
🌻🌻🌻
Rama yang tadinya ingin minta maaf segera ia urungkan saat tau siapa orang yang sudah ia ciprati air. Bahkan Rama terlihat heran melihat penampilan Hanna yang memakai pakain rumahan, Hanna terlihat seperti anak seusianya.
"Beruntung banget ya orang yang kena cipratan air itu lo?" ejek Rama
"Apa kamu bilang, beruntung?" Kesal Hanna
"Iya, jadi gue gak perlu minta maaf."
Kenapa Hanna harus bertemu dengan Rama disini padahal jalan ini tergolong jalanan yang sepi.
"Lo mau kemana?"
Hanna yang kesal memilih tidak meladeni Rama, ia berjalan menjauhi Rama. Bukannya pergi, Rama malam mengikuti Hanna dengan motornya. Hanna tidak ingin menimbulkan keributan jadi ia biarkan saja Rama mengikutinya. Hanna berhenti di depan gerbang bertuliskan kost putri lantas membukanya. Rama ikut berhenti tapi ia memeilih tetap di berada di atas motornya.
"Gue gak di suruh masuk nih?" ucap Rama yang melihat Hanna sudah akan menutup gerbang.
"Tidak, terimakasih." ucap Hanna yang langsung menutup pintu gerbang.
Rama tersenyum melihat tingkah Hanna lantas ia pergi dari sana. 'Jadi di sini tempat lo tinggal' Batin Rama.
🌻🌻🌻
Kali ini Hanna memilih menaiki taksi, ia tidak ingin di permalukan kembali oleh Rama dengan panasnya angkot. Hanna memilih menghemat untuk makan agar bisa naik taksi. Bahkan semalam saat Dinar mengajaknya mecari jajanan di sekitar kost, Hanna menolak. Sebulan ini ia harus bersabar dengan kondisi keuangannya.
Taksi berhenti tepat di depan rumah Rama, setelah membayar Hanna turun dari taksi, meyapa ramah pada satpam di sana.
Kali ini Hanna tiba lebih dulu, jadi ia harus menunggu Rama di tempat biasa, merasa bosan hanya duduk saja di sana, Hanna memilih bermain air kolam renang, ia pakai kakinya untuk bermain air.
"Enak banget ya jadi orang kaya, mau berenang kapan aja bisa gak harus nunggu musim liburan." gumam Hanna sembari mengingat masa kecilnya dulu jika ingin berenang ia harus menunggu libur sekolah dulu, barulah orang tuanya akan mengajak Hanna ke pemandian yang pastinya begitu ramai.
"Kenapa gak nyemplung aja?"
Hanna dikejutkan dengan kehadiran Rama yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Mari kita belajar." ajak Hanna, yang sudah berjalan kembali ke kursinya yang di susul Rama duduk di hadapannya.
"Kali ini saya kasih kamu tugas, jadi kamu kerjakan nanti kalau ada yang sulit baru saja jelaskan karena soal-soal yang saya buat sesuai dengan apa yang sudah kita pelajari sebelumnya." jelas Hanna, sembari memberikan beberapa lembar ketas soal pada Rama.
Rama yang merasa paham dengan penjelasan Hanna hanya manggut-manggut. Ia mencoba membaca satu persatu soal yang Hanna berikan lantas menjawabnya. Hanna perhatikan Rama yang terlihat sungguh-sungguh dalam mengerjakan soal, artinya ia sudah mulai bisa mengatasi Rama, ada kelegaan dalam diri Hanna meski kemaren di buat kesal oleh Rama.
Setelah cukup lama Rama menjawab soal yang Hanna berikan kini Rama menyerahkan kembali dengam semua soal yang sudah terjawab semua. Hanna sedikit heran lantaran tidak ada yang Rama tanyakan padanya, Hanna jadi curiga, Rama yang asal menjawab apa Rama begitu cepat memahami materi yang di ajarkannya.
Hanna koreksi satu persatu sementara Rama memilih bermain game dengan ponselnya. "Gue yakin lo mikir, kenapa Rama bisa dengan mudah menjawab semua soal dengan mudah." tebak Rama yang memang seperti itu adanya.
"Jangan asal bicara kamu Rama." tegas Hanna.
Rama memberi senyum remeh, "Mimik wajah lo gak bisa bohong Hanna." ejeknya.
Memang tidak semua soal benar tapi Hanna tidak percaya jika Rama sudah ada kemajuan artinya ia mulai berhasil mendidik Rama.
"Mana ponsel lo," ucap Rama saat Hanna sudah merapikan buku-bukunya.
Hanna mengeryitkan dahi. "Ponsel lo Hanna!" tegas Rama penuh penekanan.
"Buat?" Tanya Hanna penasaran
"Lo itu banyak nanya ya, udah buruan mana."
Hanna yang sebenarnya enggan malah memberikan ponselnya pada Rama, ia buka ponsel Hanna lantas ia menekan beberapa nomer disana lantas memanggilnya.
"Itu nomer gue, nomer lo udah gue simpen." Ucap Rama lantas menyodorkan kembali ponsel Hanna sayangnya bukan langsung Rama berikan malah ia tarik kembali ponsel Hanna.
"Rama kembalikan ponsel saya." ucap Hanna kesal.
"Gue lempar, lo tangkep ya?"
"Rama, jangan kurang ajar kamu ya, mana ponsel saya." kembali Hanna mencoba meraih ponselnya tapi gagal.
