Hanna Rama

Hanna Rama
Dua



Hari kedua Rama mengikuti les sang guru sudah di buat geleng-geleng kepala lantara Rama yang semakin tidak sopan padanya. Sang guru yang baru bertemu anak seperti Rama selama mengajar membuatnya kewalahan, ia memilih berhenti dari pekerjaannya.


Mama Rama begitu malu saat ia mendengar penjelasan dari sang guru les tentang alasan ia berhenti. Ia tidak tau jika anaknya begitu sangat tidak sopan. Ia heran dari mana asal ketidak sopanan sang anak, padalah kakak Rama begitu penurut kepada kedua orang tuannya.


"Mama tidak mau tau, kalau sampai kali ini guru lesmu juga berhenti, mama akan minta bantuan papamu." Tegas sang mama saat Rama baru saja memasuki rumah setelah pulang sekolah.


"Terserah mama saja." Rama hanya berlalu begitu saja menuju kamarnya.


"Rama.... Rama...." Panggil sang mama yang tidak di indahkan oleh sang putra.


Satu bulan sudah Rama mengikuti les private, dan sudah guru kelima yang mengajar. Mereka berhenti dengan alasan yang sama, Raka yang bersikap sangat tidak sopan.


Kali ini juga demikian, sang guru sudah ijin untuk berhenti tapi mama Raka terus membujuk agar tidak berhenti dulu, ia yakin anaknya bisa berubah tapi nyatanya semua masih sama Raka masih begitu kurang ajar. Setelah mengajar sang guru berpamitan pada Mama Rama, agar ia mencari guru lain yang lebih sabar.


🍀🍀🍀


Semenatara itu Hanna yang kini sudah resmi menjadi tunangan Ivan memilih kembali tinggal di ibukota lantaran ia sudah melamar kerja di ibukota. Acara lamaran mereka berlangsung di tanah kelahiran Hanna di luar ibukota.


"Gimana Ivan?" tanya Dinar, saat Hanna baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambut.


"Gimana apanya?" Hanna seolah tidak mengerti apa yang di tanyakan Dinar.


"Ya tadi dia gimana sama kamu, kan ini pertama kalinya kalian jalan bareng." Dinar penasaran dengan tunangan sahabatnya, ia tidak terlalu yakin dengan Ivan yang sudah lebih lama kerja di ibukota. Hari ini dimana Hanna dan Ivan kencan untuk pertama kalinya. Karena sebelum bertunangan Ivan tidak pernah mengajak Hanna untuk jalan-jalan.


"Ya biasa ajah sih Din. Kita makan terus duduk-duduk aja di taman." jelas Hanna yang membuat Dinar menganga. Jaman sekarang mana ada sih kencan cuma makan dan duduk di taman, bukannya ke hotel, apa lagi mereka sudah tunangan.


"Kenapa ekspresi kamu begitu?" Hanna yang sudah selesai mengeringkan rambut sedikit heran dengan ekspresi sahabantnya.


"Kamu gak beneran ke taman dan cuma duduk doang kan Han?" Dinar mencoba meyakinkan sang sahabat.


Sementara Hanna hanya mengganggu tanda mengiyakan. "Kamu yakin Han, kalian kan udah tunangan, masak si Ivan gak ngajak ke mana gitu?"


"Mas Ivan, Din." Hanna membetulkan panggilan tunangannya. Ia tidak terima dengan panggilan si Ivan oleh Dinar.


"Iya, anggap aja gitu. Balik kepertanyaan, buruan jawab." Dinar tidak sabar menunggu jawaban dari Hanna.


"Kan aku udah bilang sama kamu kalau mas Ivan itu orang baik-baik, jadi dia gak ngajak aku kemana-mana." Jelas Hanna. Sebenarnya Dinar masih kurang yakin pada sosok Ivan, tapi ia bisa apa jika sang sahabat menerimanya. Semoga memang Ivan orang baik-baik.


"Oh ya Han, gimana lamaran kerjamu udah ada panggilan?" Dinar merubah topik pembicaraan mereka.


