Hanna Rama

Hanna Rama
Enam Belas



🌻🌻🌻


Pagi Hanna sudah bersiap untuk pergi, ia tidak mau menunda lagi, setelah semalam ia berfikir dengan cukup keras kini ia akan mengambil keputusan.


Hanna tau jika Ivan pasti akan kerja tapi ia tidak mau menunda, ia memaksa Ivan untuk bertemu dengannya pagi ini.


Mereka bertemu di taman karena Ivan begitu enggan menunjukan dimana ia tinggal. Karena masih begitu pagi jadi Masih banyak orang olahraga pagi di sana.


Hanna sudah duduk di salah satu bangku taman menunggu Ivan, mungkin Ivan belum bangun atau mungkin ia tidak akan datang.


Tak berapa lama Ivan datang, sepertinya ia juga sedang berolahraga pagi lantaran ia memakai jaket serta celana training beserta sepatu olahraga.


"Sudah lama menunggu ya?" Sapa Ivan yang lantas duduk di sebelah Hanna.


"Lumayan." ucap Hanna.


Ivan merasa heran dengan sikap Hanna terkesan begitu dingin padanya, bahkan sesekali Hanna hembuskan nafas beratnya.


"Ada perlu apa pagi ingin ketemu?"


Kenapa Hanna jadi ragu untuk bicara pada Ivan, padahal tadi sebelum berangkat ia begitu yakin ingin mengahiri semuanya dengan Ivan.


"Ada apa Hanna?"


Mendengar Ivan menyebut namanya, Hanna merasa marah, orang yang di banggakan orang tuanya ternyata bukan orang baik-baik.


"Bagaiman kalau kita akhiri pertunangan kita Mas," ucap Hanna.


Ivan terkejut mendengar keinginan Hanna, Ivan merasa tidak ada masalah sebelumnya lantas apa yang menjadi alasan Hanna ingin mengakhiri pertunangannya.


"Kanapa Hanna?" Ivan tatap Hanna.


"Bukankah Mas Ivan punya wanita lain?"


Ivan mengernyit mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Hanna. Ivan terbahak, mencoba menyembunyikan kewaspadaannya.


"Kamu ada-ada saja Hanna,"


Hanna mencoba untuk tidak meluap, ia harus tenang agar ia bisa mengerti situasinya.


"Mas, kemaren malam aku melihat sendiri, Mas Ivan bersama wanita lain di taman supermarket. Aku di sana mas."


Ivan menegang, ia tidak menyangkan jika Hanna akan secepat ini mengetahui hubungannya dengan Merry. Ivan lantas tersenyum penuh arti.


"Aku gak nyangka kamu akan tau secepat ini."


Apa? Jadi selama ini Mas Ivan. Batin Hanna yang sudah mengepalkan tangannya.


"Lantas kenapa Mas Ivan mau bertunangan?"


"Karena Mama dan Papa yang meminta," enteng Ivan.


Hanna sadar sekarang ternyata Ivan memang bukan laki-laki baik, ia tega membohongi keluarganya dan juga keluarga Hanna.


"Lalu sekarang?" Hanna sudah mulai tidak tahan,


"Ya terserah kamu saja Hanna, kalau kamu mau kita lanjut, ya kita lanjut toh rencana pernikahan kita masih setahun lagi, dan kalau kamu mau mengakhirinya, ya silakan, kamu bisa katakan pada orang tua kita kalau tidak ada kecocokan di antara kita."


"Kamu gila Mas?" Hanna mulai menaikan suaranya "Aku akan mengatakan yang sebenarnya jika kamu memiliki wanita lain, atau juga pelakor."


Ivan kini malah menyeringai, Hanna bisa melihat jika Ivan yang saat ini ada di hadapannya bukanlah Ivan yang selama ini ia kenal. Ivan terlihat begitu menyeramkan.


"Hanna, Hanna, kamu jangan ngelawak pagi-pagi. Apa tadi kamu bilang, pelakor? Apa kamu gak salah, siapa yang pelakor sesungguhnya di sini?"


Tidak mungkin, hanya itu yang ada di benak Hanna. Ia diam mencerna apa yang di ucapkan Ivan.


"Jadi Kamu?" Tunjuk Hanna pada Ivan.


Ivan terlihat begitu lega, sementara Hanna ingin sekali menampar Ivan tapi kenapa ia begitu lemah.


