Hanna Rama

Hanna Rama
Tujuh Belas



Apakabar semuanya? Maaf baru bisa up sekarang karena kemaren-kemaren ada banyak hal yang tak terduga, jadi benar-benar tidak bisa menulis. Terimakasih pada kalian semua yang sudah mau menunggu 🙏


🌻🌻🌻


Tidak ada percakapan sama sekali di perjalanan menuju kost Hanna bahkan setelah Hanna turun dari motor, Rama pergi begitu saja meninggalkan helm yang masih bertengger di kepala Hanna.


Hanna hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Rama, ia tidak menyangka jika hubungan Rama dan kakaknya begitu buruk, hanya bertemu sebentar saja sudah membuat Rama marah.


Hanna melangkah masuk kedalam kamar kostnya, ia memilih segera beristirahat karena ia merasa begitu lelah dan ia ingin segera membuka lembara baru kali ini ia sudah bertekat tidak akan berfikir untuk menikah terlebih dulu, ia ingin serius bekerja.


Hanna berharap segera mendapat panggilan kerja jadi ia bisa berhenti menjadi guru les Rama yang sepertinya Hanna sudah tidak sanggup lagi meladeni sikap Rama yang masih belum berubah.


Sementara itu Rama yang masih merasa kesal lantaran Hanna begitu terpukau pada sang kakak membuatnya tidak kembali ke rumah melainkan ke apartemen.


Rama sudah mengambil satu botol minuman beralkohol, baru akan ia buka tutupnya namun ia urungkan lantas ia letakan kembali.


Rama mengeram kesal, jika besok tidak harus sekolah mungkin ia sudah menenggak habis minuman beralkohol itu namun ia masih ingat jika besok masih harus memenuhi kewajibannya.


Rama memilih berjalan memasuki kamarnya, lebih baik ia beristirahat saja tapi saat memasuki kamarnya, tatapannya segera teralihkan dengan paper bag yang ada di atas meja di sudut kamarnya.


Bukan malah melupakan Hanna tapi semakin mengingat Hanna, bagaimana tidak paper bag yang berisi hodie yang pernah Hanna pakai itu ada di sana. Seharusnya saat itu Hanna mau membuangnya bukan meninggalkannya begitu saja di rumah Rama.


Rama yang saat itu ingin membuangnya entah kenapa malah membawanya ke apartemen dan ia letakan begitu saja di atas meja di kamarnya.


Rama memilih mengambil bantal dan selimut lantas tidur di sofa, itu jauh lebih baik jadi ia bisa sedikit melupakan kekesalannya.


🌻


Biasanya Rama yang begitu senang tidak ada jadwal les entah kenapa ia malah merasa tidak begitu bersemangat bahkan Mario merasa heran dengan Rama yang terlihat tidak senang.


"Lo biasanya semangat kalau gak ada jadwal les? Kenapa malah lempeng gue ajak nongkrong?" Tanya Mario heran dengan Rama.


Mereka masih di dalam kelas dengan Rama yang memilih meletakan kepalanya di atas meja sebagai kebiasaanya.


Mario yang duduk di bangku sebelah Rama mulai merasa kesal dengan Rama yang hanya diam saja.


Sampai jam pulang sekolah Rama masih terlihat tidak bersemangat, ia bahkan tidak banyak bicara dengan Mario dan pulang begitu saja.


Setelah sampai dirumah, Rama semakin merasa ada yang kurang, memasuki rumah ia melihat tempat biasa ia belajar bersama Hanna yang kosong. Sebelum Mbok Nah menyadarinya sedang melamun di sana, Rama segera menaiki tangga menuju kamarnya.


Rama benar-benar merasa bosan, namun ia enggan untuk bermain bersama Mario, sudah dua jam lamanya ia hanya berdiam diri di kamarnya, bermain game yang semakin lama semakin membosankan.


Muncul ide dari otak Rama yang tidak banyak berfikir, ia ambil telefon genggamnya yang terletak di atas meja belajar lantas ia mencoba mencari kontak seseorang di sana.


Hanna


Rama mencoba menghubungi Hanna, panggilan pertama tidak ada jawaban dari seberang sana.