"Belum Din." Hanna tertunduk lesu. Sudah satu bulan ia menyerahkan lamaran pekerjaan pada salah satu SMA Swasta ternama di ibukota, namun hingga kini belum ada yang menghubunginya. Bukan tanpa alasan Hanna melamar kerja di salah satu SMA tersebut, dari informasi yang ia dapat, di SMA tempat anak-anak orang berpenbaruh tersebut bersekolah banyak memberikan tunjangan pada sang guru serta beasiswa untuk melanjutkan pendidikan dan kalau kamu beruntung maka kamu bisa menjadi pengajar tetap disana, kalau pun tidak, kamu masih dapat peluang kerja di perusahaan dari salah satu donatur di sana.


"Sabar, tunggu aja, siapa tau besok tiba-tiba kamu dapat panggilan." Dinar mencoba menghibur Hanna.


"Tapi tabunganku udah semakin menipis Din, masak iya, udah gak kuliah masih minta jatah bulanan sama orang tua." Hanna meratapi nasibnya yang masih menganggur.


"Pasti ada aja jalan rejeki Han."


Percakapan mereka berakhir dengan Hanna yang memilih untuk tidur terlebih dahulu. Sementara Dinar memilih keluar lantaran sang kekasih mengajaknya jalan.


🌻🌻🌻


Hanna benar-benar menjadi wanita pemalas, ia terpaksa menjadi wanita pemalas lantaran ia belum juga mendapat panggilan kerja, sementara Dinar, ia sudah bekerja atas rekomendasi dari sang kekasih di kantor yang sama.


Hanna mengikat rambutnya, membersihkan kamar kostnya yang terlihat tidak terlalu berantakan lantaran sang sahabat tidak pulang semalam, menikmati sarapan paginya yang mulai berganti mie instan lantaran uang tabungannya sudah semakin menipis.


Saat menikamati mie instan tiba-tiba Hanna menerima notifikasi pesan dari Dinar.


Dinar


'Han, kamu mau gak jadi guru les private?'


Hanna menyipitkan matanya, ia baca pesan dari Dinar seksama.


Hanna


'Dimana?'


Dinar


'Aku belum tau jelas, tapi tadi atasan di divisiku tanya-tanya guru les, katanya sih yang les adiknya direktur dan yang aku denger gajinya lumayan.'


Belum mendapan balasan dari Hanna, kembali Dinar mengirim pesan.


'Gimana? Kamu kan telaten orangnya, dan lagi adik bos palingan masih SD.'


Hanna masih berfikir, tapi ini kesempatannya untuk kerja, mau sampai kapan ia hanya diam seperti orang tidak berguna. Gak akan sulit juga mengajari anak SD.


Hanna


'Iya deh Din, aku mau."


Dinar


'Aku bilang atasan dulu ya, nanti aku kabari kamu.'


Seorang satpam menghampiri Hanna dari dalam gerbang. "Ada perlu apa?" Tanya pak satpam pada Hanna.


"Saya mau bertemu dengan Ibu Wijaya, pak." Jawan Hanna "Saya Hanna."


"Tunggu sebentar." Pak satpam kembali ke pos jaga menghubungi pihak rumah, setelah menutup telefon, pak satpam kembali pada Hanna dan membukakan gerbang.


"Silahkan masuk, nyonya sudah menunggu."


"Terimakasih." Ucap Hanna sembari tersenyum ramah pada pak satpam.


Semakin memasuki halaman rumah mewah itu semakin di buat kagum oleh kemegahan rumah yang seperti istana.


"Aku pikir rumah seperti ini hanya ada di film saja." Guman Hanna sembari berjalan menuju rumah Nyonya Wijaya.


Di ketukan ketiga, pintu yang berdiri megah terbuka, ada sosok yang sudah berumur berdiri membuka pintu.


"Ibu Hanna?" tanya wanita yang berdiri di ambang pintu.


"Iya buk." Jawab Hanna ramah.


"Silahkam masuk, nyonya sudah menunggu." Hanna ikut masuk kedalam rumah mengikuti langkah wanita berumur itu yang mungkin adalah asisten rumah tangga disitu.


"Maaf nyonya, ibu Hanna sudah datang." ucap wanita itu pada seorang wanita yang ia panggil nyonya yang sedang duduk di sofa dengan membuka-buka majalah fasion. Ia menoleh lantas menutup majalah itu dan meletakkannya di atas meja kemudian berdiri menyambut Hanna.