"Dia kekasihku Hanna, kami sudah bersama selama lima tahun dan sudah dua tahun kami tinggal bersama."


Hanna hanya bisa menganga tak percaya dengan ucapan Ivan. Hanna berdiri dengan kesalnya.


Dengan ekspresi yang begitu menahan amarah ia memilih berpisah dengan Ivan, "Kita akhiri saja. Saya akan mengabari orang tua saya." Lantas Hanna pergi begitu saja tanpa perlu berpamitan pada Ivan.


Setelah meninggalkan Ivan, Hanna pulang ke rumah orang taunya, ia tidak mau menunda lagi, ia tidak mau orang tuanya terlalu berharap banyak pada Ivan.


Namun saat benar-benar di hadapan kedua orang tuanya, Hanna merasa tak tega jika sampai orang tuanya sedih, sekali lagi ia yakinkan dirinya.


Benar saja saat Hanna mengatakan jika pertunangannya dengan Ivan tidak bisa di lanjutkan lagi, kedua orang tuanya sontak terkejut. Mereka berusaha menyakinkan Hanna namun keputusan Hanna sudah bulat, ia tidak akan melanjutkan pertunangannya dengan Ivan.


Hanna terpaksa beralasan jika tidak ada kecocokan di antara keduanya. Ingin sekali Hanna mengatakan jika Ivan selingkuh, tapi bukankah yang harusnya lebih marah adalah kekasih Ivan. Itu yang selalu Hanna pikirkan.


Hanna hanya menginap dua malam di rumahnya dan dalam dua malam itu pula kedua keluarga saling bertemu.


Tidak ada yang berusaha membela Hanna, malah keluarga Ivan mengira Hanna sudah mengenal pria lain. Hanna mengatakan jika dirinya tidak seperti itu, hanya mereka tidak cocok.


Kini Hanna sudah dalam perjalanan kembali ke ibukota dengan segala kekecewaan orang tuanya serta mereka khawatir jika Hanna tidak ada yang menjaga di sana.


Setelah ia yakinkan ke dua orang tuanya, barulah mereka membiarkan Hanna kembali ke ibu kota untuk bekerja di sana.


🌻


Rama terlihat aneh, ia yang biasanya selalu mencari cara agar Hanna ingin segera pulang, kini malah bergitu mengikuti apa yang Hanna ajarkan.


Namun sesekali Rama lirik jari manis Hanna yang sudah tidak memakai cincin lagi, tanpa Hanna sadari Rama tersenyum simpul.


Rama tidak mau bertanya apapun pada Hanna, ia tidak ingin Hanna kembali mengingat kesedihannya.


Mboh Nah tiba-tiba datang dengan membawa minuman dan makanan ringan untuk mereka.


"Oh ya Den, tadi nyonya telefon, katanya Den Rama di minta untuk nganter bubur ke apartemen Den Bian karena Nona Dhira sedang sakit dan Den Bian tidak bisa buat bubur."


Mendengar nama kakaknya membuat mood Rama kembali jelek. "Suruh supir aja yang nganter Mbok." Dinginnya.


Mbok Nah sebenarnya sudah tau jika Rama tidak akan pernah mau ke apartemen Kakaknya apa lagi untuk mengantar bubur.


"Kenapa gak di ambil sendiri. Dasar manja!" umpat Rama dalam Hati.


Mbok Nah sudah akan pergi dari sana namun langkahnya terhenti saat mendengar Hanna bicara, "Biar saya yang antar Mbok, sekalian pulang. Nanti Mbok Nah kasih tau alamatnya ya."


Bukan Mbok Nah tidak bisa mengantar kesana, sampai harus Hanna yang mengantar, namun maksud Nyonya besarnya adalah agar Rama bisa lebih dekat dengan sang Kakak.


Rama sudah terlihat emosi mendengar ucapan Hanna, memang siapa dia sampai-sampai harus ikut campur urusan keluarganya. Mbok Nah bisa melihat itu, lantas ia menolak maksud baik Hanna.


"Maaf Bu Hanna, bukan tidak mau menerima niat Bu Hanna. Biar nanti di antar supir saja."


"Gak pa-pa Mbok Nah, sebentar lagi saya pulang kok." Hanna bersikeras.


"Makasih Bu Hanna, tapi biar supir saja yang antar." Mbok Nah jadi merasa bersalah kenapa ia tadi menyampaikan pesan Nyonya besarnya saat ada Hanna.