Percobaan kedua cukup lama Rama menunggu hingga akhirnya ia mendengan seseorang di seberang sana sedang bicara.


Hanna


"Hallo,,"


Rama


"Lo dimana?"


Tidak ada sahutan dari seberang sana, Rama mencoba melihat panggilannya namun masih terhubung, tapi ia tidak mendengar suara Hanna.


Rama


"Lo denger gue kan?"


Hanna


"Ada perlu apa ya, kamu telefon saya? Bukankah hari ini tidak ada les?"


Rama


"Lo ada dimana? Tinggal jawab juga."


Terdengar desuhan dari seberang telefon, kalau belum mendapat jawaban pasti Rama akan terus bertanya padanya.


Hanna


"Saya sendang belanja di supermarket dekat tempat kost, memangnya kenapa?"


Rama


"Gue kesana. Lo tunggu gue."


Belum mendapat persetujuan dari Hanna panggilan sudah berakhir begitu saja. Rama segera meraih jaket serta kunci motornya, berlari menuruni tangga. Saat hendak membuka pintu, ia baru ingat jika Hanna tengah berbelanja di supermarket tidak mungkin jika ia membiarkan Hanna membawa banyak belanjaan di atas motor.


Rama berbalik mengambil kuncil mobil yang terletak di laci meja di dekat tangga, setelah ia mendapatkan kunci mobil yang ia inginkan, segera ia berlari menuju garasi rumahnya.


"Kenapa gue tersenyum?" Rama bicara sendiri kala menyadari dirinya tersenyum begitu saja. Namun hanya sebentar ia hilangkan senyumnya dan kini kembali ia tersenyum di sertai dengan suara alunan musik yang baru saja ia putar.


Hanna sebenarnya tidak berniat belanja kebutuhan, ia hanya merasa bosan di dalam kamar kost tanpa ada yang bisa ia kerjakan, jadinya ia memilih mencari makanan ringan di supermarket yang kata Dinar kalau di supermarket tersebut tengah banyak diskon.


Hanna tidak memenuhi trolinya, ia hanya mengambil bahan kebutuan yang memang sedang ia butuhkan dan juga kebetulan sedang ada diskon.


Tanpa Hanna sadari ternyata dirinya tengah menunggu Rama, terbukti jika Hanna hanya berputar pada satu rak saja dan sesekali melihat ke arah pintu masuk yang mungkin ada Rama di sana. Sudah sepuluh menit sejak telefon dimatikan secara sepihak oleh Rama namun belum terlihat kemunculan Rama.


Hanna kembali mendorong terolinya memutari beberapa rak di sana, melihat-lihat diskon yang di berikan.


Langkah Hanna terhenti saat ada sebuat tangan menahan trolinya, dengan cepat Hanna menoleh dan mendapati sosok Rama tengah berdiri di sampingnya sembari menyunggingkan senyum.


Hanna mengalihkan pandangannya setelah beberapa detik dua nektar insan manusia itu saling bertemu. Hanna merasa getaran aneh pada dadanya, seharusnya itu tidak terjadi namun ia tidak bisa mengelak apa lagi Rama yang terlihat dewasa malam ini.


"Kenapa diem?" Tanya Rama yang lantas membuyarkan segala perdebatan di kepala Hanna sirna.


Hanna kembali menoleh pada Rama, "Gak apa-apa." Lantas Hanna dorong trolinya begitu juga Rama membantu Hanna mendorong troli yang sangat tidak berat.


"Lo belanja ini aja?" Tanya Rama yang melihat isi troli Hanna hanya sedikit.


"Iya, memangnya kenapa kalau saya cuma belanja sedikit?" Kini malah Hanna yang balik bertanya pada Rama.


Rama menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali saat Hanna masih menggunakan bahasa formal di tempat umum.


Rama mendekat pada Hanna, ia berbisik di telinga Hanna, "Lo bisa gak sih gak bicara formal di tempat umum."


Hanna merasa begitu aneh saat Rama berbisik di telinganya, tidak seperti Dinar berbisik padanya. Kembali Hanna merasa gelenyar aneh pada dirinya namun ia tetap berusaha bersikap biasa.


"Bagaimanapun saya guru kamu Rama jadi ya seperti itu seharusnya bersikap dimanapun." Tegas Hanna.