Hap... Rama lempar ponsel Hanna ke dalam kolam, Hanna dengan cepat agar ponselnya tidak jatuh ke dalam kolam renang tapi sayangnya ia malah tercebur ke dalam kolam renang.
Byuuurrr.... Hanna segera berenang ke tepi kolam dan berusaha kembali naik keluar kolam sebelumnya ia lihat Rama ternyata masih memegang ponselnya.
"Bukannya kamu ingin berenang." ucap Rama
Hanna keluar kolam renang dengan penuh amarah, ia menuju Rama dengan nafas yang sudah naik turun.
"Kamu semakin kurang ajar ya Rama, saya akan laporkan kelakuan kamu kepada orang tua kamu." Marah Hanna dan mengambil ponselnya dari tangan Rama.
Rama menelan ludahnya susah payah, ia harus sadar diri orang di depannya adalah guru les nya.
"Apa, baru mikir kamu sekarang betapa kurang ajarnya kamu." Hanna masih menggebu mendapati Rama yang diam dia hadapannya.
"Lo seksi." Ucap Rama spontan.
Hanna merasa bingung lantas ia menunduk dan semakin terkejut dengan bajunya yang menjadi transparan, refleks Hanna tutup dadanya dengan kedua tangannya. Rama pun menjadi mengalihkan pandangannya. Hanna segera berbalik, ia merutuki dirinya yang sudah begitu ceroboh tanpa melihat penampilannya malah menggebu di depan Rama.
"Mbok Nah, ambilkan jubah mandi dan handuk, cepetan." Teriak Rama.
"Baik Den." Mbok Nah menyaut dari dalam rumah.
Setelah berlari ke tuan mudanya Mbok Nah terlihat kaget dengan Hanna yang basah kuyup dan membelakanginya.
"Mana Mbok."
"Ini Den."
"Mbok Nah bisa kembali ke belakang." ucap Rama yang sudah mengambil dua benda yang ia minta.
Sepeninggal Mbok Nah yang masih dengan tanda tanya di pikirannya, Rama membuka bathrobe yang ada di tangannya lantas ia tutupi badan Hanna dari belakang.
"Ini handuknya."
Hanna menerimanya tanpa membalik badan, perlahan Hanna kaitkan tali bathrobenya agar tubuhnya tidak terlihat kemudian ia usap sisa air di wajahnya.
"Mama kemana Mbok?" Tanya Rama yang sekarang sedang di dapur menghampiri Mbok Nah.
"Nyonya baru saja keluar Den, mungkin ada arisan."
"Tolong siapakan minuman dan makanan hangat ya Mbok, antar ke dekat kolam."
"Baik Den."
Rama berajak dari dapur menuju kamarnya, ia mencari baju yang bisa Hanna kenakan, hoodie adalah pilihan yang tepat dengan celana training. Setelahnya Rama segera turun menuju teras samping, ia jadi merasa bersalah pada Hanna yang mungkin sudah kedinginan.
"Pakai ini." Rama menyodorkan dua bajunya pada Hanna.
"Tapi,," Ragu Hanna.
"Lo udah kedinginan Hanna. Buruan ganti baju."
Hanna pejamkan mata sejenak ia malu untuk mengucapkan keraguannya. "Tapi semuanya basah."
Rama kini menjadi bingung dengan apa yang Hanna ucapkan, "Maka dari itu, kalau basah buruan ganti yang kering Hanna."
Mbok Nah yang baru datang membawa makanan dan minuman panas mengerti situasi di sana, setelah ia meletakan makanan dan minuman barulah ia berbisik pada tuan mudanya.
Setelah mendengar bisikan Mbok Nah kini Rama yang merasa malu, ia bahkan tidak tau ada hal lain yang wanita butuhkan. Rama tarik nafas dalam lantas ia hembuskan.
"Lo~lo ganti baju aja," ucap Rama ragu sembari mengusap tengkuknya. "Ini baju gue over size kok, jadi bisa nutupin." Rama tidak bisa menjelaskan lagi, sepertinya Hanna mengerti, ia ambil baju Rama lantas menuju kamar mandi yang sudah Rama tunjukan tempatnya.
Setelah berganti baju, ia kembali ke teras samping rumah, Rama sudah di sana menunggunya.
Baju yang Hanna kenakan benar-benar over size, hoodie yang ia pakai saja sudah begitu panjang hampir sampai lutut, lengan panjangnya juga melebihi tangan Hanna.
Rama berdehem saat Hanna mendekat padanya. "Duduk dulu, minum dulu dan makan dulu." ucapan Rama menjadi aneh di dengar, bahkan ia tidak menyadari dengan ucapannya.
Hanna duduk lantas meminum coklat panas yang di buatkan Mbok Nah, badannya jadi terasa lebin hangat.
Setalah menghabiskan minumannya dan memakan makanan yang di siapkan Mbok Nah, Hanna berpamitan pulang pada Rama.
"Iya, hati-hati di jalan." Ucap Rama.
Hanna sudah akan keluar dari rumah Rama, baru membuka pintu, Hanna merasa ada yang menahan tanggannya. Ternyata Rama. "Gue antar lo balik." ucapnya.
...****...
Akhirnya up lagi, di sebelah juga mulai up lagi ya.
Boleh bergabung dengan saya di instagram @sasanadipa ya.
Mohon dukungan kalian, vote, like dan komen ya. Terimakasih yang selalu mendukung coretan saya.
Maaf kalau ada typo ya