Hanna Rama

Hanna Rama
Dua Enam



🌻🌻🌻


"Pasti bahagia ya jadi Bu Hanna, tiap pagi ada yang kasih bunga. Pak Feri kalah cepet."


Salah seorang guru sedang bicara sendiri sembari menerima buket bunga dari kurir yang di tujukan pada Hanna.


Hampir setiap pagi Hanna menerima kiriman bunga, rekan guru wanita di buat iri olehnya. Sementara Feri merasa kecolongan, ia sudah berusaha melakukan pendekatan pada Hanna tapi ada seseorang yang entah siapa yang sudah mengirimi Hanna bunga.


Feri menarap sinis pada bunga yang baru saja di letakan di atas meja Hanna oleh guru yang tadi menerimanya.


Feri begitu penasaran siapa yang mengirimi Hanna bunga, tidak ada kartu ucapan di sana bahkan Feri sempat bertanya pada kurir pengantar bunga namun sang kuris juga tidak tau. Tidak sampai di situ saja Feri bahkan menghubungi toko bunga tersebut, sayangnya sang pemilik toko juga tidak tau lantaran yang memesan lewat telefon dan selalu mentrasfer uangnya.


Feri sempat bertanya pada Hanna dan Hanna yang tidak tau siapa pengirimnya lantas Feri meminta Hanna lebih berhati-hati, lantaran takun ada orang yang sedang iseng pada Hanna.


"Bu Hanna ada kiriman lagi." Baru saja Hanna memasuki ruang guru, salah satu guru sudah memberitahunya.


Hanna membalas dengan senyuman lantas berjalan ke arah mejanya yang sudah ada buket bunga di atas mejanya. Sebelum menarik kursinya, Hanna menyapa Feri terlebih dulu.


Siapa wanita yang tidak suka mendapat sebuah buket bunga, apa lagi hampir setiap hari mendapatkan buket bunga. Hanna pun demikian meski tidak tau siapa yang mengirimnya namun ia merasa senang.


Hanna pegang buket bunganya dengan senyum yang mengembang, semua itu tak luput dari pandangan Feri yang ada di sebelahnya. Hanna cium aroma bunga yang begitu harum. Masih dengan senyum yang begitu bahagia tanpa sengaja pandangan Hanna mengarah pada jendela. Rama tengah berdiri disana dengan senyum tak kala mengembang.


Deg,,


Kini Hanna tau siapa yang selama ini mengiriminya buket bunga. Hanna menatap Rama dengan ekspresi tak percaya, namun hati Hanna seketika berdebar.


Setelah hari itu Hanna selalu menghidari tatapan Rama, entah kenapa ia merasa malu dan lagi ia tidak bisa menahanan debaran jantungnya.


Berbeda dengan Rama yang merasa jika Hanna sudah bisa menerima keberadaannya kali ini. Rama mungkin bisa menjalin hubungan dengan Hanna jika ia memaksa Hanna, namun bukan itu yang Rama inginkan, ia ingin Hanna bisa menerima cintanya karena memiliki perasaan yang sama. Jadi seperti inilah cara Rama mengambil hati Hanna.


🌻


Di tengah lapangan basket tengah terjadi pertandingan antara senior dan junior dimana anggota tim basket yang yang sudah duduk di bangku kelas XII melawan adik kelasnya. Memang kejadian langka karena Rama dan Raka ada dalam lapangan tersebut.


Beberapa dewan guru juga menyaksikan pertandingan tersebut salah satunya Hanna yang duduk bersama guru-guru lain, berbaur bersama siswa-siswi di sana.


Meski tim senior hanya kelas XII namun ternyata pendukung mereka lebih banyak siswi dari kelas bawah. Sorak-sorai penonton begitu ramai di bangku penonton, pertandingan ini yang selalu di tunggu oleh para siswa-siswi di tahun akhir sekolah SMA.


Tanpa Hanna sadari ia tersenyum saat Rama tanpa sengaja menoleh dan mengetahui jika Hanna tengah menontonya, seolah menjadikanya sebuah semangat.