"Perkenalkan saya Rita, tapi orang lebih sering memanggil saya Ibu Wijaya." Hanna tidak menyangka jika orang sekaya Ibu Wijaya begitu ramah, Ibu Wijaya mengulurkan tanganya.


Meski ragu, Hanna menyambut tangan ibu Wijaya. "Saya Hanna." ucap Hanna.


"Kalau begitu mari silahkan duduk, biar Mboh Nah siapakan minum."


"Baik Nya." ucap wanita tua yang ternyata bernama Mbok Nah.


Hanna pun duduk bersama Ibu Wijaya, dari pakaian yang ibu Wijaya kenakan saja Hanna sudah merasa minder, sedangkan ia memakai pakaian seadanya, kemeja lengan panjang dan rok di bawah lutut, Hanna sebisa mungkin berpenampilan sopan.


"Ternyata kamu begitu muda ya?" Ucap Ibu Wijaya masih dengan senyum ramhanya.


"Iya Bu, saya baru menyelesaikan pendidikan S1 saya."


"Saya tidak peduli dengan muda atau tuanya seorang guru les anak saya. Karena yang saya mau putra saya bisa nurut sama guru lesnya." jelas Ibu Wijaya.


Hanna sedikit mengernyitkan dahi, masak ia ada anak SD yang tidak menurut pada gurunya.


"Silakan di minum dan juga di makan camilannya." Ucap Bu Wijaya saat sang asisten rumah tangga yang lebih muda dari Mbok Nah baru saja menyuguhkan secangkir teh dan sepiring kue.


"Iya Bu, terimakasih."


"Oh iya bu ini ijasah S1 saya." Hanna tunjukan ijasahnya pada Bu Wijaya, agar beliau percaya jika ia memang sudah menyandang gelar sarjana.


Ibu Wijaya melihat ijasah Hanna seksama, ia tau kualifikasi Hanna cukup baik dalam pendidikan tapi pengalaman menjadi guru les mungkin sangat kurang tapi Ibu Wijaya meyakinkan dirinya untuk percaya pada Hanna. Karena yang ia butuhkan adalah orang yang bisa menghadapi putranya.


"Saya percaya sama nak Hanna. Boleh kan saya panggil nak Hanna, kalau saya panggil bu kesannya terlalu tua." suara lembut ibu Wijaya benar-benar membuat Hanna kagum.


"Iya tidak apa-apa bu, terserah Bu Wijaya saja." senyum lebar menghiasi bibir Hanna.


Setelah Bu Wijaya mengembalikan ijasahnya, Hanna dibuat terkejut akan gaji yang akan ia terima saat mengajar.


"Lima ratus ribu dalam sekali pertemuan dan saya minta nak Hanna bisa mengajar dua hari sekali. Untuk lama mengajar terserah Nak Hanna, kalau bisa dua atau tiga jam."


Hanna membelalakan matanya, ia kerja sehari, bukan tiga jam kerja dengan bayaran lima ratus ribu, apa tidak keterlaluan, apa lagi yang dia ajar seorang anak SD.


"Maaf bu, saya rasa itu terlalu banyak." Tolak Hanna lembut.


"Tidak Nak Hanna, malah saya pikir itu mungkin kurang untuk anda."


"Tidak Bu, itu malah lebih dari cukup. Saya akan mengajar anak ibu sebaik mungkin."


"Terimakasih ya."


Mereka berdua tersenyum bersama, sayangnya senyum itu tidak berlangsung lama saat seorang anak laki-laki berseragam SMA memasuki rumah. Hanna menyipitkan matanya, menelisik akan sosok yang berjalan semakin dekat.


"Rama sini, perkenalkan ini Bu Hanna, guru les baru mu."


Hanna membulat sempurna saat ia tau siapa muridnya, ternyata bukan anak SD yang selama ini ia pikirkan, dia seorang anak SMA yang bisa dilihat dari penampilannya saja sudah bisa di tebak dia tergolong anak bandel di sekolahnya.


****


**Gimana nih permulaan Hanna Rama?


aku berharap kalian para pembaca selalu mendukung cerita ku 🙏


Terimakasih yang sudah berkenan membaca dan yang memberi like beserta komen.


Maaf kalau ada typo mohon bantu mengoreksi ya 🙏🙏**