"Kan saya sejalan," Hanna begitu percaya diri mengatakan kalau sejalan padahal ia belum tau dimana tempat tinggal Kakaknya Rama.


Rama yang melihat keduanya masih berdebat perkara mangantar bubur membuatnya tidak tahan.


"Siapkan buburnya biar dia yang ngantar." Ucap Rama yang akhirnya mengahiri perdebatan keduanya.


Setelah mengakhiri kegiatan mengajarnya kini Hanna sudah bersiap untuk pulang namun ia harus mengantar bubur ke apartemen Kakaknya Rama.


Sebenarnya Hanna bukan tipe orang yang sok kenal sok dekat cuma tadi saat Mbok Nah bilang nama seorang wanita di sebut yang pastinya istri dari Kakak Rama dan sedang sakit jadi ia ingin membantunya.


Mbok Nah dengan berat hati menyerahkan termos sup pada Hanna yang berisi bubur.


"Maaf ya Bu Hanna jadi merepotkan?" Ucap Mbok Nah yang merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa Mbok." sahut Hanna sembari mengambil termos sup dari tangan Mbok Nah. Dan tak lupa Mbok Nah serahkan secari kertas kecil bertuliskan alamat serta nomor telefon Kakak Rama.


Hanna berpamitan pada Mbok Nah, sementara Rama sudah tidak terlihat lagi setelah Hanna mengakhiri pembelajaran.


Hanna merasa dirinya begitu bodoh saat ia membaca alamat Kakak Rama yang ternyata cukum jauh dari kostnya, bukan sejalan lagi malah ini melewati tempat kostnya.


Tapi niatnya yang tulus tidak membuat Hanna merasa keberatan, ia berjalan keluar dari rumah Rama, memberi salam pada pak satpam yang lantas membukakan gerbang.


Baru melangkah keluar gerbang, Hanna sudah mendengar motor Rama yang juga berjalan akan keluar, namun berhenti tepat di samping Hanna.


"Ini." Rama menyerahkan helm pada Hanna.Sementara Hanna hanya bengong dan tidak mengerti maksud Rama.


"Pake helmya, gue antar lo. Buruan."


Hanna meraih helm dari tangan Rama lantas memakainya, kemudian ia naik ke atas motor Rama.


"Pegangan. Gak lucu kalau nyampek sana buburnya udah dingin."


Dengan sangat terpaksa Hanna melingkarkan satu tangannya di pinggang Rama.


Rama menyeringai dari balik helm full facenya lantas ia lajukan motornya dengan kecepatan sedang. Saat jalanan lengah, Rama tarik gasnya dan membuat Hanna mengeratkan pegangannya. Rama hanya bisa tersenyum yang tanpa di sadari Hanna.


Tak butuh waktu lama mereka sudah tiba di apartemen Kakak Rama, Abian. Setelah sampai di unit tempat Kakaknya tinggal, Rama tekan bel dan ia mendengar suara Kakaknya dari dalam.


Pintu terbuka, ada sosok yang begitu gagah di depannya, Hanna melongo menatap Kakak Rama. Beruntungnya yang menjadi istri dia. Seolah itu yang terucap dari ekspresi Hanna.


"Buruan lo kasih." tegas Rama


"Oh iya," Hanna segera tersadar lantas ia berikan termos sup pada sosok di hadapannya. "Ini."


Kakak Rama terlihat heran dengan adiknya, karena selama ini yang ia tau adiknya memang nakal tapi ini pertama kalinya ia melihat sang adik bersama seorang wanita.


"Mari silahkan masuk." Ramah Abian pada Hanna.


"Gak perlu, kita mau langsung balik." Ketus Rama yang lantas menarik tangan Hanna pergi dari sana.


Sesampainya di lobi apartemen, Hanna hempaskan tangan Rama kuat. "Kamu itu kenapa sih, bukankah seharusnya masuk dan jenguk kakak ipar kamu."


"Gue gak mau ribut di sini Hanna! Kita pulang sekarang!"


Hanna sudah melingkarkan tangannya di pinggang Rama karena Rama begitu kencang membawa motornya. Rama merasa marah saat ia sadari Hanna terpukau melihat kakaknya. Kembali Rama tarik gas motornya dengan kencang.


...****...


...Jangan lupa vote, like dan komen ya....


...Maaf jika ada typo 🙏...