Bola sudah di lempar kedua tim mulai berlari, di sertai riuh suara penonton.


Hanna yang tengah fokus monton tiba-tiba terusik dengan siswi yang duduk di sampingnya, mereka sedang asyik memebicarakan Rama dan Raka.


"*Gue berharap Rama dan Raka gak sampai berantem."


"Iya, kalau liat mereka akur kayak gitu kan enak."


"Gue jadi penasaran kenapa mereka selalu berantem?"


"Yang gue denger sih mereka rebutan cewek pas mereka berantem yang terakhir kemaren*."


Deg...


Hanna merasa ada sesuatu yang seakan menusuk dadanya, ia baru tau jika selama ini Rama menyukai seseorang.


"*Sok tau lo?"


"Serius, itu ceweknya yang di depan bawa air mineral."


"Dia pasti punya kelebihan ya sampai di rebutin Rama dan Raka. Terus dia di sana suport siapa?"


"Gue juga gak tau*."


Jadi waktu itu Rama berkelahi karena wanita, lantas kenapa ia mengirim buket bunga hampir setiap hari padanya. Seketika Hanna bergelut dengan pikirannya sendiri bahkan ia tidak menyadari jika Rama berhasil memasukan bola ke dalam ring dan melambai padanya.


Tidak ingin semakin tidak fokus dengan apa yang ia tonton, Hanna memilih meninggalkan bangku penonton.


"Mau kemana Bu Hanna?" tanya Feri


"Saya mau ke toilet." Jawab Hanna singkat lantas pergi dari sana.


Kepergian Hanna tak luput dari pandangan Rama yang merasa ada sesuatu yang terjadi pada Hanna.


Rama meminta pergantian pemain, setelah ada yang mengantikanya, ia segera berlari keluar lapangan mencari keberadaan Hanna.


Rama begitu khawatir ada sesuatu yang terjadi pada Hanna, ia menyusuri lorong mencari Hanna. Ia ingin menghubungi Hanna namun ia lupa jika ponselnya ada dalam tasnya.


Rama berlari kesana-kemari hingga ia melihat sosok yang ia cari baru saja keluar dari toilet. Rama berlari menghampiri Hanna, Rama raih tangan Hanna.


Hanna terkejut dan berbalik saat merasa ada yang memegang pergelangan tanganya.


"Rama."


"Kamu kenapa?" Rama terlihat khawatir.


"Rama lepas nanti kalau ada yang lihat mereka bisa salah paham." pinta Hanna.


"Gak, sebelum kamu jawab." tegas Rama.


Kekhawatiran Hanna akan segera terjadi saat ia mendengar suara siswi tengah bicara tak jauh dari sana dan ia mendengar jika mereka tengah menyapa Feri.


Tidak ingin ada yang melihat mereka, Hanna menarik Rama pergi dari sana bersembunyi di salah satu ruangan penyimpanan alat kebersihan di samping ruang toilet.


Hanna memberi kode agar Rama diam dan tidak bersuara karena suara langkah kaki yang mendekat. Diruangan yang cukup sempit dengan beberapa alat kebersihan yang bertumpuk disana membuat keduanya harus menerima kenyataan dimana mereka berdiri berhadapan dengan Rama yang menjulang tinggi.


Rama hanya bisa memejamkan matanya menyadari posisi mereka sementara Hanna entah tidak peduli atau memang ia tidak menyadari karena begitu fokus mendengar langkah kaki di luar.


"Kalian tunggu di sini bentar ya, gue mau ke toilet dulu."


Kenapa mereka tidak segera pergi sih? Batin Hanna.


Hanna mulai menyadari jika tangannya masih memegang tangan Rama, Hanna segera melepasnya namun yang ia dapati saat mendongak adalah Rama yang tengah menatapnya.


Diruangan yang cukup sempit itu mungkin keduanya bisa mendengar suara detak jatung mereka.