Rama merasa begitu risih jika di tempat umum harus begitu formal, " Tapi ini di depan umum Hanna."


Kini Hanna hentikan langkahnya dan menatap Rama nyalang. "Jaga ucapanmu Rama, saya gurumu."


Rama bukan takut tapi malah tersenyum simpul, "Lo tau gak, mereka disini gak ada yang tau status kita yang guru dan murid. Mungkin mereka mengira kita pengantin baru." Goda Rama.


Seketika pipi Hanna merona namun ia merasa begitu kesal dengan ucapan Rama, dengan cepat Hanna cubit perut Rama kuat.


"Au..." Aduh Rama yang lantas Hanna tinggalkan dan tersenyum puas.


Memang mereka terlihat seperti pengantin baru, saat Hanna ingin membayar ke kasir, Rama menghalanginya ia kembali membawa troli menyusuri rak-rak di supermarket.


"Rama." Panggil Hanna yang lantas menyamakan langkahnya dengan Rama. "Memangnya kamu mau beli sesuatu?"


"Gak." Jawab Rama yang membuat Hanna mengernyit.


"Kalau gak ada yang di beli, ya biar saya bayar Rama, ngapain masih berputar-putar di sini?"


Mungkin Hanna tidak peka dan Rama buka tipe laki-laki yang bisa dengan mudah bicara pada wanita, ia sebenarnya ingin lebih lama bersama Hanna meski tadi mereka masih berdepat masalah diskon lebih banyak yang mana, benar-benar seperti pasangan pengantin baru.


Hanna tidak mau di permainkan kembali oleh Rama, jadi ia rebut trolinya dari Rama lantas ia dorong sendiri. Rama hanya bisa tersenyum melihat tingkah Hanna.


Setelah Hanna membayar belanjaannya, Rama dengan sigap membawa tiga kantung belanja Hanna yang hanya berisi makanan ringan.


Setelah keluar dari supermarket, Rama meminta Hanna menunggunya sebentar untuk mengambil mobil yang terparkir.


Sebenarnya Hanna menolak, ia bisa pulang sendiri namun Rama bersikeras untuk mengantarnya karena ia sudah terlanjur jauh-jauh datang kesini.


Rama turun dari mobil, membuka pintu belakang memasukan belanjaan Hanna dan lantas membukakan pintu untuk Hanna di samping kemudi.


"Cepet juga ya move on-nya." ada suara yang sangat tidak asing di telinga Hanna.


Hanna menoleh pada sumber suara begitu juga Rama yang sudah menatap tak suka dengan seseorang yang berdiri tak jauh di depan pintu supermarket. Dia adalah Ivan yang berdiri dengan membawa kantung belanja


"Jadi kamu sudah dapat yang kaya?" Kembali Ivan mencoba memprovokasi Hanna namun Hanna masih diam tak bergeming.


Tapi tidak dengan Rama yang sudah melangkang mendekati Ivan. Dengan cepat Hanna mencoba menahan Rama, ia pegang lengan Rama agar tidak sampai terjadi hal yang tidak ia inginkan.


"Jaga mulut lo ya brengsek!" Marah Rama "Kalau dia bisa dapat yang lebih segalanya dari lo itu sudah sewajarnya, karena dia wanita yang pantas mendapatkannya dan tidak untuk cowok sebrengsek lo!"


Ivan merasa terusik dengan ucapan Rama, saat ia ingin membalas ucapan Rama tiba-tiba seorang wanita menghampiri Ivan yang lantas merangkul lengan Ivan manja.


"Siapa dia sayang? Kamu kenal mereka?" tanya sang wanita.


Ivan terlihat khawatir, Rama sudah akan mengatakan siapa mereka namun Hanna menarik tangan Rama, ia tidak ingin urusanya semakin runyam. Hanna berusaha menarik Rama menjauh dari mereka, syukurlah Rama mengikuti ke inginan Hanna.


Keduanya kini telah berada di dalam mobil, dengan Rama yang begitu fokus pada kemudi dan Hanna hanya diam menunduk, entah apa yang ia pikirkan.


......****......


...Jangan lupa vote, like dan komen ya....


...Maaf kalau ada typo🙏...