dua, ia banting keras pintu kamarnya, ia lempar tasnya begitu saja.
"AAAAHHHHHH..." Ia luapakan kemarahannya.
Pintu kamar Rama terbuka, ia lihat mamanya masuk ke dalam kamar mendekat pada putranya.
"Sayang, papamu melakukan semua itu demi kebaikan kamu, demi masa depan kamu." Ucap lembut mama Rama.
"Tapi ma, Rama gak butuh guru les ma."
"Turuti ucapan papamu Rama, papa ingin kamu dan Raka nantinya bisa sukses bersama seperti papamu dan papa Raka."
"Plis ma, jangan pernah minta aku dan Raka menjadi teman atau nanti akan meneruskan usaha bersama. Kita sama sekali tidak memiliki kecocokan ma." Rama begitu kesal jika ia mendengar nama Raka disebutkan dalam keluarganya. Biakan kakek mereka bersahabat hingga memulai usaha bersama, biarkan papa mereka meneruskan usaha dan semakin berkembang. Tapi tidak dengan Rama dan Raka yang tidak akan pernah bisa menjadi teman atau sahabat seperti yang para orang tua inginkan.
Rama masih setia berada di dalam kamarnya, saat ART memanggilnya untuk makan malam, ia malah meminta untuk di antar ke kamarnya.
🍀🍀🍀
Hari pertama Rama kedatangan guru les, seorang pria paruh baya yang sudah datang terlebih dahulu sebelum Rama pulang sekolah.
Saat Rama datang mama Rama segera memperkenalkan guru les tersebut pada Rama yang ternyata bernama Dodi.
"Dodi" Pak Dodi mengulurkan tangannya.
"Rama" Rama menyambut uluran tangan pak Dodi.
Pak Dodi sudah memulai membuka materi, tapi Rama malah asyik bermain game. Pak Dodi berkali-kali meminta Rama untuk memperhatikannya, buka mematikan hpnya, Rama malah semakin asyik.
"Lo jelasin aja pak, gue denger kok." ucap Rama santai
Pak Dodi yang untuk pertama kalinya mendengar panggilan lo gue dari muridnya seketika terkejut, bagaimana tidak jika yang ia hadapi sekarang bukan seorang anak yang butuh materi pembelajaran tapi adalah sopan santun.
"Rama kamu kan tau saya adalah guru les kamu dan bukan teman kamu jadi ya gak etis jika kamu memanggil lo gue pada gurumu." Ucap Pak Dodi.
"Ya anggep aja kita seumuran, kan beres." begitu santainya Rama berucap.
Pak Dodi tidak tau apa ia sanggup membimbing anak konglomerat ini yang notabenya sangat tidak sopan.
****
Hey,,, para pembaca, akhirnya aku buat cerita Rama dan Hanna. Cerita Rama dan Hanna sebenarnya berawal dari one shoot di *******, jadi kalian bisa juga berkunjung di* ********, nama akunya sama dengan disini.
Semoga Hanna dan Rama menarik minat pembaca seperti pada one shootnya.
Jangan lupa di like dan komen ya,,,,
maaf kalau ada typo ya**,,,,