Hanna masih sadar dan ingat apa yang mendasarinya meninggalkan bangku penonton jadi ia segera mamalingkan wajahnya yang dapat Rama lihat jika Hanna tengah kesal.


"*Masak ia sih mereka berantem rebutin cewek, gue masih gak percaya."


"Satu sekolah sudah tau keles kalau Rama sama Raka lagi rebutin cewek. Lo gak liat sih mereka di lapangan basket waktu itu*."


Rama kesal mendengar dirinya tengan di bicarakan, apa lagi dengan sesuatu yang tidak masuk akal.


Ingin rasanya ia keluar dari sana dan memberi pelajaran pada siswi yang bergosip tentangnya. Hanna segera mencegah itu, kalau Rama sampai keluar makan mereka yang ada di luar akan semakin berfikir yang tidak-tidak.


"*Terus ceweknya milih siapa?"


"Yang gue tau sih ceweknya dari awal suka Raka namun Rama masih berusaha ngejar itu cewek*."


Omongan siswi diluar semakin tidak masuk akal, Rama berusaha menahan amarahnya meski tangannya terkepal dengan kuat. Ia mecoba menatap Hanna, ia bisa melihat wajah kecewa Hanna.


Rama meraih dagu Hanna, memutar kepala Hanna agar nektar keduanya bertemu. Rama tatap Hanna dengan begitu lekatnya.


"Udah jangan gosip, yuk kita cari makan."


Tidak lagi terdengar suara siswi dan juga langkah kaki, mereka benar-benar menjauh dari sana. Seharusnya Hanna merasa lega namun nyatanya mereka masih diam saling menatap.


"Kamu percaya dengan apa yang kamu dengar tadi?" tanya Rama.


Ingin sekali Hanna mengatakan tidak percaya namun seluruh sekolah tau, dan ia juga tidak ingin merasa terluka jadi Hanna memilih menganggung meski dengan keraguan.


Rama menghela nafas tak percaya akan jawaban Hanna. Hanna akan pergi dari sana namun kini dihalangi tangan Rama yang tiba-tiba mengurungnya.


"Lantas apa gunanya aku tiap pagi ngirim bunga ke kamu, Hanna."


Iya juga, jika Rama menyukai orang lain, untuk apa ia mengirim buket bunga setiap hari padanya.


"Tapi makasih ya," Ucap Rama yang lantas membuat Hanna mengernyit bingung.


"Terimakasih untuk apa?"


"Karena kamu yang marah saat dengar aku dekat dengan wanita lain." dengan senyum menggoda Rama berucap.


Hanna membelalak mendengar ucapan Rama, "Siapa yang marah kamu dekat dengan siapa?" Hanna merasa kesal dengan ucapan Rama yang seolah tau akan apa yang ia rasakan. "Itu hak kamu dan itu urusan kamu. Saya tidak marah akan hal itu, silakan kamu dekat dengan wanita lain, tidak ada sangkut pautnya juga dengan saya."


Bukannya kesal, Rama malah tersenyum dengan pengelakan Hanna yang seolah menginyakan jika ia memendam amarah.


"Apa satu buket bunga setiap pagi masih kurang?" goda Rama "Haruskah aku kirim saat jam istirahat dan jam pulang sekolah juga?"


Hanna mendengus tak percaya dengan sikap Rama yang kini malah menggodanya.


Rama memilih membiarkan Hanna pergi dari sana, ia juga ikut keluar dari ruangan kecil itu. Rama masih tersenyum melihat Hanna berjalan menjauh tanpa menoleh padanya.


"Hanna." panggil Rama.


Hanna berhenti lalu menoleh pada Rama. "Aku udah gak merokok di sekolah." Lanjut Rama dengan tersenyum.


Setelah mendengar ucapan Rama, Hanna memilih tidak menanggapi dan berbalik melanjutkan langkahnya.


Tanpa Rama ketahui Hanna tersenyum sembari berjalan menjauh.


...****...


...Jangan lupa vote, like dan komen....


...Maaf kalau ada typo 🙏...